![]() |
Simulasi struktur alam semesta dalam skala besar |
Jika
Alam Semesta diumpamakan seperti keju Swiss, maka Galaksi Bima Sakti akan berada di salah satu lubang keju.
Bumi
sangat tidak penting. Meskipun dulu kita mengira Bumi adalah pusat
alam semesta, sekarang para peneliti telah mengetahui bahwa planet kita kita
hanyalah satu dari trilyunan planet di alam semesta ini. Bahkan, sebuah studi baru memperkuat anggapan bahwa galaksi kita ternyata sangat
terpencil di alam semesta.
Seperti
yang dilaporkan oleh Ethan Siegel, seorang profesor dan pakar astrofisika di Lewis and Clark College yang mempelajari fisika jagad raya dan makalah studinya telah dipublikasikan
oleh Forbes, majalah dan situs bisnis/finansial Amerika Serikat,
kemungkinan besar Bima Sakti mengambang di tengah kehampaan kosmik
yang membentang sekitar satu miliar tahun cahaya.
Gagasan
bahwa kita hidup di "ruang angkasa sunyi" pertama kali digagas pada
tahun 2013, ketika dua orang astronom yang mempelajari benda-benda langit dari
Universitas Wisconsin bernama Madison Amy Barger dan muridnya Ryan Keenan,
menemukan bahwa kepadatan kosmik antara galaksi satu dengan galaksi lainnya
lebih rendah daripada kepadatan kosmik hanya dalam sebuah galaksi.
Seperti
yang Siegel jelaskan, saat diperiksa pada skala terbesar, kepadatan kosmik (semua galaksi, awan gas dan benda-benda langit lainnya) cukup seragam. Tapi, jika kepadatannya diteliti pada bagian terkecil dari area-area kecil di ruang angkasa, ternyata kepadatan kosmik dapat diumpamakan seperti keju Swiss,
dengan materi yang ditarik ke dalam filamen yang penuh dengan
galaksi. Di antara filamen-filamen ini adalah rongga besar yang tidak benar-benar kosong,
namun jauh lebih padat. Lubang keju raksasa yang bisa kita tinggali disebut
dengan rongga KBC, singkatan dari nama astronom Keenan, Barger dan Lennox Cowie.
Penelitian baru yang dipresentasikan saat pertemuan rutin
tahunan American Astronomical
Society yang digelar bulan Juni 2017 oleh Ben Hoscheit (murid
Barger), memperkuat bukti bahwa kita tinggal di sebuah lubang yang sangat
besar. Hoscheit mengatakan kepada situs Smithsonian.com, untuk menguji teori
keju Swiss kosmik ini, dia mengukur materi di alam semesta berdasarkan
Konstanta Hubble yang menggambarkan laju ekspansi alam semesta.
Sebagai
konstanta fisik, jumlahnya harus sama di seluruh alam semesta. Tapi ketika para
astronom mengukurnya dengan melihat pergerakan supernova tipe 1A yang relatif dekat dari Bumi, mereka mendapatkan sesuatu yang
dikenal sebagai pengukuran "lokal". Sedangkan ketika mengukur
konstanta fisik menggunakan radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik, cahaya sisa Big Bang yang melahirkan alam
semesta, mereka mendapat hasil lain, yang dikenal sebagai pengukuran
"kosmik".
Hoscheit
mengatakan bahwa studi yang akan segera dipublikasikan, menunjukkan kehampaan raksasa memecahkan perbedaan antara
pengukuran lokal dan kosmik. "Perhitungan konstanta akan lebih tinggi
apabila menggunakan metode supernova," katanya.
"Hal
ini sesuai dengan harapan kita terkait kehampaan kosmik yang terjadi
akibat laju ekspansi alam semesta atau efek Konstanta Hubble.
Gravitasi dari wilayah dengan kepadatan tinggi menarik benda-benda langit keluar dari kehampaan kosmik dan menyatu dalam struktur galaksi pada tingkat yang
lebih cepat daripada perkiraan."
Siegal
menjelaskan jika kita berada di wilayah jagad raya yang lebih
metropolitan atau lebih padat, katakanlah di sepanjang salah satu filamen, ekspansi alam semesta tampak melambat karena gaya gravitasi yang
lebih tinggi akan memengaruhi seberapa cepat benda-benda langit lokal
bergerak.
Studi ini dianggap semacam pengecekan cepat untuk memastikan agar konsep kehampaan kosmik masuk akal dengan apa yang sudah kita ketahui dari Konstanta Hubble.
"Kami bertanya apakah kekosongan ini konsisten dengan hal-hal lain yang
telah kami ukur," katanya. "Apakah pengukuran tersebut tidak sesuai
dengan apapun yang bisa kita lihat?"
Ternyata observasi Konstanta Hubble tentang laju ekspansi alam semesta mengakibatkan semakin menjauhnya galaksi satu dengan galaksi lainnya
yang gaya gravitasinya tidak saling mempengaruhi, dan masuk akal dalam konteks
kehampaan kosmik. "Penelitian mengharuskan kami untuk mengambil data
ini dengan nilai nominal."
Saat konfrensi pers, para ilmuwan meyakini struktur rongga kosmik menyerupai lubang keju Swiss dan tujuh kali lebih besar
daripada kehampaan lainnya yang telah diukur sejauh ini melampaui 1 miliar
tahun cahaya. Rongga KBC diyakini akan semakin membesar dan semakin jauh
membentang dikelilingi oleh galaksi-galaksi lainnya. Galaksi kita berada
pada jarak beberapa ratus juta tahun cahaya dari pusat kehampaan supergugus galaksi yang disebut Laniakea.
Tanpa
bisa mengambil semacam foto selfie kosmik, pengukuran ini adalah satu-satunya
cara bagi para astronom untuk mengkonfirmasi dan menentukan struktur
alam semesta. Hoscheit mengatakan timnya terus memperbaiki pengamatan
sebelumnya agar dapat lebih banyak melakukan pengukuran.
Sejauh
ini, komunitas ilmuwan belum terlalu memperdebatkan gagasan kehampaan kosmik
tersebut. "Saya kira teori sudah diterima secara umum, yang pastinya
mengejutkan," kata Holsheit. "Tapi, sepertinya tidak akan ada yang mengatakan rongga kehampaan kosmik sebagai teori yang mengada-ada."
Ditulis
oleh: Jason Daley, smithsonian.com
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar