Ledakan
sinar gamma membantu para astronom untuk menjawab pertanyaan klasik tentang ledakan
paling kuat di alam semesta.
Pada
bulan Juni tahun 2016, tim internasional dari berbagai negara yang beranggotakan 31 orang astronom,
dipimpin oleh Eleanora Troja dari Universitas Maryland dan Nathaniel Butler dari
Universitas Negeri Arizona, menangkap fenomena ledakan dahsyat yang dipicu oleh kematian sebuah bintang masif.
Bintang melepaskan energi selama kurang lebih 40 detik yang setara
dengan energi yang dilepaskan sinar Matahari sepanjang hidupnya. Seluruh energi difokuskan ke berkas sempit (jet) sinar gamma yang secara kebetulan mengarah ke Bumi.
Penemuan yang dilaporkan di jurnal Nature, memberikan bukti kuat untuk satu dari dua model yang selama ini bersaing untuk memprediksi bagaimana energi dihasilkan oleh ledakan sinar gamma atau gamma-ray burst (GRB).
"Inilah ledakan paling terang di alam semesta," kata rekan sejawat Profesor Butler dari Universitas Negeri Arizona. "Dan kita bisa mengukur bagaimana bintang masif luruh menjelang meledak."
Respon Cepat
Ledakan sinar gamma dideteksi oleh dua satelit NASA yang memantau langit untuk menemukan fenomena semacam itu pada tanggal 25 Juni 2016, yaitu Teleskop Antariksa Sinar Gamma Fermi dan Misi Gamma-Ray Burst Swift.
Kedua
observatorium antariksa mendeteksi GRB, mengidentifikasi lokasi sumber ledakan dan segera mengirim informasi dalam hitungan
detik ke jajaran teleskop otomatis berbasis darat.
Hanya dalam waktu satu menit setelah menerima pemberitahuan satelit, Teleskop
MASTER-IRC Observatorium Teide di Kepulauan Canary mengamati GRB terlebih dahulu. MASTER-IRC merupakan bagian dari jaringan teleskop robotik MASTER milik Rusia di Observatorium
Teide dan segera melakukan pengamatan tahap awal ledakan dalam panjang gelombang cahaya kasat mata dan mengumpulkan data polarisasi cahaya optik relatif
terhadap total cahaya yang dihasilkan.
Kemudian, kamera RATIR (Reionization
And Transients InfraRed) yang diinstal pada teleskop robotik 1,5 meter Observatorium Astronomi Nasional Meksiko di Puncak San Pedro Martir, Baja California, mulai melakukan pengamatan. Butler adalah peneliti utama kamera RATIR yang beroperasi
secara otomatis.
"Butuh waktu satu atau dua menit agar teleskop kami masuk ke lokasi
ledakan," kata Butler. "Dalam kasus ini, kami harus menunggunya naik
di atas cakrawala. Berarti ledakan sinar gamma telah berakhir dan kami hanya
mampu mengamati apa yang disebut pijar atau sisa cahaya. Pijar yang kami lihat adalah
ledakan yang memudar saat radiasi mengejutkan media antarbintang di
sekitar bintang masif yang meledak.
"Kamera
RATIR memungkinkan kami untuk mengambil gambar simultan dalam enam warna, dua optik dan empat inframerah-dekat. Selama lima tahun terakhir,
RATIR telah mencitrakan 155 ledakan sinar gamma."
Misteri Berkas Energi
Meskipun telah diketahui selama sekitar 50 tahun, para
astronom masih belum memiliki bayangan tentang bagaimana GRB meletus.
"Kendati
ada riwayat observasi panjang, mekanisme emisi yang mendorong ledakan sinar gamma tetap misterius" jelas Butler.
GRB terdeteksi kira-kira satu kali dalam satu hari, tapi kilatan radiasi intens sinar gamma terjadi sangat singkat. Mereka datang dari segala
arah yang berbeda di langit dan berlangsung mulai dari puluhan milidetik hingga
sekitar satu menit, sehingga sulit untuk mengamati mereka secara rinci.
Para
astronom meyakini sebagian besar GRB terkait dengan supernova, yang terjadi ketika
sebuah bintang masif menghembuskan nafas terakhirnya dan memicu ledakan kolosal. Supernova menghempaskan beberapa lapisan terluar
bintang, sementara inti bintang runtuh dalam waktu beberapa detik menjadi bintang neutron atau lubang hitam.
![]() |
Kamera RATIR menangkap pijar cahaya yang kemudian memudar (tanda panah). Gambar oleh Nathaniel Butler/Universitas Negeri Arizona |
Observasi tindak lanjut oleh RATIR selama berminggu-minggu setelah ledakan menunjukkan emisi sinar gamma dalam berkas cahaya selebar dua derajat. Adalah kebetulan Bumi berada di dalam sorotan berkas cahaya sempit tersebut.
Efek berkas cahaya, kata Butler, digerakkan oleh rotasi lubang hitam setelah
ledakan supernova, karena melepaskan material di sepanjang kutubnya.
Fokus Magnetik
"Kami menduga emisi sinar gamma disebabkan oleh elektron yang sangat energik dan didorong keluar layaknya bola api," kata Butler. Berarti harus ada medan magnet di sana, ia
menambahkan, dan teori-teori yang telah ada saat ini masih berlainan, mengenai
bagaimana medan magnet dihasilkan dan sampai sejauh mana aliran energi magnet keluar,
sangat penting untuk dipelajari.
Diagnostik
kunci adalah pengukuran polarisasi radiasi, jelasnya. Menurut para astronom, medan magnet mengendalikan sebagian besar polarisasi.
"Mengukur
kekuatan medan magnet dengan efek polarisasi dapat menyediakan informasi tentang
mekanisme yang mempercepat partikel seperti elektron meningkat menjadi energi
yang sangat tinggi dan menyebabkan emisi sinar gamma," kata
Butler.
Dalam
kasus GRB Juni 2016, para ilmuwan dapat mengukur
polarisasi menggunakan MASTER dalam waktu beberapa menit, sebuah penemuan awal yang
belum pernah terjadi sebelumnya. Sejumlah besar polarisasi yang diamati oleh tim
menunjukkan bagaimana medan magnet yang kuat membatasi dan mengarahkannya, sekaligus memberikan
dukungan untuk model magnetik ledakan sinar gamma.
Meskipun ada lebih banyak misteri yang harus dipecahkan terkait GRB, Butler
mengatakan, "Ini dapat menjadi bukti kuat pertama bahwa guncangan awal
yang dihasilkan oleh ledakan didorong secara magnetis."
Ditulis
oleh: Robert Burnham, asunow.asu.edu (Arizona State University)
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar