![]() |
Pemandangan terakhir cincin Saturnus oleh Cassini yang diambil pada tanggal 13 September. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute |
Anggota tim misi Cassini memenuhi kursi ruang kendali di Laboratorium Propulsi Jet (JPL) NASA di Pasadena, California. Jurnalis senior Shannon Stirone turut diundang untuk menyaksikan babak pamungkas misi Cassini.
Pukul 4:55 a.m., pesawat antariksa yang telah menjalankan misi selama 13 tahun, berakhir dalam kenangan yang kurang manis saat tim kehilangan sinyal Cassini setelah menembus puncak awan Saturnus. Kami berkumpul
di sebuah aula yang dihiasi dengan model-model pesawat antariksa seperti Voyager,
Juno dan tentu saja Cassini.
Hanya segelintir orang yang tidak memiliki tisu saat menyaksikan pengoperasian Cassini dari ruang kendali misi.
Manajer program Cassini Earl Maize menjalankan komunikasi antara tim dan deep space network, sembari menunggu menghilangnya sinyal begitu Cassini mulai terbakar di atmosfer Saturnus. Jaringan komunikasi cukup kuat dan tim menunggu hingga sinyal memudar. Tiga
puluh detik, melebihi waktu yang diperkirakan, sinyal akhirnya
menampilkan garis lurus pada radar.
"Saya menyatakan: manajer proyek keluar jaringan," kata Maize. Tidak ada sorak sorai. Ruang kendali misi terlihat
sunyi.
Perwakilan dari seluruh dunia telah menempuh perjalanan ke JPL untuk mengucapkan
selamat tinggal kepada Cassini di tempat ia dikandung, dikembangkan dan dioperasikan. Tak sedikit ilmuwan dan insinyur yang telah berkutat dalam misi selama beberapa
dekade. Karir sebagai seorang astronom telah dijalani, mulai dari membangun mimpi misi
Saturnus, merencanakan hingga berakhirnya misi. Meskipun misi berakhir hari ini, tim telah memberikan umat manusia pemandangan menakjubkan
dari Saturnus, yang dianggap sebagai planet paling menakjubkan di tata
surya. Seiring kepergian Cassini, terciptalah suasana seperti tradisi Irish Wake di JPL,
yaitu pesta setelah kematian seorang kerabat atau teman, perayaan dalam suasana
sedih.
Setelah menunaikan tanggung jawab terakhir, tim meninggalkan ruang kendali untuk bertepuk
tangan dan merayakan berakhirnya misi. Kamera para jurnalis menerangi anggota tim saat mereka saling mengucapkan selamat dan berpelukan.
"Kami menunggu hampir 30 detik lebih
lama dari yang diperkirakan, malam ini tiap menit terasa begitu lama,
dan misi telah berakhir," kata Julie Webster, manajer operasional Cassini.
"Pesawat antariksa telah melakukan semua yang kami minta, sampai akhir
hayatnya."
Entah bagaimana, terasa lebih sulit mendengar
pidato terakhir dari manajer operasional daripada kehilangan pesawat antariksa itu sendiri. Misi Cassini adalah proyek karir astronomi mereka. Karena misi telah berakhir, kini mereka harus memulainya lagi. Dan mungkin untuk sementara
ini, kita tidak lagi memiliki duta di Saturnus, namun Cassini telah meninggalkan
warisan yang tak ternilai dibandingkan misi pesawat antariksa lainnya dalam sejarah sains.
Cassini mengerahkan probe Huygens besutan ESA (Badan Antariksa Eropa), yang dijatuhkan melalui kabut Titan,
bulan terbesar Saturnus, berhasil mendarat dan mengirim ke Bumi satu-satunya foto permukaan Titan. Cassini juga berhasil menemukan deposit melimpah molekul air
di Enceladus, membuka kemungkinan habitabilitas sebuah dunia mungil yang berada jauh di luar zona hangat Matahari kita. Maaf Mars, tapi berkat Cassini,
Enceladus akan terus diburu untuk sebuah berita dengan headline "Apakah
ada kehidupan ...." pada masa yang akan datang.
Dan memang potensi kehidupan di sistem planet Saturnus adalah alasan utama mengapa Cassini senilai U.S. $ 4 miliar harus dihancurkan. Cassini telah kehabisan
bahan bakar, dan tim ingin menghindari kecelakaan yang tidak diinginkan, yaitu jatuh di Titan atau Enceladus. Cassini tidak disterilisasi sebelum
meninggalkan Bumi, walaupun kemungkinannya sangat tipis, tetap ada peluang
untuk mengkontaminasi kedua bulan tersebut. Cassini bisa saja menyimpan
beberapa mikroba dari Bumi, yang dapat mengkontaminasi kehidupan yang mungkin sedang
berkembang di Titan atau Enceladus. Jadi tim memutuskan untuk tidak
mengambil risiko sekecil apapun.
Tidak sulit menemukan alasan mengapa Cassini dianggap sebagai misi pengumpulan data sains keplanetan paling sukses sejauh ini. Dari sejak peluncuran yang tanpa kendala,
perjalanan selama tujuh tahun menuju Saturnus dan studi sains selama 13
tahun yang terus berlanjut mengenai sistem Saturnus, Cassini mengemban misi sesuai harapan.
Beberapa tahun yang lalu, tim sains dan
teknik Cassini menyadari bahwa misi ini bisa menghasilkan akhir yang bagus, yaitu kelanjutan misi baru
yang berbeda. Dengan menyesuaikan lintasan orbit yang baru, Cassini telah mengumpulkan data berharga dengan "menyelam" di antara Saturnus dan cincin
terdalamnya sebanyak 22 kali dengan kecepatan hingga 77.000 mil per jam. NASA menyebut rangkaian manuver pamungkas misi Cassini sebagai Grand Finale. Manuver berani yang memberi
para ilmuwan pemandangan bersejarah atmosfer
Saturnus yang bergolak. Pada saat tahap pertama memasuki atmosfer, Cassini berhasil
mengirim sebuah gambar badai besar di dekat kutub utara planet,
dengan angin yang berhembus hingga 1.200 mil per jam. Mata badai 20 kali
lebih besar daripada badai di Bumi.
![]() |
Lingkaran putih menunjukkan lokasi atmosfer Saturnus saat Cassini melakukan manuver pamungkas. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Universitas Arizona |
Meskipun Cassini lenyap
terbakar saat menembus atmosfer Saturnus, total volume informasi yang dikirim oleh Cassini selama misi akan menyibukkan para ilmuwan selama beberapa dekade, sembari menanti sekuel misi.
"Kami akan kembali," kata ilmuwan proyek Cassini Linda Spilker.
Warisan Cassini akan hidup melalui 356
gigabyte data yang dikumpulkan, 453.048 gambar yang diambil, 3.948 karya ilmiah
yang diterbitkan, dan yang terpenting, hidup dalam ingatan kolektif umat
manusia di seluruh dunia yang telah menikmati hubungan erat dengan
keindahan cincin Saturnus.
Tak diragukan lagi, hari ini memang terasa pahit
bagi tim dan semua orang yang mengagumi misi, tapi kita hanya mengucapkan
selamat tinggal kepada Saturnus untuk sementara. Pada akhirnya, kita akan
kembali dengan misi robotik yang akan berenang di lautan metana Titan dan
menggali permukaan es Enceladus. Dan selama kita menunggu misi eksplorasi ke Saturnus berikutnya, ada sekitar 500.000 gambar spektakuler yang bisa dilihat di situs web Cassini.
Tim juga ingin kita mengetahui bahwa mereka sedang
merencanakan eksplorasi planet masa depan melalui warisan Cassini di Saturnus. Layaknya semua tonggak sejarah, kita harus tahu di mana tempat kita untuk melihat ke
depan. Meski begitu, Maize merasa puas dan menikmati momen tersebut hingga beberapa
saat.
"Ada beberapa hal di dunia ini yang
sempurna: tawa seorang anak, Matahari terbenam di gurun ... dan misi Cassini," katanya.
Sumber:
Cassini’s Bittersweet Symphony
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar