![]() |
Jupiter panas NGTS-1b yang satu ini sangat aneh. Selain mengorbit dari jarak dekat, ia mengorbit bintang induk yang berukuran mungil. NASA/AMES/JPL-CALTECH |
Tepat saat perayaan Halloween, para astronom
mengumumkan penemuan sebuah eksoplanet “monster” yang mengintai di sekitar
sebuah bintang berukuran mungil.
Diberi kode NGTS-1b, planet di luar tata surya ini terletak sekitar 600 tahun cahaya dari Bumi. Meskipun ukurannya setara dengan Jupiter, namun massanya 20% kurang masif. Karena mengorbit bintang induk dari jarak dekat, maka ia disebut “Jupiter panas”. NGTS-1b mengitari bintang setiap 2,6 hari sekali, sementara suhu permukaannya mencapai 530
derajat Celcius.
Sejauh ini, mungkin tidak terdengar terlalu luar biasa, mengingat banyak Jupiter panas yang telah ditemukan dalam orbit yang sangat rapat di galaksi kita. Tetapi bintang induk NGTS-1b
adalah bintang tipe-M yang disebut katai merah, dan menurut model pembentukan planet yang diyakini secara luas, mustahil bintang yang berukuran kecil dapat menjadi induk bagi sebuah planet kelas berat semacam itu.
![]() |
Ilustrasi bintang katai merah yang terbit di atas planet NGTS-1b. Universitas Warwick/Mark Garlic |
Jika dibandingkan dengan rasio antara ukuran bintang induk dengan planet yang mengorbit, NGTS-1b adalah planet terbesar yang pernah ditemukan, dan eksistensinya di sistem NGTS-1 telah membingungkan para
astronom.
“Penemuan NGTS-1b sangat mengejutkan kami,
planet masif seperti itu seharusnya tidak mengorbit bintang berukuran kecil,” ungkap Daniel Bayliss dari Universitas Warwick di Inggris, dalam sebuah pernyataan. “Inilah eksoplanet pertama yang kami temukan
dengan fasilitas terbaru NGTS yang menantang model tentang
bagaimana planet terbentuk.”
Bersama tim ilmuwan, Bayliss menggunakan Next-Generation Transit Survey (NGTS) untuk menghasilkan penemuan ini. Katai merah adalah bintang berukuran
kecil yang sangat redup. Meskipun relatif sulit diamati, populasi bintang katai merah mendominasi galaksi Bima Sakti dan telah banyak yang ditemukan menjadi induk bagi sistem planet. Namun belum pernah ada yang ditemukan sistem dengan proporsi ukuran planet yang begitu mengerikan seperti NGTS-1b.
“Meskipun tergolong planet monster, NGTS-1b relatif sulit ditemukan karena bintang induknya berukuran kecil dan redup,” jelas Peter Wheatley dari Universitas Warwick yang memimpin proyek NGTS, “Bintang katai mendominasi populasi bintang di alam semesta, jadi barangkali akan ada planet raksasa serupa yang menunggu untuk
ditemukan.”
Menantang
Teori
Sebuah bintang terbentuk saat gumpalan gas dari awan molekuler di ruang antarbintang runtuh di bawah gaya gravitasinya
sendiri. Setelah memadat, fusi nuklir dimulai sekaligus protostar terbentuk. Seiring waktu, sisa material protostar (bahan baku sistem planet) akan membentuk cakram protoplanet yang mengitari protostar. Ukuran bintang sebanding dengan berapa banyak material
yang tersedia selama proses pembentukannya, semakin banyak material, maka
semakin besar ukuran bintang. Logika serupa juga berlaku bagi planet yang terbentuk di cakram protoplanet, semakin banyak material maka semakin besar
ukuran planet.
Katai merah juga mengambil peran sebagai induk bagi planet terestrial (berbatu) yang lebih kecil, sebuah fakta yang menjadikannya menarik dalam upaya pencarian eksoplanet “mirip Bumi”. Tapi
seharusnya tidak tersedia cukup material selama proses pembentukan katai merah yang menghasilkan planet raksasa sekelas Jupiter di cakram protoplanet. Inilah mengapa NGTS-1b seolah menantang model pembentukan planet.
“Tantangan kami sekarang adalah untuk
mengetahui seberapa umum tipe planet serupa di galaksi Bima Sakti, dan dengan
fasilitas baru NGTS, kami mendapatkan instrumen yang tepat untuk mengungkapnya,” tambah Bayliss, rekan penulis makalah studi yang telah dipublikasikan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical
Society.
NGTS besutan ESO yang ditempatkan di Observatorium Paranal,
Chili, terus
melakukan survei langit terhadap bintang katai tipe K dan M. NGTS didesain untuk sensitif terhadap cahaya merah, panjang
gelombang yang dipancarkan oleh bintang-bintang katai yang redup.
![]() |
Ilustrasi NGTS yang mengemban misi untuk menemukan eksoplanet melalui metode transit. ESO/G. LAMBERT |
Menerapkan “metode transit” untuk
menemukan eksoplanet, NGTS mendeteksi penurunan lemah skala kecerahan cahaya bintang induk saat sebuah planet transit atau melintas di depannya menurut sudut pandang para pengamat di Bumi. Dalam kasus NGTS-1b, cahaya bintang meredup setiap 2,6 hari,
yang berhubungan dengan periode orbital planet raksasa Jupiter panas tersebut. Begitu
teleskop mendeteksi eksoplanet, para astronom dapat memperkirakan ukuran planet
yang sedang transit di depan bintang induk, kemudian studi tindak lanjut oleh
observatorium lain mengukur massa planet dengan melihat
“goyangan” bintang induk.
Kini setelah sistem aneh ini ditemukan, para astronom berharap dapat menemukan lebih banyak sampel untuk memahami bagaimana planet masif seperti NGTS-1b berevolusi di
sekitar katai merah.
“Setelah bekerja selama hampir satu dekade
untuk mengembangkan jajaran teleskop NGTS, sungguh mengembirakan mengetahuinya menemukan tipe planet baru yang tak terduga,” pungkas Wheatley. “Saya
tidak sabar untuk melihat seperti apa jenis planet baru menarik lainnya yang
dapat NGTS temukan.”
Ditulis oleh: Ian O'neill,
science.howstuffworks.com
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar