![]() |
Ilustrasi sebuah lubang hitam. Kredit: NASA |
Kapan
pun seseorang bertanya tentang luar angkasa, saya menjadi bersemangat.
Tidak
ada kejutan di sana. Saya telah mencari nafkah untuk mewancarai para ahli dan
menulisnya selama lebih dari satu dekade, dan saya telah membaca secara obsesif
topik tentang luar angkasa lebih lama daripada itu.
Saya
telah mendengar banyak "fakta-fakta" aneh selama bertahun-tahun,
bahkan sempat mempercayai dan membagi beberapa “fakta” tersebut kepada orang lain, yang akhirnya setelah saya
pelajari sebenarnya salah.
Berikut
adalah beberapa mitos, kesalahpahaman, dan ketidakakuratan yang paling sering
ditemukan yang harus segera dilemparkan ke dalam lubang hitam.
MITOS:
Matahari Berwarna Kuning
![]() |
Kredit: NASA |
Anda
akan dimaafkan hanya karena mengira Matahari berwarna, tapi secara teknis
cahaya Matahari sebenarnya berwarna putih.
Atmosfer Bumilah yang membuat bintang kita terlihat kuning. Molekul gas di dalam atmosfer menghamburkan cahaya dalam efek yang disebut hamburan Rayleigh, yang juga
membuat langit tampak biru sekaligus menyebabkan Matahari terlihat membara saat
terbenam dalam warna oranye dan merah.
Mitos
ini juga tidak membantu para astronom dalam mengklasifikasikan Matahari sebagai
bintang kuning deret utama tipe G, atau "katai kuning,” yang sebenarnya
tidak ada hubungannya dengan warna.
Hamburan
Rayleigh adalah hamburan elastis dari cahaya atau radiasi elektromagnetik lain
oleh partikel-partikel yang jauh lebih kecil daripada panjang gelombang cahaya, bisa berupa suatu atom atau molekul. Hal ini dapat terjadi ketika cahaya
melewati benda padat yang transparan dan cair, tetapi yang paling menonjol
terlihat pada molekul gas.
MITOS:
Sabuk Asteroid Berbahaya.
![]() |
Kredit: NASA |
Adegan film yang menampilkan pesawat antariksa terbang melintasi medan batu-batu lebat adalah tidak realistis.
Sabuk Asteroid, zona antara 200-300 juta mil dari Matahari, adalah zona luas
yang hampa dan terpencil.
Sebenarnya,
jika kita menyatukan semua asteroid di sabuk tersebut, massa mereka
hanya sekitar 4% massa Bulan.
Itulah
mengapa NASA akan merasa sangat bergembira apabila menemukan tabrakan antara
asteroid satu dengan asteroid lainnya.
MITOS:
Pergi ke Luar Angkasa Membuat Kita Tidak Berbobot.
![]() |
Kredit: NASA |
Sebagian besar ilmuwan menyepakati luar angkasa terletak di atas permukaan Bumi dimulai dari jarak 62 mil, ruang hampa udara atmosfer Bumi.
Namun, saat melewati titik ini tidak secara otomatis membuat kita kehilangan bobot. Jika berada di dalam roket yang melaju cepat, kita malah akan merasakan beberapa kali
gravitasi Bumi. Hanya saat pesawat mulai terbang ke bawah, maka kita akan merasa tidak berbobot.
Mengorbit
sesuatu berarti jatuh selamanya di sekitar objek tersebut. Bulan mengelilingi
Bumi, Bumi mengelilingi Matahari, tata surya mengelilingi Bima Sakti, mereka
semua berarti berada dalam keadaan saling jatuh dalam kegilaan tarian kosmik.
Jika berada 250 mil di atas Bumi, kita harus menempuh perjalanan dengan
kecepatan 17.500 mil per jam mengelilingi planet untuk mengalami keadaan jatuh
bebas secara terus-menerus. 17.500 mil per jam adalah kecepatan Stasiun Luar
Angkasa Internasional mengorbit Bumi beserta para awaknya.
MITOS:
Senjata Nuklir Dapat Menghancurkan Sebuah Asteroid.
![]() |
Senjata Nuklir Rusia |
Menuklir
asteroid tidak akan melenyapkannya.
Kebanyakan
asteroid adalah tumpukan puing-puing, jadi ledakan dahsyat mungkin hanya akan
menyebarkan tumpukan puing-puing batu. Seperti mengubah peluru senapan
biasa menjadi peluru yang menyebar dari senapan shotgun, dan bukan gagasan bagus
jika Anda ingin menyelamatkan planet.
Namun,
beberapa ilmuwan berpikir serangan nuklir yang dirancang
dengan baik dapat berdampak pada permukaan asteroid dan melenyapkan sebagian
batu, kemudian gas ditembakkan untuk mendorong asteroid keluar jalur.
Tidakkah
menyenangkan melihat sekilas ke masa depan berdasarkan sesuatu yang sederhana,
seperti posisi Matahari, planet, dan bulan berada saat Anda lahir?
Itulah
yang diklaim oleh astrologi, dan sekitar 2% di antara kita sangat mempercayainya.
Namun
penyelidikan sains terhadap astrologi telah berulang
kali menggagalkan prediksi apa pun dari tanda astrologi atau horoskop.
Dalam
sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1985, yang makalahnya dipublikasikan di jurnal Nature, para ilmuwan menggunakan metode nonbiased, double-blind
protocol dan bekerja sama dengan beberapa astrolog terkemuka di AS untuk
menguji kekuatan prediksi astrologi.
Nonbiased
adalah mampu menilai dengan adil karena tidak terpengaruh oleh pendapat Anda
sendiri, double-blind protocol adalah prosedur yang digunakan untuk mencegah
bias dalam hasil penelitian karena karakteristik atau efek plasebo.
Hasilnya?
Prediksi astrologi tidak lebih baik dari sekedar kebetulan.
Militer memang menggunakan telepon satelit setiap hari, namun ponsel bekerja
dengan cara yang jauh berbeda.
Ponsel
menyiarkan sinyal radio nirkabel dan terus mencari pulsa sinyal data, dan
merelay data ke dan dari menara seluler berbasis darat.
Saat menelepon, menara terdekat menghubungkan kita ke telepon lain melalui
jaringan koneksi tower-to-tower dan kabel bawah tanah.
Paling
banter, satelit mungkin terlibat dalam sebuah panggilan internasional,
namun 99% data komunikasi di seluruh dunia berlangsung melalui kabel bawah laut.
MITOS:
Tembok Besar China adalah Satu-Satunya Struktur Buatan Manusia yang Terlihat
dari Luar Angkasa.
![]() |
Kredit: Matt Barber |
Semuanya
bergantung pada tingkat keyakinan kita tentang batas luar angkasa.
Dari
Stasiun Luar Angkasa Internasional, 250 mil di atas permukaan, bukan hanya Tembok Besar yang dapat dilihat, namun banyak bangunan buatan manusia
lainnya. Satelit-satelit mungil yang mengorbit di atas Bumi bahkan dapat melihat close-up gedung seperti kampus pesawat antariksa milik Apple.
Dari Bulan, kita sama sekali tidak dapat melihat struktur bangunan manusia, melainkan hanya
cahaya redup lampu perkotaan.
Hanya
sebagian yang benar, karena sains di balik arus pasang surut air laut adalah gaya tidak langsung.
Bulan
memang mempengaruhi air laut, namun pengaruh gaya gravitasi Bulan sekitar 10 juta
kali lebih lemah daripada gravitasi bumi. Sebenarnya pengaruh gravitasi antara Bulan, Bumi, dan Matahari yang menciptakan gaya pasang surut, dan lebih
tepat apabila disebut "tekanan gravitasi" daripada "tarikan
gravitasi."
Setiap
molekul air ditarik oleh gravitasi Bulan, tapi akselerasi gravitasi Bulan
sangat lemah sehingga tidak terlihat. Karena air laut mencakup sekitar 71%
permukaan Bumi dan dihubungkan sebagai kesatuan berbentuk cair, namun, gaya
gravitasi Bulan ditambah dengan gravitasi Bumi dan Matahari, menciptakan tekanan yang signifikan, yang disebut gaya pasang surut.
Sebagian
besar molekul air di dekat kutub tertarik ke bawah oleh gravitasi Bumi,
sedangkan molekul air yang paling dekat dengan Bulan tertarik ke atas
oleh gravitasi Bulan, dan molekul air di sisi berlawanan, yang paling jauh dari Bulan tentunya merasakan gaya gravitasi Bulan yang paling lemah.
Bersama-sama,
interaksi ini membentuk tekanan pada air laut yang umumnya
mengarahkannya menjauh dari kutub menuju khatulistiwa, lokasi yang cukup kuat
untuk melawan gravitasi sehingga membentuk dua tonjolan: arus pasang naik.
Arus
pasang naik tetap bertahan saat Bumi berotasi di bawahnya setiap hari, dan arus
pasang naik ini tetap mengikuti Bulan yang mengorbit Bumi setiap 28 hari. Arus
surut terjadi saat gaya pasang surut (atau tekanan air) paling lemah, dan arus
surut ini dapat menyebabkan bertambahnya air laut di suatu tempat serta
berkurangnya air laut di dasar laut.
Gravitasi Matahari juga memengaruhi pasang surut, terhitung sekitar sepertiga dari
fenomena alam tersebut. Ketika menangkal gravitasi Bulan, gravitasi Matahari mengarah
ke "pasang surut" yang lebih rendah dari rata-rata. Ketika sejajar dengan Bulan, Matahari memicu "pasang surut" yang lebih besar.
Bentuk-bentuk
air yang lebih kecil, seperti danau dan kolam renang, tidak mengalami gaya
pasang surut karena mereka kekurangan cairan untuk menciptakan tekanan
yang dapat melawan gravitasi Bumi.
MITOS:
Jupiter Mengelilingi Matahari.
![]() |
Lokasi barycenter atau pusat gravitasi antara Matahari dan
Jupiter. Kredit: NASA/SDO; Business Insider |
Secara
teknis salah karena Jupiter begitu besar.
Ketika objek yang lebih kecil mengorbit objek yang lebih besar, jalur
orbit bukanlah lingkaran sempurna. Mereka justru bergerak mengorbit pusat
gravitasi bersama yang disebut barycenter. Dalam pergerakan orbit, mereka
bertemu di tengah, namun hal ini tidak terjadi pada Jupiter.
Untuk sebuah planet kecil seperti Bumi, yang massanya hanya 1/332.949
Matahari, barycenter (pusat gravitasi) berada sangat dekat dengan pusat Matahari
sehingga sepertinya kita mengelilingi pusat bintang.
Massa yang dikandung Jupiter sekitar 2,5 kali gabungan massa
seluruh planet anggota tata surya. Jupiter cukup berbobot sehingga barycenter
antara Matahari dan Jupiter sebenarnya tidak berada di dalam Matahari,
melainkan tepat di atas permukaan Matahari. Intinya, karena raksasa gas ini
begitu masif dan kuat, barycenter Jupiter dan Matahari terletak 7% dari radius
Matahari di atas permukaan Matahari.
Bumi
sedikit rata di kutub dan membuncit di khatulistiwa, memberikan bentuk 3 dimensi lonjong yang disebut bulat pepat.
Bentuk ini dihasilkan ini oleh rotasi planet dan komposisi berbatu yang berperilaku layaknya komidi
putar. Semakin dekat dengan tepi komidi putar, maka kita harus semakin kuat berpegangan agar tidak terlempar oleh gaya sentrifugal yang lebih
besar.
Di
khatulistiwa, kecepatan rotasi Bumi sekitar 1.037 mil per jam, yaitu sekitar
60% kecepatan peluru setelah ditembakkan keluar dari
moncongnya. Tapi lebih jauh ke utara atau selatan, rotasi Bumi lebih lambat,
Kota New York, misalnya, secara teknis bergerak dengan kecepatan 786 mil per jam.
Bagaimanapun
juga batu hanya melekat dan lentur di bawah kerak Bumi, jadi, tidak
seperti logam keras yang menancap komidi putar, gaya rotasi dan gravitasi menciptakan
tonjolan di sepanjang garis khatulistiwa. Sebenarnya, jika berdiri di
permukaan laut khatulistiwa, kita akan berada lebih jauh 13 mil
dari inti Bumi daripada jika berada di permukaan laut di kedua kutub.
Karena
pemanasan global dan pencairan gletser (dan sedikit penurunan yang menekan
kerak Bumi), para ilmuwan berpikir tonjolan semakin membesar, meskipun
harus sedikit menurun karena rotasi Bumi melambat hingga sepersekian detik
setiap tahun.
Sangat
mudah untuk berpikir sisi jauh Bulan adalah gelap, karena kita tidak pernah
melihatnya. Tapi sebenarnya sisi jauh Bulan juga mengalami fase serupa dengan sisi dekat yang menghadap ke Bumi.
Bila
terjadi Bulan baru (dan sangat gelap) di sisi dekat, misalnya, hal itu berarti Bulan purnama juga terjadi di sisi jauh. Hanya saja tidak bisa dilihat dari
sudut pandang kita.
Jadi memang ada "sisi gelap" bulan,
tapi "sisi gelap" ini selalu bergerak dan terkadang langsung menghadap
Bumi.
MITOS:
Musim Panas Terasa Hangat karena Bumi Lebih Dekat dari Matahari.
![]() |
Kredit: Flickr/Gilberto
Filho |
Saat
musim panas di belahan bumi utara, Bumi tidak lebih dekat dengan Matahari. Justru sebaliknya, Bumi berada pada jarak paling jauh dari Matahari selama musim panas.
Terasa
lebih hangat selama musim panas karena kemiringan poros rotasi Bumi. Selama mengorbit,
kemiringan poros rotasi planet kita memungkinkan energi Matahari mengarah ke kita secara
lebih langsung.
MITOS:
Bulan Cukup Dekat dengan Bumi.
![]() |
Foto Bumi dan Bulan dari luar angkasa. Bintik kecil di bagian kiri bawah adalah bulan. Kredit: JAXA |
Bulan
kadang terlihat begitu dekat, seolah bisa kita raih dan panjat.
Faktanya, Bulan mengorbit Bumi dari jarak sekitar 239.000 mil. Jika bisa ke Bulan menggunakan pesawat boeing 747, maka butuh waktu 17 hari untuk tiba di sana.
MITOS:
Tidak Ada yang Dapat Melampaui Kecepatan Cahaya.
![]() |
Radiasi Blue Cherenkov di sebuah reaktor nuklir, neutron bergerak lebih cepat daripada cahaya melalui air di sekitarnya. Laboratorium Nasional Argonne. |
Tanpa
penghalang, cahaya merambat dengan kecepatan 299.792.458 meter per detik di ruang hampa. Cahaya melambat saat melalui medium, misalnya 25% lebih lambat saat melalui air dan 59% lebih lambat saat melalui berlian.
Partikel
seperti elektron, neutron, atau neutrino dapat melampaui foton cahaya dalam medium semacam itu, meskipun harus mengeluarkan energi sebagai radiasi saat hal itu terjadi.
Bagaimana
dengan cahaya di ruang hampa? Bahkan, ekspansi alam semesta melampaui
kecepatan cahaya.
Para ilmuwan juga berpikir dua partikel quantum-entangled
(ikatan kuantum) mungkin dapat "bergerak" atau
berteleportasi tetap dalam keadaan semula secara instan, tidak peduli seberapa jauh jarak memisahkan mereka.
Jika berada di tempat terdingin yang gelap total di alam semesta, ruang hampa
udara dapat turun mencapai suhu minus 454 derajat Fahrenheit.
Tapi
di bawah paparan cahaya Matahari di dekat Bumi, suhu bisa naik mencapai 250 derajat
Fahrenheit. Itu sebabnya para astronot memakai baju ruang angkasa berwarna
putih yang memantulkan cahaya.
Fisikawan
Enrico Fermi dikenal karena bertanya "di mana mereka?" setelah menonton sebuah film kartun yang menampilkan adegan piring
terbang pada tahun 1950. Banyak orang percaya pertanyaan Fermi, yang sekarang
dikenal sebagai paradoks Fermi, mengacu pada eksistensi peradaban ekstraterestrial (alien).
Jika peradaban asing tersebar di alam semesta, mengapa kita tidak menemukan bukti eksistensi mereka?
Tapi
Fermi sebenarnya menanyakan tentang perjalanan antarbintang, bukan
tentang eksistensi alien.
Paradoks
"Fermi" seperti yang kita kenal sekarang ini memang mempertanyakan eksistensi alien, tapi tidak menyandang nama dari orang-orang yang
benar-benar mengemukakan konsep ini. Seharusnya penghargaan tersebut diberikan
kepada astronom, Michael Hart dan fisikawan Frank Tipler, yang memperbaiki
gagasan tersebut pada tahun 1970an dan 1980an.
"Paradoks
Fermi mungkin lebih tepat disebut argumen Hart-Tipler tentang eksistensi peradaban cerdas di luar Bumi, yang tidak terdengar sama dengan
Enrico Fermi, tapi tampaknya lebih adil untuk semua orang," tulis astronom
Robert H. Gray kepada Scientific
Amerika.
Ada
lagi yang lebih besar: Plasma.
Mudah
untuk mengasumsikan benda-benda padat adalah bentuk materi yang paling
melimpah di alam semesta, karena kita semua hidup di atas batu raksasa. Tapi
plasma jauh lebih berlimpah, bintang-bintang, termasuk Matahari kita, adalah
bola raksasa plasma bercahaya.
Masih
banyak lagi fase materi, seperti cairan superkritis (yang ada di permukaan
Venus), namun padat, cair, gas, dan plasma adalah materi utama.
Sumber:
17 ‘facts’ about space and Earth that you thought were true — but have been debunked by science
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar