Langsung ke konten utama

Hubble Mengungkap Galaksi Tertua di Alam Semesta

gugus-galaksi-abell-2744-astronomi
Abell 2744 merupakan gugus galaksi terjauh yang pernah diamati.
PHOTOGRAPH BY NASA, ESA, AND J. LOTZ, M. MOUNTAIN, A. KOEKEMOER, AND THE HFF TEAM (STSCI)

Para astronom yang tergabung dalam tim Teleskop Antariksa Hubble, telah merilis pemandangan galaksi-galaksi tertua di alam semesta yang berusia sekitar 13,2 miliar tahun. Mereka menawarkan penglihatan sekilas tentang sejarah alam semesta yang membangkitkan minat terhadap kekacauan kelahiran bintang-bintang generasi pertama.

Gambar di atas merupakan gambar pertama dari rangkaian misi yang disebut Frontier Fields.

Mengungkap bagaimana bintang-bintang paling awal terbentuk akan menjawab pertanyaan tentang bagaimana galaksi seperti Bima Sakti kita muncul dan bagaimana bintang seperti Matahari kita dapat berada di dalam sebuah galaksi.

Alam semesta diperkirakan berusia sekitar 13,7 miliar tahun. Sejak tahun 1995, Hubble telah memberikan para astronom penglihatan sekilas tentang galaksi-galaksi yang dekat dengan hari-hari pertama kosmos. Hubble memulai dengan gambar Deep Field yang difokuskan ke arah rasi Big Dipper selama 43 jam dan berhasil mengungkap eksistensi galaksi-galaksi yang berusia lebih dari 12 miliar tahun.

gambar-pararel-gugus-galaksi-abell-2744-astronomi
Gambar paralel gugus galaksi Abell 2744.
PHOTOGRAPH BY NASA, ESA, AND J. LOTZ, M. MOUNTAIN, A. KOEKEMOER, AND THE HFF TEAM (STSCI)

Gambar terbaru yang dipresentasikan saat pertemuan American Astronomical Society di Washington, D.C., menunjukkan galaksi-galaksi purba yang berusia sekitar 500 juta tahun lebih tua daripada gambar menakjubkan sebelumnya.

Hubble First Frontier   

Pada awal waktu sejarah kosmos, galaksi merupakan gumpalan biru terang yang cenderung terkonsentrasi menjadi satu, berukuran lebih kecil dan ada di mana-mana," astronom Garth Illingworth dari Universitas California, Santa Cruz, mempresentasikan empat galaksi purba paling terang yang diamati oleh dua teleskop antariksa besutan NASA, Hubble dan Spitzer.

Meskipun hanya mengandung bobot sekitar 1% Bima Sakti, laju pembentukan bintang di galaksi-galaksi purba justru sekitar 50 kali lebih cepat dibandingkan Bima Sakti.

"Sangat penting memahami bagaimana galaksi-galaksi awal ini terbentuk untuk lebih memahami galaksi kita saat ini," kata astronom Eilat Glikman dari Vermont's Middlebury College.

Lensa Gravitasi

Sebagaimana telah diprediksi oleh Einstein satu abad lalu, gravitasi menekuk cahaya. Gambar pertama Hubble First Frontier mengandalkan gaya gravitasi dari ratusan galaksi yang saling berdekatan atau gugus galaksi Abell 2744, untuk membengkokkan cahaya dari galaksi-galaksi yang lebih jauh dan lebih tua.

Efek distorsi terfokus pada cahaya yang bersumber dari galaksi-galaksi tua, membuat mereka tampak 10-20 kali lebih besar daripada yang seharusnya terlihat. Metode pelensaan gravitasi ini memungkinkan Hubble untuk menatap galaksi yang lebih jauh dan lebih purba lagi.

"Hubble Frontier Fields akan melahirkan banyak sains baru," kata astronom Michael West dari Observatorium Maria Mitchell, yang tidak terlibat studi. "Banyak astronom yang tak sabar menunggu data mereka!"

Sayangnya, efek pelensaan gravitasi juga mendistorsi galaksi-galaksi purba layaknya "kaca fun house," kata West. "Kita hanya melihat wajah seseorang yang memantul di kaca fun house dan harus mencitrakannya tanpa melihatnya secara langsung."

Untungnya, para astronom dapat menghitung jumlah distorsi yang dihasilkan oleh pelensaan gravitasi untuk merekonstruksi citra galaksi-galaksi jauh.

Untuk saat ini, Hubble telah menghasilkan gambar alam semesta awal yang sedang menggenjot produksi bintang secara drastis agar galaksi dapat tumbuh lebih besar selama empat miliar tahun pertama sejarah kosmos.

Ketika mengamati bintang-bintang generasi pertama, Glikman berkata, "Seperti puncak gunung es, kita juga harus memperhitungkan bagian dasar yang tak terlihat, tapi galaksi-galaksi purba ini merupakan indikator bagus tentang apa yang terjadi di awal sejarah alam semesta."

Ditulis oleh Dan Vergano, National Geographic


#terimakasihgoogle

Komentar