![]() |
Ilustrasi HD 209458 b, sebuah eksoplanet berukuran 2,5 kali lipat Jupiter saat mengorbit bintang induk. (Gambar: Lucianomendez / Wikimedia Commons). |
Anda mungkin merasa telah mengetahui seperti apa
seharusnya sebuah planet, tapi benda-benda langit cenderung enggan mematuhi
label yang ditentukan oleh manusia. Kita semua mengira Pluto yang berukuran
kecil adalah sebuah planet, hingga pemungutan suara redefinisi pada tahun 2006
oleh Himpunan Astronomi Internasional (IAU), mendegradasi statusnya sebagai
sebuah planet. Lalu, bagaimana dengan sebuah objek yang berukuran
terlalu besar untuk dianggap sebagai planet?
Saat ini masih ada ketidakpastian apakah planet yang berukuran terlalu besar dapat dikategorikan sebagai sebuah planet atau bintang. Batasan yang
ditetapkan oleh IAU agar sebuah objek dapat dianggap sebagai sebuah bintang harus berukuran cukup besar sehingga mampu menampung eleman hidrogen berat yang disebut deuterium untuk melakukan fusi
nuklir. Batasan massanya adalah sekitar 13 kali lipat massa Jupiter. Tetapi, ilmuwan Kevin Schlaufman dari Universitas Johns Hopkins menunjukkan bahwa
massa minimal yang ditetapkan IAU bukanlah batasan yang jelas, mengingat objek yang lebih kecil dari ambang batas massa minimal kerap ditemukan melayang bebas dan sama sekali tidak mengorbit bintang seperti kebanyakan
planet. Dia menggagas cara yang lebih baik untuk menentukan
ukuran maksimum sebuah planet dan mengusulkan pembaharuan definisi berdasarkan bagaimana planet terbentuk.
“Objek yang melampaui 10
kali massa Jupiter tidak boleh dianggap sebagai sebuah planet,” tulis Schlaufman di makalah studi yang dijadwalkan terbit di The Astrophysical Journal.
Schlaufman tak sekadar mengajukan gagasan,
namun juga mendasarkan pembaruan pada fakta bahwa planet-planet seukuran
Jupiter lebih cenderung mengorbit bintang dengan banyak “logam” seperti Matahari kita (dalam istilah astronomi, logam adalah unsur yang lebih berat dari hidrogen dan helium). Fenomena ini mengindikasikan kemungkinan bahwa mereka terbentuk melalui penggumpalan material di cakram raksasa puing-puing yang mengeliingi bintang induk. Schlaufman menulis objek yang massanya lebih besar, tak peduli dengan seberapa banyak atom non-hidrogen/helium di dalam cakram, dan terbentuk karena
runtuhnya cakram karena gaya gravitasinya sendiri. Schlaufman menyaring database objek yang mengorbit bintang mirip Matahari dan menemukan fakta bahwa planet yang berukuran kurang dari empat kali massa Jupiter
lebih cenderung mengorbit bintang “kaya logam”. Sedangkan planet yang 10 kali lebih masif dari Jupiter tampaknya
tidak terlalu peduli dengan jumlah “logam” bintang induk.
“Objek langit dengan massa maksimum tidak lagi
secara istimewa mengorbit bintang katai tipe Matahari yang kaya logam,
karena itu dapat digunakan untuk memisahkan antara planet masif dari katai coklat,
dan menetapkan massa objek terbesar yang dapat terbentuk melalui akresi
inti,” tulis Schlaufman.
Schlaufman mengakui dia hanya
menggunakan bintang mirip Matahari untuk analisisnya, melalui planet yang telah dideteksi oleh metode transit. Alam semesta jelas memiliki bintang dan planet yang tak
terhitung jumlahnya dibandingkan dengan yang digunakan dalam analisis,
namun Schlaufman mengklaim analisisnya tidak terlalu bergantung terhadap massa bintang induk atau di mana planet terbentuk.
Lantas, bagaimana dengan pendapat para ilmuwan lainnya?
“Schlaufman telah mengemukakan beberapa bukti
bahwa planet dengan empat kali massa Jupiter dapat terbentuk melalui mekanisme yang berbeda dari planet bermassa lebih
rendah,” tulis David Kipping dari Universitas Columbia kepada Gizmodo
melalui email. “Apakah studi dapat mengklasifikasi ulang definisi
sebuah planet adalah pertanyaan yang berbeda, karena tentu saja harus ada
diskusi terlebih dahulu mengenai ambang batas yang digunakan untuk menarik garis
yang membedakan antara planet dan non-planet.”
Mendefinisikan ulang definisi “planet” bukanlah hal yang mudah. Degradasi status Pluto terjadi melalui banyak
pertentangan dan baru dapat terwujud melalui sebuah pemungutan suara di
majelis umum IAU, meskipun banyak orang yang tidak menyetujui keputusan IAU.
Pada akhirnya, alam semesta tidak peduli
dengan bagaimana wujud objek langit, karena itu adalah masalah kita. Tapi belajar
lebih banyak tentang kosmos selalu menggairahkan. Kipping menulis kepada Gizmodo: “Menurut saya, pertanyaan tentang bagaimana
planet terbentuk secara berbeda justru jauh lebih menarik dan bermakna
untuk ditanyakan, daripada 'haruskah kita menyebut bunga sebagai sebuah
bunga’?”
Selain itu, beberapa astronom turut mempertimbangkan permasalahan ini. Konstantin Batygin dari Caltech menulis kepada Gizmodo: “Kedengarannya memalukan,
kita mengerti bagaimana Jupiter dan Saturnus tumbuh dengan sangat cepat (mungkin hanya membutuhkan waktu 10.000 tahun bagi Jupiter untuk tumbuh dari sebuah planet
dengan 30 kali lipat massa Bumi menjadi planet dengan 300 kali lipat massa Bumi
saat ini), tapi kita tidak benar-benar mengerti mengapa dan bagaimana pertumbuhan mereka akhirnya berhenti." Sementara tidak memberikan solusi atas teka-teki
ini, makalah studi menyerangnya dari sudut pandang pengetahuan data dan
menunjukkan bahwa massa maksimum yang menjadi inti akresi kemungkinan dapat
membawa planet hingga mencapai massa beberapa kali Jupiter. Jika benar, maka planet yang berada satu kelas dengan Jupiter dan katai coklat adalah kelas
objek yang berbeda secara herediter. Cukup manis.
Sementara Emily Rice dari American Museum of Natural History mengatakan kepada saya: “Setiap definisi planet yang mencakup cara pembentukan berada di jalur yang benar. Mulai dari hal yang abstrak.... penelitian ini menggabungkan bukti dari properti sebuah bintang (konten elemen berat) yang diperkirakan berkorelasi dengan cakram protoplanet dan bukti distribusi massa rendah dari para pengiring yang kita amati. Analisis Schlaufman adalah argumen independen bagus yang menjanjikan dan mengarah ke jawaban yang sama.”
Ditulis oleh: Ryan F. Mandelbaum, gizmodo.com
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar