Langsung ke konten utama

Dua Lubang Hitam Supermasif yang Saling Mengorbit Ditemukan

dua-lubang-hitam-supermasif-astronomi
Ilustrasi dua lubang hitam supermasif yang saling mengorbit di pusat galaksi 0402+379 yang terletak 750 juta tahun cahaya dari Bumi.

Dalam serangkaian observasi yang mengejutkan, para astronom telah menggunakan panjang gelombang radio untuk mengamati dua lubang hitam supermasif yang saling mengorbit satu sama lain. Penemuan ini, dikombinasikan dengan pengamatan gelombang gravitasi dari LIGO, membuka jalan baru dalam studi lubang hitam.

The Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO) adalah eksperimen fisika skala besar untuk mendeteksi gelombang gravitasi dan mengembangkan pengamatan gelombang gravitasi sebagai studi astronomi. Dua observatorium besar dibangun di Amerika Serikat untuk mendeteksi gelombang gravitasi dengan interferometri laser.

Tim astronom menggunakan Very Long Baseline Array (VLBA) untuk mempelajari galaksi 0402+379 yang terletak 750 juta tahun cahaya dari Bumi. VLBA adalah parabola gelombang panjang radio astronomi guna mengumpulkan variabel tipe data yang sama dan dinyatakan dengan nama yang sama. Array merupakan konsep penting dalam pemrograman karena dapat menyimpan data maupun referensi objek dalam jumlah banyak dan terindeks

Galaksi 0402+379 merupakan objek studi masif karena diduga mengandung dua lubang hitam supermasif setelah peristiwa penyatuan antara dua galaksi. Sejak tahun 2003, tim telah memantau kedua lubang hitam dan akhirnya berhasil memastikan bahwa mereka saling mengorbit. Hasil studi telah dipublikasikan di Astrophysical Journal.

"Dalam waktu lama, kita telah menatap kosmos untuk menemukan sepasang lubang hitam supermasif yang saling mengorbit sebagai hasil penyatuan dua galaksi," kata Profesor Greg Taylor dari Universitas New Mexico dalam sebuah pernyataan. "Meskipun kita telah menggagas teori tentang pasangan lubang yang saling mengorbit, namun belum pernah ada yang pernah melihatnya sampai sekarang."

Gabungan massa sepasang lubang hitam supermasif setara dengan 15 miliar kali massa Matahari kita. Mereka tergolong sebagai kelas berat bahkan dibandingkan dengan lubang hitam supermasif di pusat galaksi Bima Sakti, yang hanya sekitar 4 juta kali massa Matahari. Kedua lubang hitam terpisah 23 tahun cahaya dan saling mengorbit setiap 24.000 tahun sekali. Inilah alasan mengapa tim astronom membutuhkan waktu 12 tahun untuk memetakan orbit mereka.
                    
"Bayangkan seekor siput di planet mirip Bumi yang baru ditemukan dan mengorbit bintang Proxima Centauri yang terletak 4.243 tahun cahaya dari Bumi. Siput bergerak 1 sentimeter per detik dan gerakan itulah yang coba kami pecahkan di sini," ujar rekan penulis makalah studi Profesor Roger W. Romani dari Stanford University, dalam sebuah pernyataan.

"Kami telah mengumpulkan data sejak tahun 2003 dan akhirnya berhasil menyelesaikan gerakan kecil menyerupai seekor siput tersebut," kata penulis utama makalah studi Karishma Bansal, juga dari Universitas New Mexico, kepada IFLScience. "Pengukuran gerakan lubang hitam yang saling mengorbit ini layaknya bagian kecil dari sebuah gelar juara, yang paling penting kami mendapatkan kemenangan secara tehnis. Menjadi yang pertama dalam menemukan, memahami dan mengomentari fenomena kosmik semacam itu adalah sebuah prestasi besar."

Tim akan melakukan lebih banyak observasi terhadap sistem selama lima tahun ke depan. Lubang hitam supermasif memainkan peran penting dalam evolusi galaksi dan studi seperti ini sangat penting untuk menerangi sudut-sudut gelap alam semesta.

Ditulis oleh: Alfredo Carpineti, www.iflscience.com

#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Bentuk Bulan Selalu Berubah?

Ketika memandang langit malam, kamu mungkin pernah memperhatikan bentuk bulan yang terlihat sedikit berbeda pada setiap malamnya. Perbedaan tampilan bentuk ini disebabkan oleh fase dan tipe bulan menurut sudut pandang kita di bumi. Bulan purnama berlangsung saat seluruh sisi bulan yang menghadap bumi diterangi oleh cahaya matahari. Tapi tahukah kamu, bulan purnama tidak selalu terlihat sama? Terkadang, bulan tampak bersinar merah. Sementara pada waktu yang lain, ukuran bulan tampak lebih besar daripada biasanya. Sebenarnya warna dan ukuran bulan tidak pernah berubah. Perubahan penampilan ini bisa terjadi karena pergeseran posisi bulan di antara matahari dan bumi. Ada beberapa jenis bulan purnama yang dianggap istimewa karena lebih jarang terjadi, Mereka adalah bloodmoon (bulan darah), supermoon (bulan super), blue moon (bulan biru) dan harvest moon . Bloodmoon (bulan darah) Bloodmoon di langit malam pada tahun 2014. Kredit: Pusat Penelitian Ames NASA/Brian Da...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Diameter Bumi

Kredit: NASA, Apollo 17, NSSDC   Para kru misi Apollo 17 mengambil citra Bumi pada bulan Desember 1972 saat menempuh perjalanan dari Bumi dan Bulan. Gurun pasir oranye-merah di Afrika dan Arab Saudi terlihat sangat kontras dengan samudera biru tua dan warna putih dari formasi awan dan salju antartika.   Diameter khatulistiwa Bumi adalah  12.756 kilometer . Lantas bagaimana cara para ilmuwan menghitungnya? Kredit: Clementine,  Naval Research Laboratory .   Pada tahun 200 SM, akurasi perhitungan ukuran Bumi hanya berselisih 1% dengan perhitungan modern. Matematikawan, ahli geografi dan astronom Eratosthenes menerapkan gagasan Aristoteles, jika Bumi berbentuk bulat, posisi bintang-bintang di langit malam hari akan terlihat berbeda bagi para pengamat di lintang yang berbeda.   Eratosthenes mengetahui pada hari pertama musim panas, Matahari melintas tepat di atas Syene, Mesir. Saat siang hari pada hari yang sama, Eratosthenes mengukur perpindahan sud...