Langsung ke konten utama

Postingan

Nebula Kepala Monyet

Adegan video dimulai dari pemandangan langit malam di dekat rasi bintang Gemini dan Orion, yang selanjutnya diperbesar melalui observasi Teleskop Antariksa Hubble NASA ke puncak pilar-pilar Nebula Kepala Monyet.   Pilar-pilar di sepanjang salah satu tepi nebula ditampilkan dalam panjang gelombang cahaya kasat mata dan inframerah. Hubble kemudian mengungkap pemandangan gas dan debu yang menguap karena radiasi energik dari bintang-bintang belia.   Nebula Kepala Monyet, atau NGC 2174, adalah sebuah wilayah pabrik bintang di mana bintang-bintang terang yang baru saja terbentuk di dekat pusat nebula, menerangi gas di sekitarnya dengan radiasi energik.   Bersama dengan hembusan angin bintang yang sangat kuat, radiasi yang energik mengikis gas dengan massa jenis yang lebih rendah. Sementara kantong-kantong gas dengan massa jenis yang lebih tinggi mampu menahan erosi, dan membentuk pilar serta puncak di sepanjang tepi terdalam nebula.   Nebula Kepala Monyet terlihat berwarna...

Galaksi Andromeda dalam Panjang Gelombang Cahaya Kasat Mata

Andromeda adalah sebuah galaksi spiral raksasa terdekat dengan galaksi Bima Sakti kita. Diberi kode M31, Andromeda terletak sekitar 2,5 juta tahun cahaya dari Bumi dan membentang sekitar 220 ribu tahun cahaya.   Seperti inilah Andromeda terlihat dalam panjang gelombang cahaya kasat mata menggunakan teleskop berbasis darat. Namun, panjang gelombang cahaya kasat mata dianggap tidak mumpuni untuk menggambarkan Andromeda secara utuh.   Oleh karena itu, para astronom menindaklanjutinya dengan menggelar observasi dalam tiga panjang gelombang ultraviolet menggunakan Teleskop Antariksa Swift milik NASA. Dengan 24 jam total eksposur, para astronom telah merangkai galeri gambar Andromeda dalam satu mozaik besar, yang menghasilkan pemandangan ultraviolet paling tajam Andromeda hingga hari ini.   Dari mozaik itu, terungkap perbedaan mencolok antara tonjolan pusat dengan lengan-lengan spiral galaksi Andromeda. Tonjolan pusat galaksi tampak lebih halus dan lebih merah, karena dipenuhi ...

Sagitarius A*, Lubang Hitam Supermasif di Jantung Galaksi Bima Sakti

Selama sebagian besar sejarah peradabannya, umat manusia meyakini bahwa Bumi itu datar, dan jika berlayar terlalu jauh mengarungi lautan, maka kita akan jatuh dari tepian Bumi.   Bagi manusia modern, konsep semacam itu terdengar lucu karena kita cukup beruntung memiliki citra Bumi secara keseluruhan, untuk melihat bentuk planet kita yang sebenarnya.   Namun, dibutuhkan perkembangan teknologi selama ratusan tahun untuk mengambil foto planet Bumi yang tidak tersedia bagi nenek moyang kita.   Tahukah kamu, untuk melihat seluruh planet secara utuh, para ilmuwan harus menempuh perjalanan sejauh 20.000 kilometer dari permukaan Bumi ke luar angkasa.   Sekarang bayangkan seberapa jauh jarak yang harus ditempuh untuk memuat semua (300 miliar bintang), di galaksi Bima Sakti dalam satu jepretan kamera.   Saat ini kita belum mampu melakukannya, tetapi para ilmuwan dapat memotret sebagian kecil wilayah Bima Sakti, seperti wilayah pusat galaksi yang diabadikan oleh Observator...

Satelit TESS NASA Temukan Lubang Hitam Penghancur Bintang

Untuk pertama kalinya, satelit TESS besutan NASA telah menyaksikan secara langsung bagaimana lubang hitam menghancurkan sebuah bintang. Fenomena yang disebut gangguan pasang surut gravitasi ini, terjadi ketika sebuah bintang malang melintas terlalu dekat dengan lubang hitam.   Gravitasi ekstrem dari lubang hitam menyebabkan bintang tersebut membengkak dan hancur berkeping-keping. Lubang hitam menyedot gas dari bintang yang membentuk piringan akresi mengelilingi monster kosmik itu.   Fenomena gangguan pasang surut gravitasi yang disebut ASASSN-19bt, diidentifikasi melalui All-Sky Automated Survey for Supernovae di zona observasi berkelanjutan TESS.   Empat kamera TESS diarahkan untuk memindai sebagian besar wilayah langit, sementara satu kamera terus memantau wilayah ASASSN-19bt selama setahun penuh. Beberapa hari sebelum observatorium lain menemukannya, TESS menyaksikannya sesaat setelah ASASSN-19bt mulai meletus.   Adapun satelit Swift NASA dengan cepat mengamati le...

Teleskop yang Berukuran Lebih Besar dari Sebuah Galaksi, Mungkinkah?

Lebih dari 400 tahun yang lalu, Galileo mengarahkan sebuah teropong sederhana ke arah langit. Hanya dalam beberapa malam, Galileo telah mempelajari alam semesta melampaui akumulasi pengetahuan dari semua ilmuwan dan filsuf sebelum dirinya.   Sejak saat itu, para astronom seolah dipandu oleh sebuah prinsip sederhana: Buatlah Teleskop yang Lebih Besar.   Memasuki abad ke-21, teknologi optik telah berkembang pesat hingga jutaan kali era Galileo.   Teleskop menduduki gunung tertinggi, membentang melintasi gurun, mengisi lembah, dan bahkan terbang melintasi ruang angkasa.   Teleskop modern telah memberikan pemandangan sebening kristal dari bintang dan galaksi yang terletak miliaran tahun cahaya lebih jauh dari apa yang pernah diamati Galileo. Bahkan setiap terobosan dalam ukuran teleskop, membawa pemahaman baru yang lebih dalam tentang alam semesta.   Semakin besar ukurannya, semakin baik performa sebuah teleskop. Lalu seberapa besar teleskop yang dapat dibuat oleh u...

Takdir Pamungkas Bima Sakti dan Andromeda

Bayangkan ada sebuah galaksi yang jatuh ke atas kepalamu, tetapi yang lebih mengherankan kamu dapat terhindar darinya.   Para astronom NASA telah mengumumkan prediksi terkait fenomena masif yang berpengaruh besar terhadap galaksi, Matahari dan tata surya kita, yaitu tabrakan dahsyat antara Bima Sakti dengan Andromeda!   Data terbaru dari Teleskop Antariksa Hubble, telah mengkonfirmasi takdir pamungkas Bima Sakti empat miliar tahun yang akan datang, yang akan bertabrakan dengan galaksi tetangga terbesar Andromeda.   Meskipun tidak akan terlalu mengancam Bumi, tata surya kita diprediksi akan terlempar ke wilayah lain di dalam galaksi.   Setelah hampir satu abad spekulasi tentang takdir pamungkas Andromeda dan Bima Sakti, para astronom akhirnya memperoleh gambaran jelas tentang bagaimana tabrakan berlangsung selama miliaran tahun mendatang.   Para astronom telah lama mengetahui bahwa meskipun terpisah sekitar 2,5 juta tahun cahaya, Bima Sakti dan Andromeda saling t...

Nebula Kepiting Selatan

Secara resmi dikenal sebagai Hen 2-104, Nebula Kepiting Selatan terletak beberapa ribu tahun cahaya dari Bumi di rasi Centaurus. Sepasang bintang yang terdiri dari raksasa merah dan katai putih, bertanggung jawab penuh atas pembentukan nebula itu. Sebagian material yang terlontar dari lapisan terluar raksasa merah, ditarik oleh gaya gravitasi katai putih.   Interaksi sepasang bintang itu justru menyebabkan mereka tertanam dalam cakram datar gas yang membentang di antara keduanya seperti sebuah jam pasir.   Gelembung gas dan debu yang terlihat paling terang di tepi nebula, memberikan ilusi kaki-kaki kepiting. Para astronom menduga kaki kepiting merupakan tempat di mana aliran keluar menabrak gas dan debu antarbintang di sekitarnya, atau mungkin material raksasa merah yang sebelumnya hilang.   Aliran dari kaki kepiting diprediksi hanya bertahan beberapa ribu tahun, sangat singkat dibandingkan masa hidup sistem bintang biner itu. Berarti struktur terluar Nebula Kepiting Sela...