Dari tujuh planet terestrial seukuran Bumi di sistem TRAPPIST-1, beberapa diantaranya diduga berpotensi menampung air cair dalam jumlah yang lebih besar daripada air cair di Bumi, menurut sebuah penelitian terbaru
yang makalah studinya telah dipublikasikan di jurnal Astronomy
and Astrophysics. Massa jenis sistem planet dapat diketahui secara lebih akurat daripada sebelumnya, dan tim astronom memprediksi 5% massa dari beberapa planet adalah air cair, yang berarti 250 kali lipat lebih banyak
daripada lautan di Bumi.
Wujud air di sistem planet TRAPPIST-1 sangat bergantung pada
jumlah panas yang diterima dari bintang induk yang massanya hanya 9% Matahari kita. Planet-planet terdekat cenderung menyimpan air dalam wujud uap atmosfer, sedangkan air di planet-planet terjauh kemungkinan terkunci di dalam permukaan es. Sementara TRAPPIST-1e diyakini paling berpotensi menampung air cair.
Tim astronom menggunakan Teleskop Antariksa Hubble NASA untuk melakukan survei
spektroskopi pertama terhadap planet-planet seukuran Bumi yang mengorbit dari zona layak huni sistem
TRAPPIST-1. Hubble mengungkap setidaknya lima planet wilayah terdalam tampaknya tidak mengandung lapisan atmosfer yang sangat tebal maupun melimpah dengan
unsur hidrogen serupa planet gas Neptunus. Berarti atmosfer mereka mungkin lebih dangkal dan melimpah dengan molekul gas yang lebih berat seperti
karbon dioksida, metana, dan oksigen.
“Kita sekarang memiliki lebih banyak informasi tentang TRAPPIST-1 daripada sistem planet lain, selain tata surya kita sendiri,” ungkap rekan penulis makalah studi Sean Carey, manajer
Pusat Sains Spitzer di Caltech/IPAC, Pasadena, California. “Peningkatan informasi massa jenis dalam studi kami secara dramatis memperbaiki pemahaman kita tentang sifat sistem planet ini.”
Sejak
sistem TRAPPIST-1 diumumkan kepada publik pada bulan Februari 2017, para ilmuwan telah bekerja keras untuk melakukan karakterisasi dan mengumpulkan lebih banyak informasi tentang mereka. Studi terbaru menawarkan perkiraan yang lebih baik daripada sebelumnya untuk faktor massa jenis planet.
Apa Itu TRAPPIST-1?
Sistem TRAPPIST-1 menyandang nama teleskop yang menemukannya, Planet
Transiting dan Planetesimals Small Telescope (TRAPPIST) di Chili, yang
menemukan dua dari tujuh planet dan mempublikasikan penemuannya pada tahun 2016. Kemudian Teleskop Antariksa Spitzer NASA,
bekerja sama dengan jajaran teleskop berbasis darat, mengkonfirmasi lima planet tambahan di dalam sistem.
Sejak
saat itu, Teleskop Antariksa Kepler NASA turut mengamati sistem
TRAPPIST-1, sementara Spitzer memulai program 500 jam ekstra observasi terhadap
TRAPPIST-1 yang akan berakhir pada bulan Maret. Data-data terbaru telah membantu
para penulis makalah studi untuk mempelajari sistem secara lebih jelas daripada
sebelumnya, meskipun masih banyak yang harus dipelajari dari sistem TRAPPIST-1.
Planet-planet
TRAPPIST-1 berjubel begitu dekat, sehingga seseorang yang berdiri
di permukaan salah satu planet akan melihat pemandangan langit spektakuler
dari planet-planet lainnya, yang terkadang ukurannya lebih besar daripada Bulan di langit Bumi. Mereka diduga mengalami penguncian pasang surut, yang berarti hanya satu sisi planet yang selalu menghadap bintang induk dan menghasilkan siang dan malam permanen. Meskipun jarak ketujuh planet dari bintang induk lebih dekat daripada jarak Merkurius-Matahari, TRAPPIST-1 adalah bintang yang dingin, sehingga secara teori beberapa planet berpotensi menampung deposit air cair.
Dalam
penelitian terbaru ini, tim ilmuwan yang dipimpin oleh Simon Grimm dari Universitas
Bern di Swiss, membuat model komputer untuk mensimulasikan sistem planet berdasarkan semua informasi yang tersedia. Untuk setiap planet, tim harus membuat model berdasarkan pengukuran massa terbaru, periode orbital dan
berbagai faktor lainnya, yang menjadi kendala terbesar untuk model 3D komputasi, menurut Grimm. Dibutuhkan sebagian besar waktu sepanjang tahun 2017 untuk menciptakan teknik baru dan menjalankan simulasi demi mengkarakterisasi komposisi planet.
Komposisi Sistem Planet TRAPPIST-1
Mustahil mengetahui secara akurat bagaimana setiap planet akan terlihat, mengingat
jaraknya yang sangat jauh. Bahkan di tata surya kita sendiri, massa jenis Bulan dan Mars hampir sama, namun permukaan mereka sangat berbeda.
“Faktor massa jenis untuk sementara menjadi petunjuk penting untuk mengetahui komposisi
planet, jangan katakan apapun tentang habitabilitas. Namun studi kami merupakan sebuah langkah maju karena kita terus mengeksplorasi
apakah planet-planet ini berpotensi menampung kehidupan,” ujar rekan penulis makalah studi Brice-Olivier
Demory dari Universitas Bern.
Berdasarkan
data yang tersedia, berikut prediksi terbaik bagaimana sistem TRAPPIST-1 terlihat:
TRAPPIST-1b adalah planet terdalam yang intinya cenderung berbatu dan diselimuti oleh atmosfer
yang jauh lebih tebal daripada Bumi. Interior TRAPPIST-1c juga cenderung berbatu, tapi lapisan atmosfernya lebih tipis daripada planet b.
TRAPPIST-1d adalah planet yang massanya paling kecil, hanya sekitar 30% massa Bumi. Para ilmuwan tidak yakin apakah TRAPPIST-1d memiliki lapisan
atmosfer yang tebal, lautan atau lapisan es, karena ketiga karakteristik ini akan memberikan “lapisan” unsur volatil yang dirasa masuk akal menurut faktor massa jenis planet.
Para
ilmuwan terkejut setelah mengetahui TRAPPIST-1e adalah satu-satunya planet di dalam sistem yang sedikit lebih padat daripada Bumi, mengindikasikan kemungkinan inti besi
yang lebih padat daripada Bumi. Seperti planet c, TRAPPIST-1e diduga tidak tidak
memiliki lapisan atmosfer yang tebal, lautan atau es, yang membedakan mereka berdua dari ketujuh planet di dalam sistem. Juga belum diketahui mengapa komposisi TRAPPIST-1e jauh lebih berbatu dibandingkan planet-planet lainnya.
Dalam hal ukuran, massa jenis dan jumlah radiasi yang diterima dari bintang induk, TRAPPIST-1e
adalah planet yang paling mirip Bumi.
TRAPPIST-1f,
g dan h berada cukup jauh dari bintang induk sehingga molekul air membeku sebagai permukaan es. Jika memiliki lapisan atmosfer yang tipis, mereka
tidak mungkin mengandung molekul-molekul berat, seperti karbon dioksida.
“Sangat
menarik, planet terpadat bukanlah yang paling dekat dengan bintang induk, sedangkan planet terdingin tidak memiliki lapisan atmosfir yang tebal,” tambah rekan penulis makalah studi Caroline Dorn dari Universitas Zurich di Swiss.
Bagaimana Kita Mengetahuinya?
Para
ilmuwan dapat mengukur massa jenis sistem planet TRAPPIST-1 karena posisi mereka kebetulan
sejajar saat melintas di depan bintang induk, sehingga jajaran teleskop
berbasis darat dan antariksa dapat mendeteksi penurunan skala kecerahan cahaya bintang induk. Metode ini disebut transit, yang mengukur seberapa banyak cahaya bintang meredup untuk menentukan radius planet.
Untuk
mendapatkan perkiraan massa jenis, para ilmuwan memanfaatkan “variasi
waktu transit”. Jika tidak ada gaya gravitasi lain yang memengaruhi saat transit,
maka planet akan selalu melintas di depan bintang induk secara periodik, misalnya, Bumi yang mengorbit Matahari setiap 365 hari sekali, yang juga
menjadi cara kita untuk mendefinisikan satu tahun. Tapi karena sistem planet
TRAPPIST-1 tersusun begitu rapat, maka mereka saling memengaruhi durasi “tahun” (orbit) satu sama lain. Variasi orbital digunakan untuk
memperkirakan massa planet, kemudian massa dan radius digunakan untuk
menghitung faktor massa jenis.
![]() |
Ilustrasi ketujuh planet TRAPPIST-1 yang seukuran Bumi. Gambar memang tidak menunjukkan skala orbit, namun menyoroti kemungkinan bagaimana permukaan mereka terlihat. Kredit gambar: NASA/JPL-Caltech |
Langkah Selanjutnya
Langkah
selanjutnya untuk mengeksplorasi TRAPPIST-1 adalah menggunakan Teleskop Antariksa James
Webb NASA yang akan segera diluncurkan. Webb mumpuni untuk mengungkap apakah sistem planet memiliki atmosfer, dan jika memang benar ada, seperti apa lapisan atmosfer mereka. Studi terbaru menggunakan Hubble tidak mendeteksi atmosfer yang didominasi oleh unsur hidrogen di planet TRAPPIST-1d, e dan f, bukti lain bahwa komposisi mereka berbatu,
meskipun atmosfer yang didominasi hidrogen tidak dapat dikesampingkan untuk TRAPPIST-1g.
Ilustrasi sistem planet TRAPPIST-1 akan berubah seiring observasi tindak lanjut untuk mengungkap sifat alamiah mereka.
“Ilustrasi kami yang menggambarkan seperti apa sistem planet terlihat saat ini, mungkin akan berubah secara dramatis dari
waktu ke waktu,” pungkas Robert Hurt, seorang ilmuwan senior bidang visualisasi di
Pusat Sains Spitzer. “Seiring upaya kita untuk mempelajari mereka secara lebih mendalam, ilustrasi yang kami buat tentunya akan berubah sebagai respons terhadap pemahaman
kita yang semakin baik.”
Ditulis
oleh: Elizabeth Landau, Laboratorium Propulsi Jet NASA, www.jpl.nasa.gov
#terimakasihgoogle
dan #terimakasihnasa
Komentar
Posting Komentar