Kelanjutan dari artikel: Bidang Orbit Galaksi Satelit Menentang Prediksi Materi Gelap
3.) Ada yang salah dengan gagasan materi
gelap. Bagaimanapun juga, pentingnya efek fisik yang tercantum di atas terus diperdebatkan.
Seperti yang ditulis oleh penulis makalah studi terbaru: “Meskipun kita menemukan
bahwa kinematika galaksi-galaksi katai satelit Centaurus A tidak mungkin
terjadi secara kebetulan, fenomena ini tidak memungkinkan kita untuk segera menarik
kesimpulan tentang keselarasannya dengan prediksi CMD.” Simulasi yang paling modern gagal untuk mereproduksi apa yang
diamati di sekitar galaksi seperti Centaurus A, Bima Sakti, dan Andromeda, dan
penulis makalah studi menyatakan bahwa ketidaksesuaian ini adalah alternatif dari penjelasan materi gelap. Hal ini sangat mungkin,
seperti yang digagas penulis makalah studi, bahwa galaksi-galaksi satelit dapat muncul
dari penggabungan skala masif bersejarah antara dua galaksi berukuran setara. Memang masih diperdebatkan, tapi mungkin akan menarik.
Setiap perspektif memiliki beberapa bukti
untuk mendukungnya, namun prediksi distribusi seperti di lingkaran
halo, kecuali galaksi-galaksi satelit yang berukuran sangat
kecil, bukanlah fenomena yang terjadi di alam semesta. Untuk tiga galaksi besar, Bima
Sakti, Andromeda, dan Centaurus A, fakta oberservasi mengungkap bagaimana galaksi-galaksi satelit katai terlihat di bidang orbit yang mengelilingi galaksi
induk yang jauh lebih besar. Lebih jauh lagi, ada bukti sugestif bahwa galaksi-galaksi
katai bergerak bersamaan dengan rotasi galaksi induk. Namun, ketika kita melihat lingkungan kosmik di dekatnya, ada faktor penting yang turut berperan, ada
arus materi lokal, yaitu materi normal dan materi gelap, ke galaksi-galaksi. Jika ada suatu arah tertentu bagaimana materi jatuh ke dalam galaksi induk,
seharusnya ada suatu arah tertentu materi jatuh ke galaksi-galaksi satelit katai yang
terikat oleh galaksi induk.
![]() |
Figur yang menunjukkan arus galaksi saat ini. Arus di sepanjang jalan raya kosmik dan di jembatan menuju Virgo, di wilayah sekitar Bima Sakti, Andromeda dan Centaurus A. Noam Libeskind et al., 2015 |
Pada tahun 2015, satu tim astronom yang dipimpin
oleh Noam Libeskind menemukan efek ini. “Inilah pertama kalinya kami
melakukan verifikasi pengamatan jalan raya filamen yang memberikan jalan bagi galaksi-galaksi
melintasi kosmos di sepanjang jembatan materi gelap yang menakjubkan,” kata
Libeskind saat itu. Hampir tiga tahun kemudian, gambar dikonfirmasi dengan data dan presisi yang lebih baik. Tidak
ada indikasi tambahan untuk perbandingan materi gelap dari penelitian terbaru dengan penelitian sebelumnya. Kendati demikian, tim saat ini cenderung
bersikap skeptis terhadap CDM, dan cenderung mencari
penjelasan alternatif, seperti penggabungan utama antar galaksi berukuran raksasa untuk menjelaskan asal usul satelit dalam bidang orbit.
Dalam sebuah wawancara dengan Marcel
Pawlowski dari Universitas California, rekan penulis makalah studi Irvine mengemukakan pernyataan berikut: “Pada skala besar, simulasi CDM benar-benar dapat diterapkan. Saya pikir, secara umum kita harus lebih beragam dalam
pendekatan kita. Di sisi lain, MOND telah memprediksi dinamika berskala
kecil. Saya ingin melihat kemungkinan penggabungan keduanya. Superfluid materi
gelap adalah salah satu kemungkinan menarik yang memberi kita keberhasilan berskala besar dalam materi gelap, namun juga menghasilkan efek MOND
pada skala kecil. Saya pikir kita harus mendorong dan menyelidiki kemungkinan
ini lebih jauh. Saya tidak berpikir kita harus menyerah pada apapun, tapi saya
pikir bidang penelitian ini harus menerapkan pendekatan alternatif ini.”
Namun, sama seperti penemuan elemen
berat yang tidak diproduksi oleh bintang di awal alam semesta, tidak otomatis
membuat teori Big Bang salah, mungkin dua perspektif yang saling bersaing sama-sama
benar. Ada kemungkinan barion, materi pembentuk galaksi, mengalir
ke galaksi-galaksi melalui jalur filamen. CDM bertanggung jawab atas
struktur berskala besar dan fitur kosmos dan galaksi-galaksi katai satelit yang berasal dari penggabungan utama antar galaksi raksasa itu sendiri bukanlah prediksi CDM. Jika memang demikian, kita benar-benar mengharapkan galaksi-galaksi yang disembunyikan oleh lingkaran
halo, didominasi oleh barion, bukannya materi gelap. Menariknya, dalam beberapa kasus, galaksi-galaksi katai satelit justru menunjukkan percampuran. Hasil studi sesuai dengan prediksi lingkaran halo CDM, sementara di studi yang lain, perkiraan
CDM tampaknya terlalu melebih-lebihkan massa materi gelap. Model terpadu yang menghitung seluruh rangkaian pengamatan, masih menghindari kita.
Lantas, siapa yang benar? Seiring simulasi yang lebih baik untuk menambahkan dinamika lain seperti interaksi antara
materi gelap, radiasi dan materi normal, umpan balik dari pembentukan bintang,
efek kecepatan lokal tertentu dan lebih banyak lagi, kinerja simulasi cenderung sesuai dengan observasi, meskipun belum benar-benar sempurna dan tentunya tidak
universal. Di sisi lain, alternatif penjelasan materi gelap masih menemui jalan buntu saat mencoba mereproduksi jaringan kosmik, latar belakang gelombang mikro
kosmik atau dinamika tabrakan antara gugus galaksi. Namun penting untuk tetap
berpikiran terbuka asalkan bukti tak terbantahkan untuk CDM hilang. Ingat, ini adalah teka-teki evolusi dan penggabungan galaksi,
bukan tentang materi gelap. Seperti yang dijelaskan Michael Boylan-Kolchin, “Hasil penelitian dapat memberikan pemahaman yang lebih
baik tentang pembentukan galaksi dalam CDM atau dorongan
untuk menggulingkan asumsinya yang fundamental.”
Karena rangkaian keberhasilan di semua
skala, materi gelap tetap terlibat, setidaknya untuk saat ini. Namun pembentukan dan evolusi galaksi, terutama pada skala yang lebih kecil, akan
tetap menjadi area penelitian yang diselimuti banyak teka-teki yang belum
terpecahkan selama tahun-tahun mendatang.
Ditulis
oleh: Ethan Siegel, kontributor www.forbes.com
#terimakasihgoogle
Komentar
Posting Komentar