Kelanjutan
dari artikel: Sepuluh Cara Materi Gelap Menjelaskan Alam Semesta (Bagian 2)
3. Energi Gelap mungkin
Memakan Materi Gelap
![]() |
Kredit foto: NASA/ESA |
Menurut studi yang digelar baru-baru ini, energi gelap tampaknya memakan materi
gelap saat keduanya berinteraksi, yang pada gilirannya memperlambat pertumbuhan
galaksi dan menjadikan alam semesta sebagai sebuah tempat yang hampir hampa. Bisa jadi materi gelap meluruh menjadi energi gelap, tapi kita
belum bisa memastikannya. Satelit Planck besutan ESA telah memberikan informasi tentang komposisi fisik kosmos: 4,9% materi normal (termasuk kita), 25,9% materi
gelap dan 69,2% energi gelap. Kita tidak dapat melihat materi gelap atau
energi gelap secara langsung.
Tidak
ada istilah untuk dapat dipahami secara lebih baik, bahkan di komunitas ilmiah
sekalipun. Mereka cenderung istilah ambigu untuk menggambarkan sesuatu yang diyakini eksis, tapi belum bisa dijelaskan. Jadi sampai kita mengungkap mereka seutuhnya, kedua istilah ini akan terus digunakan. Materi
gelap menarik, sedangkan energi gelap mendorong. Materi gelap adalah tulang
punggung atau kerangka sebagai tempat galaksi dan seluruh isinya dibangun. Gaya gravitasi materi gelap diyakini menahan bintang untuk tetap berada di dalam galaksi.
Di
sisi lain, energi gelap menggambarkan gaya yang bertanggung jawab atas ekspansi alam semesta yang mendorong galaksi-galaksi jauh untuk menjauh dari kita. Jadi,
seiring energi gelap yang mendorong galaksi untuk saling menjauh, gaya gravitasi semakin
melemah di alam semesta. Fenomena ini menunjukkan laju ekspansi ruang yang semakin
cepat, dan tidak melambat karena efek gaya gravitasi seperti yang diyakini
sebelumnya.
“Sejak
akhir tahun 1990-an, para astronom menduga ada gaya yang menyebakan peningkatan laju ekspansi alam semesta,” jelas Profesor David
Wands dari Universitas Portsmouth. “Penjelasan paling sederhana, ruang itu vakum dan memiliki kepadatan energi sebagai konstanta
kosmologis. Namun, model sederhana tersebut tidak dapat
menjelaskan secara lengkap data yang dikumpulkan oleh para astronom, khususnya laju pertumbuhan struktur kosmik, galaksi dan gugus
galaksi, yang nampaknya lebih lambat daripada yang diperkirakan sebelumnya.” Transfer
energi ini hanya dapat terjadi pada materi gelap dan energi gelap. Materi normal (seperti kita) tidak ditelan oleh energi gelap.
2. Materi Gelap mungkin
Menyebabkan Riak di Cakram Galaksi
Saat menatap langit, kita dulu hanya dapat melihat bintang yang terletak sekitar 50.000 tahun cahaya dari pusat galaksi Bima Sakti. Jadi kita pernah menganggap itulah ujung Bima Sakti. Saat itu kita belum bisa melihat objek kosmik signifikan yang terletak sekitar 15.000 tahun cahaya di luar batas tersebut, yaitu Cincin Bintang
Monoceros yang melintang di atas bidang Bima Sakti. Beberapa
ilmuwan menduga mereka adalah bintang yang berasal dari galaksi lain. Namun,
analisis data terbaru dari Sloan Digital
Sky Survey mengungkap asal usul Cincin Monoceros yang dari semula adalah bagian dari galaksi kita.
Berarti Bima Sakti setidaknya 50% lebih besar dari yang pernah kita duga, sekaligus meningkatkan diameter galaksi kita dari sekitar 100.000-120.000 tahun
cahaya ke 150.000-180.000 tahun cahaya. Dari Bumi, kita
tidak dapat melihat bagaimana Cincin Monoceros terhubung dengan Bima Sakti
karena riak-riak di cakram galaksi. Seperti menyaksikan ombak di lautan dari
pantai, saat naik, gelombang menghalangi pandangan kita di luar lautan,
kecuali sebagian gelombang yang lebih tinggi. Jadi, meskipun sebagian pandangan
kita terhalang oleh struktur galaksi, kita dapat melihat Cincin Monoceros
seperti melihat puncak gelombang yang lebih tinggi.
Penemuan
ini mengubah pemahaman kita tentang bagaimana Bima Sakti terbentuk. “Intinya, cakram Bima Sakti bukanlah cakram bintang bidang datar, namun bergelombang,” kata Heidi Newberg dari Rensselaer School of Science. “Kami mengamati setidaknya empat riak di cakram Bima Sakti. Meskipun kita
hanya bisa melihat satu bagian cakram galaksi dengan data ini, kita berasumsi pola serupa ada di seluruh cakram.”
“Seperti
riak-riak air yang muncul setelah sebuah batu dilemparkan ke dalam kolam, riak-riak di galaksi kita mungkin disebabkan oleh gumpalan materi gelap atau sebuah galaksi katai yang memotong cakram Bima
Sakti. Jika memang benar, riak-riak ini akan memberikan para ilmuwan sebuah
cara untuk menganalisis distribusi materi gelap di Bima Sakti.
1. Fitur Khas Sinar Gamma
Sampai
saat ini, satu-satunya cara untuk mendeteksi materi gelap adalah
dengan mengamati efek gravitasinya terhadap objek kosmik lainnya. Namun, para ilmuwan yakin sinar gamma berpotensi menjadi sinyal yang mengarahkan kita untuk menemukan materi gelap tak kasat mata yang bersembunyi di alam semesta. Selama
penelitian, para ilmuwan mengklaim telah menemukan fitur khas pertama sinar gamma dari Reticulum 2, sebuah galaksi katai yang mengorbit Bima Sakti.
Sinar
gamma adalah bentuk radiasi elektromagnetik berenergi tinggi yang dipancarkan
dari pusat galaksi. Jika benar materi gelap terdiri dari WIMP (weakly interacting massive particles),
maka partikel materi gelap dapat menjadi sumber sinar gamma yang dihasilkan saat
WIMP saling memusnahkan satu sama lain. Namun sinar
gamma juga dipancarkan oleh sumber-sumber lain seperti lubang hitam dan
pulsar. Jika analisis kita dapat mengeliminir sumber sinar gamma
lainnya, mungkin saja sumber sinar gamma yang tersisa berasal dari materi
gelap. Paling tidak, itulah teorinya.
Para
ilmuwan menduga sebagian besar galaksi katai hanya memiliki sedikit sumber sinar gamma selain materi gelap, mengingat materi gelap bahkan dapat mendominasi komposisi
galaksi katai hingga 99%. Itulah sebabnya para fisikawan dari Universitas
Carnegie Mellon, Universitas Brown, dan Universitas Cambridge sangat berantusias terkait penemuan sinar gamma yang berasal dari Reticulum 2.
“Deteksi
gravitasi materi gelap hanya memberikan sedikit informasi tentang sifat partikel materi gelap,” kata Matthew Walker dari Universitas Carnegie Mellon.
“Tapi sekarang kita mungkin memiliki sebuah deteksi non-gravitasi yang
menunjukkan perilaku materi gelap sebagai partikel.”
Tentu
saja, mungkin ada sumber sinar gamma lainnya di galaksi-galaksi katai yang
belum diidentifikasi. Namun, penemuan sembilan galaksi katai baru satelit Bima Sakti mungkin memberikan para ilmuwan kesempatan untuk lebih mengeksplorasi teori deteksi selain gaya gravitasi materi gelap.
Ditulis
oleh: Heather Ramsey, listverse.com
Komentar
Posting Komentar