Dalam
momen lebih dari 100 tahun sejak pertama kali digelar, Penghargaan Nobel Fisika
tahun 2017 hanya diberikan kepada Rainer Weiss, Kip Thorne, dan Barry Barish,
atas upaya mereka merintis penemuan gelombang gravitasi. Weiss, seorang
eksperimentalis yang pertama kali menggunakan interferometri untuk tujuan ini,
Thorne, seorang ahli teori yang membantu mengetahui sinyal yang dihasilkan oleh
berbagai fenomena astrofisika, dan Barish, seorang master instrumentasi yang
memimpin LIGO selama perkembangan krusialnya pada tahun 1990-an dan seterusnya,
tentunya layak untuk menerima Penghargaan Nobel bersama para penerima
Penghargaan Nobel di bidang lainnya. Namun, mereka hanyalah tiga orang
dari sejumlah besar orang yang terlibat dalam perencanaan, konstruksi dan
pembentukan kolaborasi LIGO, yang pada tahun 2015 mendeteksi secara langsung gelombang gravitasi untuk pertama kalinya. Penghargaan Nobel ini
didedikasikan kepada lebih dari seribu anggota kolaborasi LIGO sepanjang 40 tahun sejarah eksperimen gelombang gravitasi, sejak pertama kali digagas oleh Einstein.
Ketika pertama kali muncul, Relativitas Umum melahirkan sebuah cara baru untuk memandang alam semesta melalui materi dan energi yang ada di jalinan ruang dan waktu. Materi dan energi menekuk ruang dan waktu, sedangkan ruang dan waktu mengatur bagaimana materi dan energi bergerak. Sejumlah
konsekuensi yang timbul dari teori legendaris ini segera muncul setelah dicetuskan, termasuk eksistensi lubang hitam, fakta bahwa massa dapat
bertindak sebagai lensa gravitasi, ekspansi alam semesta dan jenis baru radiasi, yaitu radiasi gravitasi ketika sebuah objek masif bergerak melalui ruang dan melengkungkan ruang yang berubah dari satu titik ke titik
berikutnya, sekaligus memancarkan gelombang gravitasi untuk
menghemat energi dan momentum. Rinciannya saat ini sedang dikerjakan.
Einstein pertama kali memprediksi gelombang gravitasi sebagai konsekuensi dari teorinya sendiri, lalu mundur dan meyakinkan dirinya bahwa mereka tidak dapat eksis.
Setelah 20 tahun akhirnya Einstein mengubah pikirannya, dia menulis sebuah makalah studi pada tahun 1930-an bersama Nathan Rosen, untuk meyakinkan bahwa gelombang
gravitasi hanyalah artifak matematis Relativitas Umum. Makalah tersebut ditolak
dari jurnal Physical Review. Penelaah makalah studi Howard
Robertson adalah satu dari empat ilmuwan yang mengajukan solusi
tentang relativitas ekspansi alam semesta, telah menemukan kesalahan fatal dalam makalah studi Einstein dan Rosen. Argumen berlanjut sampai tahun 1950-an, dan Rosen
berpendapat bahwa gelombang gravitasi tidak membawa energi, oleh karena
itu tidak bersifat fisik. Tapi Felix Pirani, Richard Feynman, dan Hermann Bondi justru berhasil membuktikannya. Kuncinya sekarang terletak pada prediksi dan deteksi mereka.
Di
sisi teoritis, sifat gelombang gravitasi dapat diprediksi. Bagaimana
mereka tersebar, menekan dan memperluas ruang dalam arah
tegak lurus dan berapa banyak energi yang mereka bawa. Gelombang terkuat
dihasilkan oleh massa terbesar yang menghasilkan pergerakan paling cepat
melalui kelengkungan ruang dan waktu, meliputi bintang katai putih, bintang neutron dan lubang
hitam. Perkembangan relativitas numerik, termasuk perluasan perturbative
terhadap hukum Newton yang menggabungkan efek medan kuat ini, memungkinkan para ilmuwan untuk memperkirakan sistem mana yang akan menghasilkan gelombang gravitasi dan sampai
sejauh mana. Seiring perkembangan teknologi komputer, desain untuk
memprediksi wujud gelombang gravitasi semakin melimpah dan lebih tepat.
![]() |
Joseph Weber dengan detektor gelombang gravitasi tahap awal yang disebut batang Weber. Koleksi khusus dan arsip perpustakaan Universitas Maryland |
Di akhir eksperimen, Joseph Weber adalah orang pertama yang merintis sebuah sistem
untuk mendeteksi gelombang gravitasi. Serangkaian batang resonan ditempatkan dalam ruang hampa dan sangat sensitif terhadap gelombang gravitasi
dari frekuensi tertentu yang melintasi ruang. Meskipun Weber mengklaim
pendeteksian dimulai pada tahun 1960-an, hasil deteksi tidak dapat diproduksi ulang,
sesuai dengan teori yang memperkirakan jangkauan gelombang yang bisa
dideteksi oleh tingkat sensitivitas batang. Di sisi lain, bukti tidak langsung
untuk gelombang gravitasi berasal dari pulsar (bintang neutron yang berputar
cepat), yang mengorbit bintang neutron lainnya. Karena kedua massa padat ini saling mengorbit, periode mereka berkurang: bukti bahwa energi terlepas. Itulah gelombang gravitasi.
Russell
Hulse dan Joseph Taylor memenangkan Penghargaan Nobel 24 tahun yang lalu untuk
penelitan mereka terhadap pulsar biner pertama, yang juga telah dilakukan pada tahun
1960-an dan 1970-an. Kembali ke tahun 1970-an, itulah era ketika LIGO digagas. Tentu, ruang akan terus meluas dalam satu dimensi sembari berkontraksi
secara tegak lurus dan berosilasi bolak-balik, asalkan gelombang gravitasi melewatinya.
Rai Weiss adalah orang yang pertama kali memikirkan gagasan menggunakan
interferometer untuk melakukan deteksi dan memberikan kontribusi luar
biasa terhadap teknik desain dan instrumentasi awal; Weiss hanya menerima separuh
dari penghargaan tahun ini.
Thorne
adalah seorang advokat teoritis dan salah satu pelopor dalam karya numerik, yang
memungkinkan berbagai sistem penggabungan benda langit seperti lubang hitam akhirnya bisa diprediksi oleh LIGO. Tanpa prediksi akurat tentang sinyal yang dihasilkan dari masing-masing sistem, tidak
mungkin mengetahui sinyal apa yang harus dicari di tengah derau kebisingan sinyal. Sementara
itu, Barry Barish adalah arsitek utama detektor gelombang gravitasi yang mentransformasi LIGO dari sekadar gagasan ke seperangkat
observatorium yang luar biasa. Dia mengambil alih proyek
ini pada tahun 1994 untuk membangkitkan kembali gagasan yang telah menggelepar dan
mengubahnya menjadi sekumpulan detektor yang dapat mendeteksi fenomena penggabungan lubang hitam terletak lebih dari satu miliar tahun
cahaya, bahkan sampai empat kali. Jadi, Thorne dan Barish turut berbagi bagian lain dari Penghargaan Nobel.
Deteksi
gelombang gravitasi tidak hanya layak mendapatkan Penghargaan Nobel, namun
telah mengubah gagasan kita tentang apa yang mungkin dapat dilakukan dalam astronomi.
Beberapa detektor yang dipasang di seluruh dunia, dapat menunjukkan lokasi sumber dan mampu mendeteksi penundaan waktu antara detektor, yang mengkonfirmasikan
kecepatan gravitasi sama dengan kecepatan cahaya, termasuk mengukur
orientasi/polarisasi sinyal. Lubang hitam tentunya akan lebih mudah kita deteksi di masa depan, meskipun massanya kecil, mengingat astronomi gelombang gravitasi telah meningkat drastis menjadi semakin akurat dan lebih banyak detektor yang akan online. Pada akhirnya, bahkan gelombang dari bintang neutron dan benda langit sumber cahaya lainnya akan mampu dideteksi secara langsung, yang mengantarkan kita pada era ketika gelombang
gravitasi dan astronomi teleskop tradisional saling tumpang tindih.
Penghargaan Nobel Fisika 2017 mungkin telah diberikan kepada tiga orang yang memberikan
kontribusi luar biasa bagi kegigihan sains, namun tak sekadar kisah yang tercatat dengan tinta emas. Di balik itu semua, selama lebih dari 100 tahun, banyak ilmuwan yang telah berkontribusi secara
teoritis, eksperimental dan observasional untuk memahami cara kerja alam semesta. Sains lebih dari sekadar metode;
akumulasi pengetahuan dari kegigihan dan jerih payah umat manusia,
dikumpulkan dan disatukan bagi kemajuan semua orang. Sementara penghargaan
paling bergengsi kini telah beralih ke gelombang gravitasi, sains tentang
fenomena dahsyat ini baru dimulai. Yang terbaik belum datang!
Ditulis oleh: Ethan Siegel, kontributor www.forbes.com
Ditulis oleh: Ethan Siegel, kontributor www.forbes.com
Sumber:
Gravitational Waves Win 2017 Nobel Prize In Physics, The Ultimate Fusion OfTheory And Experiment
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar