Langsung ke konten utama

Bintang ‘Zombie’ yang Telah Meledak Bertahun-tahun dan Ogah Mati

Biasanya ketika sesuatu meledak, maka semuanya berakhir. Hal ini benar, bahkan apabila diterapkan di luar angkasa saat banyak bintang memicu ledakan dahsyat supernova. Namun, para astronom menduga mereka telah menemukan sesuatu yang luar biasa, sebuah bintang yang telah meledak dua kali dan ledakan terus berlanjut hingga sekarang. Mereka melaporkan temuan mereka dalam sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal Nature edisi 8/11/17.

Temuan berawal dari penelitian terhadap sebuah bintang, yang selanjutnya diabaikan oleh para astronom karena dianggap tidak menarik. Hingga seorang karyawan magang melihat kembali arsip data penelitian dan menemukan sesuatu yang aneh. “Dia melihat bintang yang telah pudar menjadi terang kembali, dan itulah yang menarik perhatiannya,” kata penulis utama makalah studi astronom Iair Arcavi dari Universitas California di Santa Barbara dan Observatorium Las Cumbres. “Fenomena yang tidak normal. Supernova seharusnya membuat bintang menjadi lebih terang untuk kemudian memudar.”

setelah-supernova-bintang-iptf14hls-menolak-mati-astronomi
Supernova yang terjadi singkat biasanya membuat bintang menjadi lebih terang untuk kemudian memudar.
Kredit: Pusat Penerbangan Antariksa Goddard/ESA/HUBBLE/L. CALCADA

Tapi bintang yang diberi kode iPTF14hls, tampaknya ogah mati. Pertama kali terlihat pada bulan September 2014, ia telah bersinar terang untuk kemudian meredup sebanyak lima kali sejak saat itu, sebuah fenomena yang belum pernah dilihat oleh para astronom sebelumnya.

Dan ketika arsip data dibuka, mereka justru menemukan sesuatu yang lebih aneh, ledakan di wilayah langit yang sama pada tahun 1954. “Kami belum dapat memastikan apakah ledakan tersebut dipicu oleh iPTF14hls,” Arcavi menjelaskan. “Tapi karena supernova tergolong langka dan galaksi induknya cukup kecil, kami mengira ada potensi probalitas 95-99% ledakan disebabkan oleh bintang yang sama.”

Arcavi bersama para kolega belum dapat menentukan penyebab yang menghasilkan pola aneh semacam ini. Namun mereka merujuk ke sebuah teori yang disebut "pulsational pair instability" untuk menjelaskan anomali. Dalam skenario ini, inti bintang yang berukuran sekitar 100 kali lebih besar daripada Matahari kita, bisa menjadi sangat panas sehingga energi berubah menjadi materi dan antimateri yang membuat bintang tidak stabil.

Bintang kemudian bertindak layaknya “seseorang yang menyekop salju dan secara bertahap melepaskan pakaian terluarnya”. Karena tidak stabil, lapisan terluar bintang akan terkelupas. Setelah itu bintang kembali stabil untuk sementara sampai suhu panas kembali meningkat drastis. Secara berturut-turut, setiap lapisan bintang akan menerjang lapisan yang telah terkelupas sebelumnya dan bisa menjelaskan pola aneh seperti yang dilihat oleh para astronom saat ini.

grafik-siklus-kecerahan-dan-keredupan-bintang-iptf14hls-astronomi
Garis kuning menunjukkan anomali siklus skala kecerahan cahaya bintang yang belum pernah terjadi sebelumnya.
LCO/S. WILKINSON.

Namun, teori "pulsational pair instability" tidak sesuai dengan data yang dikumpulkan oleh Arcavi dan kolega. Pada tahun 2014, mereka telah menemukan hidrogen yang jumlahnya lebih besar daripada hidrogen tipikal ledakan bintang. Karena merupakan unsur yang paling ringan, hidrogen paling mudah menghilang.

“Inilah teori yang paling mendekati penjelasan anomali ,” pungkas Arcavi “Mungkin dibutuhkan teori baru untuk menjelaskan keanehan pola.”

Bahkan mereka dapat terus mengamati fenomena serupa setiap beberapa hari sekali selama tiga tahun. Keunikan iPTF14hls dideteksi melalui jaringan observasi robotik global yang memudahkan pengumpulan dengan biaya yang lebih murah. Jaringan ini diharapkan membawa para astronom untuk menemukan fenomena serupa di lain hari, yang mengantar mereka selangkah lebih dekat untuk memecahkan rahasia bintang yang ogah mati.

Ditulis oleh: Meghan Bartels, www.newsweek.com


#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Bentuk Bulan Selalu Berubah?

Ketika memandang langit malam, kamu mungkin pernah memperhatikan bentuk bulan yang terlihat sedikit berbeda pada setiap malamnya. Perbedaan tampilan bentuk ini disebabkan oleh fase dan tipe bulan menurut sudut pandang kita di bumi. Bulan purnama berlangsung saat seluruh sisi bulan yang menghadap bumi diterangi oleh cahaya matahari. Tapi tahukah kamu, bulan purnama tidak selalu terlihat sama? Terkadang, bulan tampak bersinar merah. Sementara pada waktu yang lain, ukuran bulan tampak lebih besar daripada biasanya. Sebenarnya warna dan ukuran bulan tidak pernah berubah. Perubahan penampilan ini bisa terjadi karena pergeseran posisi bulan di antara matahari dan bumi. Ada beberapa jenis bulan purnama yang dianggap istimewa karena lebih jarang terjadi, Mereka adalah bloodmoon (bulan darah), supermoon (bulan super), blue moon (bulan biru) dan harvest moon . Bloodmoon (bulan darah) Bloodmoon di langit malam pada tahun 2014. Kredit: Pusat Penelitian Ames NASA/Brian Da...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Diameter Bumi

Kredit: NASA, Apollo 17, NSSDC   Para kru misi Apollo 17 mengambil citra Bumi pada bulan Desember 1972 saat menempuh perjalanan dari Bumi dan Bulan. Gurun pasir oranye-merah di Afrika dan Arab Saudi terlihat sangat kontras dengan samudera biru tua dan warna putih dari formasi awan dan salju antartika.   Diameter khatulistiwa Bumi adalah  12.756 kilometer . Lantas bagaimana cara para ilmuwan menghitungnya? Kredit: Clementine,  Naval Research Laboratory .   Pada tahun 200 SM, akurasi perhitungan ukuran Bumi hanya berselisih 1% dengan perhitungan modern. Matematikawan, ahli geografi dan astronom Eratosthenes menerapkan gagasan Aristoteles, jika Bumi berbentuk bulat, posisi bintang-bintang di langit malam hari akan terlihat berbeda bagi para pengamat di lintang yang berbeda.   Eratosthenes mengetahui pada hari pertama musim panas, Matahari melintas tepat di atas Syene, Mesir. Saat siang hari pada hari yang sama, Eratosthenes mengukur perpindahan sud...