![]() |
Ilustrasi sistem bintang triple. NRAO |
Teori gravitasi Einstein telah diuji dengan
berbagai cara, mulai dari presesi lambat orbit Merkurius hingga deteksi gelombang gravitasi. Sejauh ini teori relativitas berhasil lulus dari setiap ujian,
tapi bukan berarti sepenuhnya benar. Seperti teori-teori lainnya, relativitas
umum didasarkan pada asumsi tertentu tentang sifat alam semesta.
Asumsi terbesar dalam relativitas adalah prinsip ekuivalensi umum.
Prinsip ekuivalensi telah diusulkan oleh
Galileo dan Newton, yang pada dasarnya menyatakan bahwa dua benda dalam wujud apa pun akan
jatuh pada tingkat yang sama di bawah gaya gravitasi, kecuali ada hal-hal tertentu yang memengaruhi, seperti hambatan udara. Jadi bola bowling dan bulu yang ringan, harus jatuh pada tingkat yang sama di bawah gaya gravitasi. Eskperimen yang telah menguji prinsip ekuivalensi, menunjukkan bagaimana prinsip ini menyediakan prediksi yang bagus dalam sains.
Dalam gravitasi Newton, prinsip ekuivalensi sekadar berarti gaya gravitasi sebuah benda sebanding dengan massanya. Jadi meskipun prinsip ekuivalensi hanyalah sebuah prediksi, kita masih bisa
menggunakan gravitasi Newton. Tapi menurut teori relativitas Einstein,
gravitasi bukanlah sebuah gaya, melainkan efek dari jalinan ruang dan waktu yang
saling menyilang atau berlawanan (seperti warp/vertikal dan weft/horisontal
dalam proses pembentukan kain tenun). Agar teori relativitas benar, maka
prinsip ekuivalensi tidak boleh dianggap kurang benar, tetapi harus pasti
benar. Jika benda “jatuh” karena kelengkungan ruang itu sendiri, maka
semuanya harus jatuh pada tingkat yang sama, karena semuanya berada dalam jalinan ruang
dan waktu yang sama.
Tapi ada kecenderungan menarik untuk prinsip
ini. Salah satu hal yang diprediksi oleh relativitas adalah massa dan energi
yang saling terkait. Di sinilah persamaan Einstein yang paling terkenal E=mc2 turut berperan. Biasanya “relativistik massa” suatu benda secara efektif sama
dengan massa secara umum, namun objek-objek kosmik seperti bintang neutron
memiliki medan gravitasi dan elektromagnetik yang begitu kuat, sehingga massa
relativistiknya sedikit lebih besar daripada massa materinya. Jika gaya
gravitasi sebuah benda sebanding dengan massa dan energi, maka bintang neutron
harus jatuh sedikit lebih cepat daripada objek yang lebih ringan. Jika Einstein
benar, maka bintang neutron harus jatuh pada tingkat yang sama persis dengan
objek-objek lainnya.
Beberapa tahun yang lalu, para astronom
menemukan sebuah sistem yang terdiri dari tiga bintang yang saling mengorbit. Dua di
antaranya adalah bintang katai putih, sedangkan yang ketiga adalah bintang
neutron. Bintang neutron di dalam sistem adalah pulsar, yang memancarkan pulsa energi radio. Tempo waktu pulsa ditentukan oleh rotasi
bintang neutron yang pada dasarnya konstan. Setiap variasi dalam tempo waktu pulsa adalah karena pergerakan bintang neutron pada orbitnya. Dengan kata
lain, kita dapat menggunakan pulsa radio untuk mengukur pergerakan bintang
neutron dengan sangat akurat.
Setiap bintang dalam sistem triple ini
pada dasarnya “jatuh” ke medan gravitasi bintang-bintang lain yang membentuk sistem. Belum lama ini, satu tim astronom mengamati sistem untuk mempelajari apakah bintang neutron jatuh pada tingkat yang berbeda
dan tidak sesuai dengan prediksi Einstein. Hasil observasi ternyata sesuai dengan teori
relativitas umum Einstein. Untuk 0,16 seperseribu persen (batas pengamatan data
tim astronom) bintang neutron jatuh pada tingkat yang sama dengan bintang katai
putih.
Sekali lagi, teori gravitasi Einstein ternyata benar.
Ditulis oleh: Brian Koberlein, kontributor
www.forbes.com
Artikel
terkait: Tarian Kosmik dari Tiga Bintang Mati Bisa Mematahkan Relativitas
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar