Penulis
artikel ini adalah seorang penggemar berat Quora, karena memungkinkan orang yang bukan ahli untuk mengangkat jenis pertanyaan spekulatif yang
biasanya tidak muncul dalam diskusi ilmiah formal. Satu tema yang sering muncul
adalah persoalan tentang apa yang akan kita lakukan jika kita menemukan
kehidupan berakal di sebuah planet yang mengorbit bintang lain. Sebuah pertanyaan yang diposting baru-baru ini, secara khusus menarik perhatian saya: "Apa yang akan kita
lakukan jika kita menemukan planet mirip Bumi dengan peradaban yang 500 tahun di belakang teknologi dan kemajuan kita?"
Yah,
pastinya apabila benar terjadi tentu sangat menarik! Bukan sekadar satu pertanyaan, tapi pertanyaan berantai tentang
bagaimana menemukan kehidupan asing, bagaimana menentukan tingkat kecerdasan mereka, bagaimana menentukan sifat kecerdasan itu, lalu bagaimana
kita mempelajarinya, atau bahkan mencoba untuk melakukan kontak dengan mereka. Ada persoalan moral rumit pada akhirnya, tapi banyak hal ilmiah yang
mengasyikkan sepanjang perjalanan. Dan hal-hal itu membuatku berpikir.
Pertama,
bagaimana kita menemukan planet yang benar-benar mirip Bumi? Terlepas dari
semua penemuan planet di luar tata surya, para astronom belum menemukan kembaran sejati Bumi, yaitu sebuah planet seukuran Bumi yang mengorbit bintang kuning mirip Matahari, yang juga mengorbit di zona layak huni seperti Bumi. Kepler 452b adalah satu di antara sekian banyak planet paling mirip
Bumi yang telah ditemukan. Dengan massa sekitar lima kali massa Bumi dan tergolong dalam kelas planet yang disebut Bumi
super. Layak huni, mungkin; mirip Bumi, tidak. Terlebih lagi, hal yang sama
juga terjadi untuk tujuh planet seukuran berukuran Bumi yang baru ditemukan di sistem TRAPPIST-1. Mereka adalah sistem planet yang sangat menarik untuk
dipelajari, dan ada kemungkinan beberapa dari mereka dapat menopang kehidupan. Tapi semua planet TRAPPIST-1 mengorbit bintang katai dingin dan redup, berarti mereka diselimuti oleh radiasi energik bintang dan mungkin mengalami penguncian pasang surut, dengan satu belahan planet selalu
menghadap ke arah bintang secara permanen.
Analog
(planet yang dianggap sebanding) yang lebih mendekati karakteristik Bumi pasti ada di luar sana, tapi
sulit ditemukan. Teleskop Antariksa Kepler besutan NASA menemukan banyak planet melalui metode transit, dengan mendeteksi penurunan lemah skala kecerahan bintang saat planet melintas di depan bintang induk. Tapi untuk sebuah planet dalam orbit satu tahun (seperti Bumi),
berarti kita melihat bayangannya hanya sekali dalam setahun, dan sangat singkat.
Untuk memastikan planet ini benar-benar nyata, dan bukan sekadar kerlip acak bintang, kita harus mengamati setidaknya tiga kali peristiwa transit. Jadi kita harus terus mengamati banyak bintang, dan melihat semuanya selama beberapa
tahun. Meski begitu, planet yang hanya akan kita temukan adalah yang
paling sering sejajar di antara kita dan bintang induk masing-masing.
Kedua,
bagaimana kita bisa mengetahui jika sebuah planet mirip Bumi benar-benar
layak huni? Metode utama saat ini adalah melihat cahaya yang menyinari atmosfer planet saat melintas di antara kita dan bintang induk. Studi yang sangat sulit bahkan bagi planet-planet raksasa. Saat ini, kita tidak
memiliki teknologi untuk melakukan hal itu bagi kembaran sejati Bumi, jika memang
kita menemukannya untuk dipelajari. Pendekatan lain adalah dengan menemukan langsung
Bumi-Bumi lain di sekitar bintang induk masing-masing, kemudian
menganalisis cahaya mereka. Untuk melakukan itu, kita memerlukan teleskop yang
sangat kuat beserta sebuah cara efektif untuk menghalangi kilau cahaya bintang,
karena di langit, planet mirip Bumi akan berada tepat di samping bintang induk,
namun miliaran kali lebih redup!
Para
astronom memiliki beberapa gagasan cerdas untuk melakukannya,
dengan menggunakan penghalang cahaya bintang (starshade) yang ditempatkan di depan teleskop antariksa, atau
perangkat internal (coronagraph) yang dipasang di teleskop untuk menciptakan
semacam gerhana buatan. Teleskop WFIRST yang akan datang akan menguji konsep
coronagraph, namun tidak akan cukup sensitif untuk mengamati Bumi-Bumi lainnya.
Untuk mencapai hal tersebut kemampuan observasi teleskop harus ditingkatkan,
setidaknya sampai tahun 2030an.
![]() |
Mengambil gambar kembaran Bumi tidak akan mudah. Inilah metode bagi Teleskop Antariksa WFIRST NASA yang akan dipersenjatai dengan coronagraph. (Kredit: NASA-JPL/G Blackwood/Noecker dkk) |
Ketiga,
bagaimana kita bisa tahu apakah ada peradaban cerdas di planet tersebut?
Membuktikan jenis kehidupan apapun akan sangat menantang, bahkan
setelah kita melewati langkah satu dan dua di atas. Para astronom akan
menganalisis atmosfer planet untuk mencari "biosignatures" atau jejak biologis, yakni komposisi kimiawi yang berhubungan dengan kehidupan di Bumi (misalnya,
oksigen bebas ditambah metana). Saat ini Penelusuran SETI (Search For Extraterrestrial Intelligence) cenderung berfokus pada kemungkinan sinyal yang
dikirim oleh peradaban asing, namun alien dengan teknologi abad ke-16
tidak bisa menyuarakan pesan radio kepada kita. Kita harus menemukannya
dengan cara yang lebih halus. Misalnya, kita bisa mendeteksi jejak logam
berat yang terkait dengan peleburan dan jenis industri sederhana lainnya,
walaupun hal itu masih belum menghasilkan bukti yang jelas. Secara ekstrem,
beberapa jenis teleskop optik secara untung-untungan mungkin cukup kuat untuk
melihat bukti kota atau pembukaan hutan secara geometris; Observasi seperti
itu pasti akan jauh lebih meyakinkan.
Perhatikan, sangat tidak mungkin menemukan peradaban ekstraterestrial yang begitu
dekat dengan kita dalam pengembangan teknologi, meskipun kehidupan berakal cukup umum di alam semesta. Bintang dan planet kemungkinan besar terbentuk di
galaksi kita selama lebih dari 10 miliar tahun. Mungkin normal jika butuh waktu
4 miliar tahun agar kehidupan berakal muncul; mungkin juga tidak. Apapun itu,
kehidupan di dunia lain bisa saja dimulai miliaran tahun lebih awal atau lebih lambat
daripada kehidupan di Bumi. Dari jangkauan skala waktu yang luas itu,
kemungkinan bahwa peradaban asing dengan 500 tahun selisih jarak tahap perkembangan tehnologi kita adalah jutaan berbanding satu, dan mengasumsikan planet-planet lain mengikuti jalan yang sama dengan kita, merupakan
lompatan besar kepercayaan atas sesuatu yang kebenarannya belum dapat
dibuktikan. Tapi, mari terus menggali pertanyaannya.
![]() |
Cara meluncurkan pesawat antariksa antarbintang menggunakan laser lightsail. Teknologinya belum ada, tapi hampir mendekati realita. (Kredit: Breakthrough Starshot) |
Keempat,
apa yang akan kita lakukan jika kita benar-benar menemukan bukti tak
terbantahkan dari peradaban pra-industri di sebuah planet yang mengorbit bintang lain? Kita tidak dapat berkomunikasi dengan mereka menggunakan metode yang kita kenal saat ini. Kecuali fisikawan membuat semacam penemuan baru yang tidak terduga,
tidak ada cara praktis yang bisa dilakukan manusia di sana. Yang paling bisa
kita lakukan adalah mengirim miniatur pesawat antariksa antarbintang untuk memeriksa planet ini dan belajar lebih banyak tentang
penghuninya. Sebuah proyek yang diberi nama Breakthrough
Starshot sedang mengeksplorasi jenis teknologi yang dibutuhkan untuk
melakukan hal semacam itu. Miniatur pesawat antariksa akan sangat kecil dan cepat sehingga peradaban asing tidak akan
pernah tahu mereka diawasi.
Asumsikan
skenario terbaik (karena, mengapa tidak?). Beberapa dekade yang akan datang,
kita menemukan planet yang berpotensi mirip Bumi di sekitar Alpha Centauri A,
bintang paling mirip Matahari, atau mungkin kita menemukan informasi yang
menggembirakan tentang planet seukuran Bumi yang mengorbit bintang
pendampingnya, katai merah Proxima Centauri. Pada tahun 2030-an kita menemukan jejak
biologis pada salah satu eksoplanet terdekat ini. Pada tahun
2050-an kita mengamati planet ini dan melihat indikasi adanya peradaban cerdas.
Akan menjadi momen penemuan luar biasa yang belum pernah terjadi selama ini! Kita
meluncurkan pesawat antariksa antarbintang ke sana, yang tiba di
tahun 2090an. Pada tahun 2100, kita mengetahui planet ini menjadi rumah bagi peradaban semi-industri maju. Lantas, apa berikutnya?
Bagian
kelima dan terakhir. Haruskah kita mencoba menjalin kontak? Kita mungkin dengan mudah menjatuhkan pesan-pesan berkode ke seluruh planet dari pesawat antariksa antarbintang. Mungkin para penghuni dapat merespon dengan cara
mengorganisir nyala api geometris besar sehingga bisa kita amati
dari luar angkasa. Kita akan punya banyak waktu untuk memikirkan apakah
melakukan kontak adalah ide bagus, dan jika ya, tentunya adalah cara terbaik
untuk melakukannya. Setiap pesan yang dikirim dan diterima akan memakan waktu
sekitar 9 tahun, dan ingat, hal ini untuk bintang paling dekat. Misalkan
kita menemukan peradaban di Kepler 452b. Jaraknya 1.400 tahun cahaya. Setiap pesan
pulang-pergi membutuhkan waktu minimal 2.800 tahun. Miniatur pesawat antariksa model Starshot yang ditembakkan menggunakan laser, membutuhkan
waktu setidaknya 7.000 tahun untuk sampai ke sana.
Tapi
mari kita menganalisis kembali tentang “bagaimana dan jika” di sepanjang usaha mencari
kehidupan cerdas di luar Bumi. Bagaimana jika kita menemukan peradaban asing dengan
teknologi yang lebih maju daripada kita, dan bagaimana jika manusia
mengembangkan teknologi sehingga mampu melampaui kecepatan cahaya (saat ini
dianggap tidak mungkin secara fisik, tapi namanya juga spekulasi) sehingga kita
bisa ke sana menggunakan pesawat antariksa dan mengunjungi peradaban asing, seperti
dalam film Star Trek? Bagaimana seharusnya kita berperilaku?
Saat
ini, NASA menerapkan seperangkat aturan perlindungan planet untuk memastikan
bahwa manusia tidak mengkontaminasi Mars atau dunia-dunia lain yang mungkin
layak huni. Aturan tersebut adalah bagian dari alasan mengapa pesawat antariksa Cassini dijatuhkan ke Saturnus: untuk memastikan tidak mencemari bulan
Enceladus atau Titan. Saya sering berpikir pada saat kita cukup pintar
untuk menemukan kehidupan di sistem planet lain dan cukup maju untuk bepergian
ke sana, kita akan memiliki versi lanjutan dari peraturan perlindungan planet NASA untuk memastikan kita tidak mengkontaminasi peradaban lain.
Di
Bumi, kita sendiri pernah mengalaminya, pertemuan antara peradaban berteknologi
lebih maju dengan peradaban non teknologi, pada umumnya tidak berjalan dengan
baik. Jika sampai pada titik ketika kita menemukan peradaban non-teknologi di
planet lain, saya berharap kita memiliki cukup akal sehat untuk mengamati dari
jauh dan tidak mengganggu mereka.
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar