Langsung ke konten utama

Bintang Paling Mematikan Barangkali Mendukung Habitabilitas Planet

Ilustrasi tentang planet layak huni yang mengorbit pulsar.
Kredit: Institut Astronomi Universitas Cambridge.

Pulsar adalah bintang paling ganas di alam semesta yang menyemburkan radiasi berbahaya yang mampu mensterilkan sebuah planet. Namun, studi terbaru justru mengklaim bagaimana pulsar berpotensi menciptakan habitabilitas bagi sistem planet yang mengorbitnya.

Diterbitkan di jurnal Astronomy and Astrophysics, makalah studi yang ditulis oleh dua ilmuwan dari Universitas Leiden di Belanda, mempelajari pulsar PSR B1257+12 yang terletak 2.300 tahun cahaya dari Bumi menggunakan Teleskop Antariksa Sinar-X Chandra NASA. Tiga dari lima planet yang telah diketahui mengorbit pulsar PSR B1257+12 adalah eksoplanet pertama yang ditemukan lebih dari dua dekade yang lalu.

Pulsar adalah bintang neutron yang berotasi sangat cepat, bagian inti dari bintang masif yang telah meledak dalam fenomena dahsyat supernova. Dengan massa setara Matahari namun dimampatkan ke volume seukuran sebuah kota, pulsar dapat berotasi ribuan kali per detik, sembari memancarkan sinar gamma dan sinar-X ganas di antara partikel-partikel lainnya.

Kondisi secamam ini tentunya tidak terlihat ramah bagi kehidupan. Namun, studi terbaru mengungkap kemungkinan zona layak huni pulsar yang terletak setara dengan wilayah orbit Bumi mengelilingi Matahari, yang berpotensi menopang air cair di permukaan planet.

“Menurut perhitungan kami, suhu planet (di zona layak huni) mungkin ideal untuk menopang air cair di permukaan,” menurut penulis utama makalah studi Alessandro Patruno dalam sebuah pernyataan.

Apakah pulsar mematikan seperti yang kita duga?
Kredit: Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA

Namun, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi. Planet yang mengorbit pulsar harus tergolong sebagai Bumi super, sekitar 4-5 kali lebih masif daripada planet kita. Mereka juga harus memiliki lapisan atmosfer yang sangat tebal untuk menahan radiasi ganas dari pulsar yang mereka orbit.

Dua dari tiga planet yang mengorbit PSR B1257+12 adalah Bumi super, meskipun belum diketahui apakah mereka memiliki atmosfer tebal yang melindungi kehidupan. Pasti akan menarik jika memang ada kehidupan di sana, mengingat pulsar tidak memancarkan cahaya kasat mata, berarti organisme biologis akan sangat berbeda dengan di planet kita.

“Dua planet Bumi super mungkin telah mempertahankan lapisan atmosfer setidaknya selama seratus juta tahun, asalkan atmosfer mengandung sebagian besar dari total massa planet,” tulis para penulis di makalah studi.

Kondisi di sana tentunya tidak ramah bagi manusia, karena tekanan dari atmosfer yang sangat tebal setara dengan tekanan di dasar samudera Bumi. Tapi kita tahu ada beberapa spesies yang mampu bertahan di dasar samudera Bumi, jadi mungkin saja kehidupan juga mampu bertahan di planet yang mengorbit pulsar.

Kedua planet berpotensi menyimpan deposit air yang melimpah, mengingat setiap planet yang terbentuk dari cakram puing-puing supernova dapat memperoleh akses ke molekul oksigen yang berlimpah. Jika berada di zona layak huni, suhu planet akan ideal untuk menopang eksistensi air cair.

“Saat ini belum ada ada cara untuk secara langsung mengamati atmosfer di kedua planet Bumi super tersebut,” kata Patruno kepada IFLScience. “Namun ada beberapa metode tidak langsung untuk mengetahui apakah mereka memiliki lapisan atmosfer tebal. Salah satunya adalah menggunakan emisi sinar-X yang berasal dari pulsar.”

Galaksi Bima Sakti diperkirakan dihuni oleh sekitar 1 juta bintang neutron dan 200.000 di antaranya adalah pulsar. Barangkali sistem planet yang mengorbit bintang ganas ini menjadi target menarik untuk mencari kehidupan di luar Bumi.

Ditulis oleh: Jonathan O’Callaghan, www.iflscience.com


Artikel terkait: Pulsar

#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Bentuk Bulan Selalu Berubah?

Ketika memandang langit malam, kamu mungkin pernah memperhatikan bentuk bulan yang terlihat sedikit berbeda pada setiap malamnya. Perbedaan tampilan bentuk ini disebabkan oleh fase dan tipe bulan menurut sudut pandang kita di bumi. Bulan purnama berlangsung saat seluruh sisi bulan yang menghadap bumi diterangi oleh cahaya matahari. Tapi tahukah kamu, bulan purnama tidak selalu terlihat sama? Terkadang, bulan tampak bersinar merah. Sementara pada waktu yang lain, ukuran bulan tampak lebih besar daripada biasanya. Sebenarnya warna dan ukuran bulan tidak pernah berubah. Perubahan penampilan ini bisa terjadi karena pergeseran posisi bulan di antara matahari dan bumi. Ada beberapa jenis bulan purnama yang dianggap istimewa karena lebih jarang terjadi, Mereka adalah bloodmoon (bulan darah), supermoon (bulan super), blue moon (bulan biru) dan harvest moon . Bloodmoon (bulan darah) Bloodmoon di langit malam pada tahun 2014. Kredit: Pusat Penelitian Ames NASA/Brian Da...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Diameter Bumi

Kredit: NASA, Apollo 17, NSSDC   Para kru misi Apollo 17 mengambil citra Bumi pada bulan Desember 1972 saat menempuh perjalanan dari Bumi dan Bulan. Gurun pasir oranye-merah di Afrika dan Arab Saudi terlihat sangat kontras dengan samudera biru tua dan warna putih dari formasi awan dan salju antartika.   Diameter khatulistiwa Bumi adalah  12.756 kilometer . Lantas bagaimana cara para ilmuwan menghitungnya? Kredit: Clementine,  Naval Research Laboratory .   Pada tahun 200 SM, akurasi perhitungan ukuran Bumi hanya berselisih 1% dengan perhitungan modern. Matematikawan, ahli geografi dan astronom Eratosthenes menerapkan gagasan Aristoteles, jika Bumi berbentuk bulat, posisi bintang-bintang di langit malam hari akan terlihat berbeda bagi para pengamat di lintang yang berbeda.   Eratosthenes mengetahui pada hari pertama musim panas, Matahari melintas tepat di atas Syene, Mesir. Saat siang hari pada hari yang sama, Eratosthenes mengukur perpindahan sud...