Para Peneliti dari University of Zurich telah mensimulasikan
pembentukan seluruh alam semesta kita dengan sebuah super komputer. Katalog raksasa yang terdiri dari sekitar 25 miliar galaksi virtual telah dihasilkan dari 2
triliun partikel digital. Katalog digunakan untuk mengkalibrasi percobaan
pada panel lensa satelit Euclid yang akan diluncurkan pada tahun 2020 dengan
tujuan menyelidiki sifat materi gelap dan energi gelap. Euclid adalah misi antariksa yang digelar oleh Badan Antariksa Eropa (ESA), diambil dari nama seorang matematikawan Yunani kuno dan dikenal sebagai
Bapak Geometri.
Selama
periode tiga tahun, sekelompok astrofisikawan dari University of Zurich telah
mengembangkan dan mengoptimalkan kode revolusioner untuk menggambarkan dinamika materi gelap dan
pembentukan struktur berskala besar di alam semesta dengan sangat akurat.
Materi
gelap itu sendiri adalah partikel subatom yang tidak bisa diamati secara
langsung, terbentuk saat Big Bang dalam jumlah yang
tak terhitung. Materi gelap
merupakan kebalikan materi normal yang bisa diamati, seperti bintang, planet, bulan, asteroid, komet, awan gas, debu
dll. Walaupun tidak bisa diamati secara langsung, materi gelap dipercaya
bertanggung jawab atas keteraturan alam semesta atau menjadi perancah yang menyatukan alam semesta. Menyerupai lingkaran halo besar yang menyelimuti galaksi, eksistensi materi gelap dapat dibuktikan dari efek gravitasi benda-benda langit normal seperti pada bintang dan galaksi.
Sebagaimana dilaporkan oleh para peneliti, Joachim Stadel, Douglas Potter dan
Romain Teyssier dalam makalah studi yang baru diterbitkan, sebuah kode (disebut
PKDGRAV3) telah dirancang agar mampu menggunakan memori yang tersedia secara optimal dari kemampuan pemrosesan arsitektur modern super komputer, seperti super komputer
"Piz Daint" dari Swiss National Computing Center (CSCS).
Kode
PKDGRAV3 dieksekusi pada mesin tercanggih di dunia ini hanya selama 80
jam dan menghasilkan alam semesta virtual sebanyak dua triliun partikel makro yang mewakili cairan materi gelap dan dihasilkan dari ekstrak katalog 25 miliar galaksi virtual.
Mempelajari Komposisi Materi Gelap
Berkat
ketepatan perhitungan, para ilmuwan berhasil menampilkan aliran materi gelap yang
berkembang di bawah gravitasinya sendiri, termasuk simulasi pembentukan konsentrasi materi kecil yang disebut lingkaran halo materi gelap, mirip lingkaran halo bintang yang mengelilingi Galaksi Bima Sakti. Tantangan yang harus diselesaikan dari simulasi adalah memodelkan galaksi yang ukurannya sepersepuluh ukuran Bima Sakti dalam
volume yang setara dengan seluruh alam semesta teramati. Inilah persyaratan yang ditetapkan oleh misi Euclid Eropa, yang tujuan utamanya adalah
untuk mengeksplorasi sisi gelap alam semesta.
Mengukur Distorsi Halus
Memang, sekitar 95 persen alam semesta gelap gulita. Kosmos
terdiri dari 23 persen materi gelap dan 72 persen energi gelap. "Sifat
energi gelap tetap menjadi salah satu teka-teki utama yang belum terpecahkan
dalam sains modern," kata Romain Teyssier, profesor University of Zurich untuk komputasi astrofisika. Energi gelap
adalah penemuan terbesar dalam kosmologi, selain bertanggung jawab penuh atas
ekspansi alam semesta, energi gelap mendominasi komposisi utama alam semesta
sebesar 72%.
Teka-teki
yang hanya bisa dipecahkan melalui observasi tidak langsung: Jika satelit
Euclid menangkap cahaya dari miliaran galaksi di area langit yang luas, para
astronom akan mengukur distorsi sangat halus yang timbul dari
defleksi cahaya dari galaksi-galaksi latar belakang pada latar depan lensa, atau dengan kata lain distribusi tak terlihat massa materi gelap. "Hal itu sebanding
dengan distorsi cahaya oleh panel kaca yang agak tidak rata," kata ilmuwan Joachim
Stadel dari University of Zurich.
Mengoptimalkan Strategi
Pengamatan Satelit
Katalog
galaksi virtual baru ini akan membantu mengoptimalkan strategi pengamatan
satelit Euclid dalam setiap penelitiannya dan meminimalkan berbagai kesalahan,
sebelum satelit memulai misi pengumpulan data selama enam tahun pada tahun
2020.
"Euclid akan menampilkan peta tomografi alam semesta kita
dalam waktu lebih dari 10 miliar tahun evolusi kosmos" kata
Stadel. Metode ini diharapkan dapat menghasilkan gambar peta tiga dimensi alam
semesta. Dari data satelit Euclid, selain akan mendapatkan informasi baru
mengenai sifat energi gelap misterius ini, para peneliti juga berharap dapat
menemukan teori fisika baru di luar model standar, seperti versi modifikasi
relativitas umum atau jenis partikel baru.
![]() |
Satelit Euclid |
Komentar
Posting Komentar