Langsung ke konten utama

Galaksi-Galaksi Purba Ditemukan Berenang di Materi Gelap

Para astronom mengira galaksi pada sejarah awal alam semesta berukuran kecil. Tapi, mereka baru saja melihat dua galaksi raksasa yang secara kolektif diberi kode SPT0311-58, saat alam semesta berusia hanya 780 juta tahun, atau sekitar 5% dari usianya sekarang.

spt0311-58-sepasang-galaksi-purba-informasi-astronomi
Ilustrasi SPT0311-58, sepasang galaksi masif di alam semesta awal. Para periset mengira galaksi-galaksi pada zaman ini lebih “berantakan” daripada galaksi-galaksi yang kita lihat di alam semesta modern. Struktur mereka yang tidak simetris disebabkan oleh melimpahnya kandungan gas dan interaksi atau penggabungan dengan galaksi-galaksi tetangga.
Kredit: NRAO/AUI/NSF; D. Berry.

Tata surya kita diperkirakan terbentuk dari gumpalan material yang saling menempel. Demikian pula dengan galaksi generasi pertama di alam semesta. Para astronom menduga mereka terbentuk tak lama setelah Big Bang, mengambil wujud mirip galaksi katai yang kita lihat saat ini, sekaligus menjadi building blocks untuk membentuk galaksi-galaksi raksasa generasi berikutnya. Namun, kosmos telah mengejutkan kita dengan mengungkap sampel galaksi masif yang dipenuhi oleh bintang saat alam semesta baru berusia kurang dari satu miliar tahun. Observasi terbaru menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Chili, telah mengungkap dua galaksi raksasa yang terletak begitu jauh (yang tentunya berusia lebih tua), saat alam semesta hanya berusia 780 juta tahun atau sekitar 5% dari usianya saat ini. Secara kolektif diberi kode SPT0311-58, mereka tampak “bersarang” di dalam lingkaran halo materi gelap yang jauh lebih masif, dengan massa setara beberapa triliun kali lipat massa Matahari.

Para peneliti telah melaporkan hasil studi di journal Nature edisi 6/12/2017.

Jarak sepasang galaksi raksasa purba kurang dari jarak Bumi ke pusat galaksi Bima Sakti. Para peneliti menduga mereka akan segara bergabung untuk membentuk galaksi tunggal yang lebih besar, bahkan SPT0311-58 diprediksi menjadi galaksi terbesar pada periode itu. Penulis utama makalah studi Profesor Dan Marrone dari Universitas Arizona menjelaskan: "ALMA telah mengungkap galaksi terbesar pada miliaran tahun pertama sejarah kosmos yang dihasilkan melalui proses penggabungan kedua galaksi."

spt0311-58-dari-data-alma-informasi-astronomi
Gambar komposit yang menunjukkan observasi ALMA (merah) terhadap sepasang galaksi SPT0311-58. Mereka ditampilkan sebagai latar belakang gambar yang dihasilkan oleh Teleskop Antariksa Hubble NASA (biru dan hijau).
Image via ALMA (ESO/NAOJ/NRAO), Marrone, et al.; B. Saxton (NRAO/AUI/NSF); NASA/ESA Hubble.

Terletak di gurun Atacama Chili, ALMA adalah salah satu instrumen tercanggih untuk observasi astronomi. ALMA adalah teleskop radio interferometer yang telah beroperasi sejak Maret 2013 atas prakarsa kerjasama internasional antara Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Chili.

Dalam observasi ini, ALMA mendapatkan bantuan dari alam, sebuah fenomena yang disebut lensa gravitasi. Para peneliti memanfaatkan gaya gravitasi dari gugus galaksi untuk memperkuat cahaya galaksi-galaksi jauh latar belakang. Meskipun mendapatkan bantuan dari lensa gravitasi untuk menemukan SPT0311-58, para peneliti tetap menindaklanjutinya dengan pemodelan komputer untuk merekonstruksi citra SPT0311-58.

Kombinasi antara observasi dan pemodelan komputer menghasilkan lebih banyak informasi, sebagaimana yang dipaparkan oleh para peneliti: "Proses de-lensing memberikan rincian menarik yang menunjukkan bagaimana galaksi yang berukuran lebih besar, rata-rata memproduksi 2.900 bintang dengan massa setara Matahari kita dalam satu tahun. Ia juga mengandung molekul gas sekitar 270 miliar kali massa Matahari dan debu hampir 3 miliar kali massa Matahari."

"Mengingat sistem yang berusia belia, jumlah debu yang mereka kandung sangat masif," tutur rekan penulis makalah studi Justin Spilker dari Universitas Texas di Austin.

Para astronom meyakini laju produksi bintang yang begitu tinggi di galaksi yang berukuran lebih besar, kemungkinan dipicu oleh interaksinya dengan galaksi yang berukuran lebih kecil dengan massa sekitar 35 miliar kali massa Matahari dan rata-rata memproduksi 540 bintang setara Matahari setiap tahun.

Obervasi terbaru juga memungkinkan para peneliti untuk menyimpulkan eksistensi lingkaran halo materi gelap yang mengelilingi kedua galaksi dengan massa yang benar-benar luar biasa. Materi gelap dianggap memberikan gaya gravitasi yang membentuk alam semesta ke dalam struktur seperti galaksi, grup lokal galaksi, gugus galaksi, dll. Setelah membandingkan perhitungan mereka dengan prediksi kosmologis saat ini, para peneliti menemukan bahwa lingkaran halo tersebut adalah salah satu yang paling masif pada saat itu.

lensa-gravitasi-informasi-astronomi
Ilustrasi pelensaan gravitasi yang dijelaskan dalam teori Relativitas Umum Albert Einstein. Medan gravitasi galaksi atau gugus galaksi mendistorsi cahaya di sekitarnya.
Gambar melalui SpaceTelescope.org.

Para astronom menjelaskan galaksi yang mereka pelajari berasal dari periode Zaman Reionisasi kosmos: ".... ketika sebagian besar ruang antargalaksi masih diselimuti kabut gelap molekul gas hidrogen dingin. Seiring bertambahnya bintang dan galaksi yang terbentuk, energi yang mereka hasilkan mengionisasi hidrogen antargalaksi dan mengungkap alam semesta seperti yang kita lihat saat ini."

"Observasi ALMA putaran berikutnya akan membantu kita untuk memahami seberapa cepat sepasang galaksi bersatu, sekaligus meningkatkan pemahaman kita tentang pembentukan galaksi selama Zaman Reionisasi," pungkas Marrone.

efek-lensa-gravitasi-galaksi-spt0311-58-informasi-astronomi
Untuk mengoreksi efek lensa gravitasi terhadap kedua galaksi, data ALMA (panel kiri) dibandingkan dengan gambar pemodelan komputer yang terdistorsi oleh lensa (panel kedua dari kiri). Perbedaannya ditunjukkan pada panel ketiga dari kiri. Setelah efek lensa gravitasi ditiadakan, struktur galaksi ditunjukkan di sebelah kanan.
Gambar melalui ALMA (ESO/NAOJ/NRAO); D. Marrone et al.

Ditulis oleh: Deborah Byrd, earthsky.org


#terimakasihgoogle dan #terimakasihnasa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...