![]() |
ESO/P. WEIBACHER (AIP) |
Pada
tahun 1610, Galileo menggunakan teleskop versi awal untuk menemukan empat bulan terbesar
Jupiter. Selama lebih dari dua ratus tahun setelah itu, satu-satunya cara untuk
mendapatkan pengamatan terbaik langit
malam adalah dengan membuat teleskop yang ukurannya lebih besar. Pada abad ke-19, para
astronom mulai menempatkan teleskop ke pegunungan untuk mengurangi gangguan
atmosfer yang mengaburkan pengamatan mereka. Pada tahun 1968, para astronom akhirnya berhasil
menempatkan teleskop antariksa pertama yang mengorbit Bumi, Orbiting Astronomical Observatory 2
(OAO-2).
Para
ilmuwan di balik misi OAO mungkin berpikir mereka telah menemukan jenis teleskop terbaik, yaitu teleskop antariksa yang ditempatkan di atas lapisan atmosfer Bumi yang mengganggu observasi. Tetapi, dengan teknologi terbaru yang disebut optik adaptif, suatu
sistem deformasi lensa menggunakan laser yang dapat seketika mengoreksi
gangguan atmosfer, para astronom telah memanfaatkan teleskop berbasis darat untuk menghasilkan gambar planet Neptunus yang lebih tajam daripada gambar yang
diambil Teleskop Antariksa Hubble NASA/ESA.
Very Large Telescope
(VLT) di Gurun Atacama Chile, yang dioperasikan oleh Observatorium Eropa
Selatan (ESO), terus meningkatkan optik adaptifnya selama hampir dua tahun. Sistem
GALACSI (Ground Atmospheric Layer
Adaptive Corrector for Spectroscopic Imaging) dipersenjatai oleh berbagai
instrumen yang dipasang di empat teleskop berdiameter 8,2 meter, untuk melakukan observasi dalam berbagai spektrum elektromagnetik (panjang gelombang atau warna
cahaya yang berbeda).
Upgrade
terbaru memadukan GALACSI, instrumen MUSE (Multi Unit Spectroscopic Explorer) dan empat unit teleskop VLT. MUSE mampu mencitrakan langit malam dalam mode wide-field dan narrow-field. Dalam mode wide-field sebelumnya, GALACSI dan MUSE
digunakan untuk mengoreksi gangguan atmosfer hingga satu kilometer di atas
teleskop.
![]() |
Gambar-gambar planet Neptunus ini diperoleh selama pengujian mode optik adaptif narrow-field menggunakan instrumen MUSE/GALACSI di Very Large Telescope ESO. ESO/P. WEIBACHER (AIP) |
Saat ini, mode narrow-field GALACSI dan MUSE menggunakan teknologi optik adaptif
baru yang disebut laser tomografi untuk mengoreksi hampir semua gangguan
atmosfer yang menghalangi teleskop, bahkan untuk area langit yang lebih
kecil. Teknologi terbaru diterapkan dengan cara menembakkan empat laser oranye berdiameter 30 cm ke
langit, yang berfungsi layaknya bintang-bintang
panduan buatan. Laser tebal memengaruhi atom sodium di atmosfer dan mengungkap jumlah turbulensi di udara. Kemudian sistem dapat mengukur
interferensi atmosferik dan menggunakan aktuator untuk melengkungkan cermin
sekunder tipis yang fleksibel hingga seribu kali per detik untuk mengoreksi
cahaya yang redup.
Gambar
yang dihasilkan hampir sama tajam dengan teleskop antariksa, mengingat ukuran jajaran teleskop VLT sekitar tiga kali lipat lebih besar daripada Hubble, gambar yang dihasilkan bahkan lebih fantastis. Teknologi
optik adaptif terbaru telah dimanfaatkan untuk mencitrakan Neptunus, gugus bintang
dan objek kosmik lainnya.
Optik
adaptif pertama kali diimpikan sejak tahun 1950-an, tetapi baru terwujud pada tahun 1990-an, seiring kemajuan komputer untuk melengkungkan cermin
dengan kecepatan dan presisi sebagaimana yang diharapkan. Namun, argumen Galileo masih berlaku hingga saat ini: "Jika ingin mendapatkan pemandangan langit malam secara maksimal, buatlah teleskop yang berukuran besar." Dan itulah rencana ESO, yang akan membangun Extremely
Large Telescope (ELT), teleskop monster berdiameter 39 meter yang mengerdilkan VLT.
Suatu hari nanti saat kita mengoperasikan ELT dengan teknologi optik adaptif, siapa yang tahu apa yang akan kita temukan.
![]() |
Keempat Laser Guide Stars Facility diarahkan ke langit selama observasi pertama menggunakan optik adaptif instrumen MUSE pada tanggal 2 Agustus 2017. ROLAND BACON |
Ditulis
oleh: Jay Bennett, www.popularmechanics.com
terimakasih infonya, jangan lupa kunjungi web kami http://bit.ly/2yvO1SX
BalasHapus