Langsung ke konten utama

Astronom Temukan Air dan Awan Aneh pada Eksoplanet "Neptunus Hangat"


eksoplanet-neptunus-hangat-hat-p-26b
Pengamatan oleh teleskop antariksa Hubble dan Spitzer NASA menunjukkan atmosfer dari "Neptunus hangat" yang diberi kode HAT-P-26b, digambarkan sebagai atmosfer purba. Kredit: NASA, GSFC

Para astronom telah melihat uap air dan bukti awan eksotis di atmosfer planet asing yang diberi kode HAT-P-26b. Mereka menentukan atmosfer HAT-P-26b didominasi oleh hidrogen dan helium dengan tingkat yang jauh lebih besar daripada Neptunus atau Uranus, kedua planet terjauh tata surya yang sebanding dalam hal massa.

"Penemuan baru ini menunjukkan lebih banyak keragaman di atmosfer eksoplanet daripada yang kita duga sebelumnya," David Sing, seorang profesor astrofisika dari University of Exeter di Inggris, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"Neptunus hangat ini adalah planet yang ukurannya jauh lebih kecil daripada yang bisa kita kategorikan, jadi penemuan baru tentang lapisan atmosfer merupakan terobosan besar dalam usaha kita untuk mempelajari bagaimana sistem planet terbentuk dan bagaimana membandingkannya dengan tata surya kita," tambah Sing, rekan penulis makalah studi yang laporannya dipublikasikan secara online hari ini (11 Mei 2017) di jurnal Science.

Air dan Awan Asing

Eksoplanet HAT-P-26b terletak 430 tahun cahaya dari Bumi, mengorbit sangat dekat dengan bintang induk yang usianya dua kali lipat Matahari kita. Menyelesaikan satu kali orbit setiap 4,2 hari Bumi, mengindikasikan HAT-P-26b mengalami penguncian pasang surut karena hanya satu belahan planet yang selalu menghadap bintang, kata rekan penulis makalah studi Hannah Wakeford dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland.

Sing, Wakeford dan para kolega, menganalisis observasi yang dilakukan oleh teleskop antariksa Hubble dan Spitzer NASA, dan mengkombinasikan arsip data keduanya saat HAT-P-26b transit atau melintas di depan bintang induk dari sudut pandang teleskop. Analisis data berhasil menyuguhkan informasi pengukuran air yang cukup akurat dari atmosfer planet, untuk memperkirakan kandungan logam atau metalitas eksoplanet HAT-P-26b. Atmosfer sebagian besar tersusun dari hidrogen dan helium dan menunjukkan tanda-tanda molekul air, meskipun sebenarnya planet tidak memiliki air di permukaan.

Kombinasi data juga menunjukkan kehadiran awan-awan bersisik di langit HAT-P-26b, namun terletak relatif lebih dalam di atmosfer. Mereka tidak banyak menghalangi sinyal penyerapan air, kata Wakeford. Awan ini mungkin terbuat dari disodium sulfida, bukan uap air seperti yang ada di Bumi, tambahnya. "Awan bersisik tersebut akan menghasilkan pemandangan langit yang sangat asing apabila Anda bisa melihatnya," tambah Wakeford. "Awan-awan ini akan menyebabkan pembiasan semua warna, dan akan sangat menarik jika Anda melihat langit berwarna abu-abu melalui awan-awan ini."

Petunjuk Pembentukan Planet

planet-neptunus-nasa-astronomi
Planet Neptunus. NASA

Komposisi atmosfer menunjukkan sejarah planet yang terbentuk di dekat bintang induk atau relatif baru terbentuk dalam sistem bintangnya. Kondisi ini sangat berbeda dengan Neptunus dan Uranus yang terbentuk di sejarah awal tata surya sehingga menempati orbit di wilayah terluar tata surya saat ini.

“Para astronom telah mulai meneliti atmosfer eksoplanet seukuran Neptunus, dan sebentar lagi kita akan menemukan sebuah sampel yang bertolak belakang dengan kecenderungan di tata surya kita,” ujar penulis utama makalah studi, Dr Hanna Wakeford.

Untuk membandingkan planet-planet berdasarkan metalitasnya, para astronom biasanya menggunakan Matahari sebagai patokan, seperti membandingkan kadar kafein secangkir kopi. Metalitas Jupiter sekitar dua hingga lima kali lipat Matahari, sedangkan Saturnus sepuluh kali lipat. Nilai yang relatif rendah ini berarti bahwa kedua planet gas raksasa ini hampir seluruhnya terdiri dari hidrogen dan helium. Sementara planet es raksasa Neptunus dan Uranus jauh lebih kecil dibanding planet gas raksasa, namun lebih kaya dalam hal unsur-unsur berat dengan metalitas sekitar 100 kali Matahari. Jadi, bagi empat planet terluar tata surya kita, kecenderungannya adalah semakin rendah metalitas maka ukuran planet semakin besar.

Para peneliti berpendapat, hal ini terjadi karena ketika tata surya kita terbentuk, Neptunus dan Uranus yang terbentuk di wilayah terluar cakram protoplanet, cenderung lebih banyak dihantam banyak puing-puing es ketimbang gas dan debu yang berada di sekeliling Matahari. Puing-puing es itu sangat kaya unsur-unsur berat. Sementara Jupiter dan Saturnus, yang terbentuk di wilayah cakram yang lebih hangat, cenderung lebih sedikit bertumbukan dengan puing-puing es. Ada Dua eksoplanet juga memiliki kecenderungan semacam ini. Mereka adalah HAT-P-11b, planet seukuran Neptunus, dan WASP-43b, planet gas raksasa dua kali lipat ukuran Jupiter.

Tetapi, para astronom justru menemukan kebalikan kecenderungan pada HAT-P-26b. Hasil pengukuran menunjukkan metalitas eksoplanet tersebut hanya sekitar 4,8 kali Matahari, lebih dekat dengan nilai Jupiter ketimbang Neptunus.

"Analisis ini menunjukkan ada lebih banyak keragaman di atmosfer eksoplanet daripada perkiraan sebelumnya. Hal ini juga menjadi petunjuk bagaimana planet-planet di luar sana dapat terbentuk dan menjalani proses evolusi yang berbeda dari tata surya kita," tutup Profesor David Sing.

Ditulis oleh: Mike Wall, www.scientificamerican.com
  

#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...