Langsung ke konten utama

Beberapa Galaksi Tertua di Alam Semesta Mengorbit Bima Sakti

Tepat di depan pintu kosmik kita sendiri, galaksi-galaksi mungkin terbentuk pada akhir Zaman Kegelapan alam semesta, lebih dari 13 miliar tahun yang lalu.

galaksi-tertua-di-alam-semesta-mengorbit-bima-sakti-informasi-astronomi
Kredit gambar: Universitas Durham

Galaksi Bima Sakti yang membentang sekitar 100.000 tahun cahaya, diorbit oleh lusinan galaksi yang ukurannya jauh lebih kecil. Ukuran beberapa di antaranya bahkan hanya mencakup beberapa ribu tahun cahaya. Darimana galaksi-galaksi satelit yang menginduk Bima Sakti berasal? Bagaimana mereka terbentuk? Dan apa yang dapat mereka ajarkan kepada kita tentang kosmos? Pertanyaan mengernyitkan dahi yang kerap diajukan di bidang astronomi, tetapi kita mungkin telah mengungkap masa lalu menarik galaksi-galaksi katai yang redup ini.

Dalam sebuah makalah ilmiah yang dipublikasikan di Astrophysical Journal, satu tim ilmuwan dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian dan Institusi Kosmologi Komputasional Universitas Durham, menyimpulkan galaksi-galaksi satelit paling redup yang mengorbit Bima Sakti adalah salah satu galaksi tertua di seluruh alam semesta. Mereka mengumpulkan sebagian besar massa sekitar 13,5 miliar tahun yang lalu, tidak lama setelah Big Bang.

Pada dasarnya, semakin redup sebuah galaksi, semakin besar kemungkinan terungkap identitasnya sebagai galaksi purba. Tim memanfaatkan teknik yang disebut fungsi luminositas, atau distribusi galaksi menurut seberapa terang dan besar sebuah galaksi.

Dengan menggunakan superkomputer di Warsawa, Polandia, dan Durham, Inggris, tim menghitung fungsi luminositas galaksi menurut model standar kosmologi yang disebut model Lambda Cold Dark Matter. Tim menemukan terdapat jeda atau “kekakuan” dalam fungsi luminositas, yaitu skala kecerahan tertentu saat hanya ada sedikit galaksi. Ternyata, jeda di fungsi luminositas sesuai dengan waktu saat mereka berhenti terbentuk untuk sementara, dan apa pun yang redup daripada luminositas ini kemungkinan telah terbentuk jauh di masa lalu.

galaksi-kuno-katai-ultra-redup-informasi-astronomi
Di sebelah kiri adalah bagan fungsi luminositas, sedangkan di sebelah kanan adalah bagan fungsi luminositas yang dihitung sebagai hasil ionisasi yang menghentikan pembentukan galaksi untuk sementara waktu.
Sownak Bose, dkk.

“Setelah beberapa eksplorasi, kami menemukan jeda yang disebabkan oleh transisi antara galaksi yang terbentuk selama Zaman Kegelapan dengan yang terbentuk setelahnya,” jelas penulis utama makalah ilmiah Sownak Bose dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian kepada situs Popular Mechanics melalui email.

Kegelapan Kosmos

Menurut model standar kosmologi, Zaman Kegelapan dimulai sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang, ketika alam semesta mulai mendingin dan atom-atom pertama dari hidrogen netral terbentuk. Tanpa bintang atau galaksi, alam semesta dipenuhi dengan gas hidrogen dan materi gelap. Materi gelap bergabung menjadi struktur lingkaran “halo”, setelah itu gaya gravitasi materi gelap menarik dan menyatukan gas hidrogen untuk membentuk bintang dan galaksi generasi pertama.

“Partikel-partikel materi gelap diyakini menggumpal untuk membentuk struktur luas materi gelap di bawah pengaruh gaya gravitasi,” tambah Bose. “Struktur ini bertindak sebagai perangkap gravitasi dan mampu mengakumulasi materi barion normal, terutama dalam bentuk hidrogen. Ketika akhirnya gumpalan hidrogen cukup padat, bintang dan galaksi terbentuk.”

Lingkaran halo materi gelap bukan sekadar produk masa lalu, tetapi membentuk struktur alam semesta hingga hari ini.

“Kami menduga semua galaksi, termasuk Bima Sakti, dikelilingi oleh lingkaran halo materi gelap yang menjadi perancah struktur galaksi,” kata Bose. “Materi gelap bagaikan kerangka penyusun tak kasat mata yang membangun alam semesta yang dapat kita amati.”

Namun setelah bintang dan galaksi generasi pertama terbentuk, radiasi intens ultraviolet mengionisasi sisa-sisa gas hidrogen, melucuti atom elektron dan hanya menyisakan partikel-partikel bermuatan. Lingkaran halo materi gelap tidak bisa memerangkap gas untuk memproduksi bintang-bintang baru, sehingga pembentukan galaksi terhenti selama sekitar satu miliar tahun.

“Ketika hidrogen memanas karena radiasi dari galaksi generasi pertama, lingkaran halo materi gelap yang berukuran kecil tidak lagi mampu menangkap gas yang memanas,” ujar Bose. “Ketika saluran bahan bakar dihentikan, laju produksi bintang terhenti sekaligus menghentikan pertumbuhan massa galaksi. Hanya lingkaran halo materi gelap yang lebih masif (membutuhkan waktu ratusan juta tahun untuk terbentuk) memiliki ‘sumur gravitasi’ yang cukup dalam, untuk menampung gas dan memproduksi bintang-bintang baru.”

Big Pause

Jeda pembentukan galaksi karena goncangan ionisasi inilah yang menghasilkan “kekakuan”, yang dihitung oleh tim peneliti dalam fungsi luminositas. Galaksi sebelum “kekakuan” adalah galaksi katai, redup dan purba yang mengumpulkan sebagian besar massa saat Zaman Kegelapan berakhir, sementara galaksi yang terbentuk setelah “kekakuan” cenderung lebih besar dan lebih cerah. Seiring waktu, galaksi mulai bergabung untuk membentuk galaksi yang lebih besar seperti Bima Sakti kita. Bima Sakti dapat memiliki bintang yang telah berusia 13,6 miliar tahun, meskipun mereka tidak lagi membentuk struktur atau menjadi bagian akumulasi dari sebagian besar massanya hingga beberapa waktu kemudian.

galaksi-kuno-mengorbit-bima-sakti-informasi-astronomi
Bagan galaksi-galaksi satelit yang mengorbit Bima Sakti. 80% di antaranya mungkin adalah galaksi paling kuno di alam semesta, sebagaimana ditunjukkan oleh tingkat luminositas mereka yang ultra-redup.
Universitas Durham

Meskipun begitu, beberapa galaksi satelit Bima Sakti tetap tidak berubah selama miliaran tahun, termasuk galaksi katai Segue-1, Bootes I, Tucana II, dan Ursa Major I, mereka adalah beberapa galaksi generasi pertama alam semesta. Menurut Bose, para astronom telah menemukan sekitar 54 galaksi yang mengorbit Bima Sakti, tetapi hanya sekitar 47% wilayah langit yang telah diteliti secara memadai, sehingga perkiraan jumlah total galaksi satelit Bima Sakti berada di kisaran angka 100-150.

“Sekitar 80% galaksi satelit adalah galaksi purba, sedangkan sisanya adalah galaksi yang terbentuk belakangan,” Bose menyampaikan prediksi awal.

Fakta penemuan galaksi-galaksi tertua di alam semesta yang mengorbit Bima Sakti mungkin tidak terlalu mengejutkan, mengingat distribusi galaksi yang kurang merata. Apalagi sebelumnya para astronom telah mengitung usia beberapa galaksi purba di dekat kita. Studi yang digelar oleh Bose dan para kolega bertujuan untuk memperbaiki teori materi gelap dan evolusi kosmos.

“Saya rasa penelitian galaksi ultra-redup sangat menarik, karena dapat membantu kita untuk memahami proses pembentukan galaksi dan sifat materi gelap,” pungkas Bose. “Berbagai model materi gelap memprediksi perbedaan karakter galaksi-galaksi purba tersebut, seperti properti fisik, usia dan lain-lain. Jika kita memiliki informasi statistik tentang populasi mereka, kita dapat mempelajari sesuatu yang sangat fundamental seperti susunan kosmos.”

Ditulis oleh: Jay Bennett, www.popularmechanics.com


#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...