![]() |
Ilustrasi Pluto. Kredit: NASA/New Horizons |
Pernah
memegang predikat sebagai planet terluar tata surya, gelar Pluto diubah oleh Himpunan Astronomi Internasional (IA) pada
tahun 2006, setelah ditemukan banyak objek Sabuk Kuiper yang sebanding
dalam hal ukuran. Terlepas dari kontroversi yang mengikuti, Pluto tetap menjadi sumber daya tarik dan
titik fokus bagi berbagai penelitian ilmiah. Bahkan setelah terbang lintas bersejarah pesawat antariksa New Horizons NASA pada bulan Juli
2015, Pluto masih meninggalkan banyak misteri.
Terlebih
lagi, analisis data New Horizons justru menambah misteri-misteri baru. Seperti studi terbaru yang digelar oleh satu tim astronom mengindikasikan emisi sinar-X kuat yang berasal dari Pluto, berdasarkan survei Observatorium Sinar-X Chandra NASA. Sungguh tak terduga, dan mendorong para ilmuwan untuk memikirkan kembali apa yang mereka ketahui tentang atmosfer
Pluto dan interaksinya dengan angin surya.
Sebelumnya, banyak objek di tata surya yang telah diamati memancarkan sinar-X, hasil interaksi antara angin surya dan molekul-molekul gas netral (seperti
argon dan nitrogen). Emisi sinar-X juga telah dideteksi di Venus dan Mars (karena atmosfernya mengandung argon, dan atau nitrogen di atmosfernya), termasuk objek-objek kecil seperti komet yang dikeliling pendar lingkaran halo akibat terlepasnya elemen-elemen gas.
![]() |
Ilustrasi terbang lintas New Horizons dengan Charon, salah satu bulan Pluto. Kredit: NASA/JHU APL/SwRI/ Steve Gribben |
Sejak New Horizons terbang melintasi Pluto pada tahun
2015, para astronom telah menyadari perubahan ukuran dan kerapatan atmosfer Pluto yang tergantung musim. Pada dasarnya, saat mencapai titik
perihelion selama periode orbital 248 tahun, atau 4.436.820.000 km
dari Matahari, atmosfer Pluto mengental karena sublimasi beku nitrogen dan metana di
permukaan.
Terakhir
kali Pluto berada di titik perihelion pada tanggal 5 September 1989, yang
berarti masih mengalami musim panas saat New Horizons terbang melintas. Saat
mempelajari Pluto, New Horizons mendeteksi atmosfer yang terutama terdiri dari
gas nitrogen (N²) bersama dengan metana (CH4) dan karbon dioksida (CO ²).
Karena itu para astronom memutuskan untuk mencari tanda emisi sinar-X
yang berasal dari atmosfer Pluto menggunakan Observatorium Sinar-X Chandra.
Sebelum
misi terbang lintas New Horizons, sebagian besar model atmosfer Pluto memprediksi atmosfer yang lebih luas. Namun, New Horizons justru menemukan atmosfer Pluto yang ternyata ratusan kali lebih kecil daripada model yang diperkirakan sebelumnya.
Oleh karena itu, sebagaimana ditunjukkan oleh tim dalam studi,
mereka berharap dapat menemukan emisi sinar-X yang konsisten dengan apa
yang diamati oleh New Horizon saat terbang lintas.
"Mengingat kebanyakan model atmosfer Pluto yang jauh lebih luas sebelum misi New Horizons, dengan perkiraan pengurangan rata-rata atmosfer yang meloloskan diri ke luar angkasa, kami berusaha mendeteksi emisi
sinar-X yang diciptakan oleh (angin surya) interaksi pertukaran muatan gas
netral massa jenis rendah yang mengelilingi Pluto," tulis tim.
![]() |
Gambar Pluto yang diabadikan oleh New Horizons menunjukkan formasi awan yang mengambang di atas permukaan beku. Kredit: NASA/JHUAPL/SwR |
Namun,
setelah dikonsultasikan dengan data dari Advanced
CCD Imaging Spectrometer (ACIS) Chandra, mereka menemukan emisi
sinar-X Pluto lebih besar daripada yang telah dicatat. Dalam
beberapa kasus, emisi sinar-X kuat diketahui berasal dari objek-objek
kecil lainnya di Tata Surya, yang disebabkan penghamburan sinar-X Matahari
oleh butiran-butiran debu kecil yang terbuat dari karbon, nitrogen dan oksigen.
Tapi
distribusi energi sinar-X Pluto yang dicatat tim tidak konsisten dengan
penjelasan ini. Alternatif penjelasan lain yang ditawarkan oleh tim adalah emisi
sinar-X Pluto disebabkan oleh beberapa proses yang berfokus pada angin surya di dekat Pluto, yang akan meningkatkan efek sederhana di atmosfer.
Seperti yang telah ditunjukkan dalam kesimpulan mereka:
"Emisi sinar-X Pluto tidak disebabkan oleh aurora. Jika karena
hamburan sinar surya, emisi harus bersumber pada populasi unik butiran-butiran
kabut berukuran nano yang tersusun dari atom C, N, dan O di atmosfer Pluto yang
secara resonansi menyala di bawah pencahayaan Matahari. Jika karena pertukaran
muatan antara ion kecil (angin surya) dan unsur gas netral (terutama CH4)
yang meloloskan diri dari Pluto, maka penambahan kepadatan dan penyesuaian dari
(angin surya) kelimpahan relatif ion di wilayah interaksi dekat Pluto perlu
dibandingkan dengan model-model atmosfer yang sebenarnya."
Untuk
saat ini, penyebab sebenarnya emisi sinar-X cenderung tetap menjadi misteri.
Mereka juga menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut ketika membahas Objek
Sabuk Kuiper terjauh dan terbesar ini. Untungnya, data yang diberikan oleh
misi New Horizons kemungkinan akan tetap tersedia selama beberapa dekade, yang
diharapkan dapat mengungkap hal-hal baru dan menarik tentang Pluto, wilayah terluar tata surya, dan bagaimana dunia yang paling jauh dari Matahari kita
berperilaku.
Penelitian,
yang diterima untuk dipublikasikan dalam journal
Icarus, dilakukan oleh para astronom dari Laboratorium Fisika Terapan Johns
Hopkins, Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian, Southwest Research Institute (SwRI), Vikram Sarabhai Space Center (VSCC), dan Laboratorium
Propulsi Jet NASA dan Pusat Penelitian Ames.
Sinar-X
adalah salah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang
berkisar antara 10 nanometer hingga 100 pikometer (sama dengan frekuensi dalam
rentang 30 petahertz-30 exahertz) dan memiliki energi dalam rentang 100 eV-100
Kev. Sinar-X umumnya digunakan dalam diagnosis gambar medis dan kristalografi
sinar-X. Sinar-X adalah bentuk dari radiasi ion berbahaya.
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar