Langsung ke konten utama

Teori Einstein Lolos Ujian Lubang Hitam

pergeseran-merah-gravitasi-lubang-hitam-informasi-astronomi
Ilustrasi pergerakan sebuah bintang saat melewati medan gravitasi lubang hitam.
ESO/M. KORNMESSER

Lubang hitam di pusat galaksi Bima Sakti kita telah membantu para astronom untuk mengkonfirmasi prediksi kunci dari gagasan-gagasan yang dicetuskan Albert Einstein. Dengan mengamati gugus bintang yang berada di dekat lubang hitam, mereka mampu mengkonfirmasi fenomena yang disebut “pergeseran merah gravitasi” atau panjang gelombang cahaya yang merentang sebagai respons terhadap medan gravitasi. Hasil studi diharapkan membantu para ilmuwan untuk lebih memahami fisika lubang hitam.

Very Large Telescope (VLT) ESO yang ditempatkan di Chili, menemukan bukti prediksi Einstein melalui observasi sebuah bintang yang diberi kode S2, saat melewati medan gravitasi kuat Sagitarius A*, lubang hitam supermasif di jantung galaksi Bima Sakti. Efek pergeseran merah gravitasi yang mereka amati terjadi saat partikel cahaya (foton) berusaha memanjat keluar dari "sumur" gravitasi lubang hitam yang merentangkan panjang gelombang cahaya.

albert-einstein-gembira-lucu-informasi-astronomi
Albert Einstein tentunya merasa senang.
Getty Images

Pergeseran panjang gelombang mengarah ke wilayah merah spektrum cahaya, oleh karena itu disebut “pergeseran merah”. Fenomena ini telah diprediksi oleh teori relativitas umum Einstein, tetapi tidak pernah diamati di medan gravitasi yang kuat seperti lubang hitam.

Frank Eisenhauer dari Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics (MPE) di Jerman mengatakan, pengukuran membuka pintu untuk studi lebih lanjut terkait fisika lubang hitam. Di masa yang akan datang, katanya, “Kita akan menemukan lebih banyak efek relativitas umum di lubang hitam supermasif pusat galaksi. Kita akan melihat perubahan orbit bintang, kita akan melihat cahaya berputar, kita bahkan akan melihat jalinan ruang dan waktu berotasi bersama lubang hitam.”

Sesama ilmuwan MPE Reinhard Genzel mengatakan: “Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mendekati horizon peristiwa (batas tidak bisa kembali) lubang hitam, yang mungkin menghasilkan fenomena penyimpangan sesuai teori Einstein.”

Sementara Françoise Delplancke dari Observatorium Eropa Selatan (ESO) yang mengoperasikan VLT mengatakan, hukum fisika hanya bisa diuji di tata surya di bawah kondisi tertentu. “Jadi sangat penting bagi astronomi, untuk mempelajari bagaimana hukum fisika berlaku di wilayah yang medan gravitasinya sangat kuat,” jelasnya.

very-large-telecope-chile-informasi-astronomi
Very Large Telescope di Chile.
ESO/A. GHIZZI PANIZZA

S2 adalah salah satu anggota gugus bintang yang mengelilingi Sagitarius A*. Gugus bintang melaju lebih cepat saat mendekati lubang hitam, demikian pula S2 yang mengorbit Sagitarius A* setiap 16 tahun sekali dari jarak sangat dekat. Para astronom mengikuti orbit S2 sebelum dan sesudah melewati lubang hitam pada tanggal 19 Mei 2018 dan melacak perkembangannya setiap jam. Saat melewati lubang hitam dari jarak 120 kali lipat jarak Bumi-Matahari, S2 mencapai kecepatan orbital yang menakjubkan, 8.000 km/detik atau setara dengan sekitar 2,7% kecepatan cahaya.

Para astronom menemukan cahaya S2 merentang ke panjang gelombang yang lebih panjang karena efek medan gravitasi Sagitarius A*. Penemuan yang sejalan dengan teori relativitas umum dan tidak dapat dijelaskan oleh konsep Sir Isaac Newton karena tidak memprediksi pergeseran semacam itu.

“Dalam sepakbola, kita akan mengatakan 1-0 untuk Einstein," tutur Frank Eisenhauer.

ilustrasi-lubang-hitam-informasi-astronomi
Ilustrasi lubang hitam. Para astronom juga ingin menguji aspek-aspek fisika lainnya di sekitar lubang hitam.
SPL

Odele Straub dari Observatorium Paris di Prancis, mengatakan: “Apa yang kami harapkan adalah fenomena di pusat galaksi yang tidak dapat dijelaskan dengan teori Einstein. Sangat menarik, karena kami bisa kembali ke papan tulis demi teori yang lebih baik.”

Para astronom terus melacak S2, observasi lintasan orbitnya harus menghasilkan penemuan baru terkait kondisi ekstrem di sekitar lubang hitam pusat galaksi Bima Sakti. Fenomenabpergeseran merah gravitasi berlangsung karena untuk meloloskan diri dari sumur gravitasi lubang hitam, partikel cahaya (foton) harus mengeluarkan energi. Namun pada saat yang sama, foton harus terus melaju dengan kecepatan konstan.

Foton tidak dapat mengeluarkan energi sembari memperlambat kecepatan, oleh karena itu energi harus dikeluarkan dengan cara lain. Energi yang terlepas memanifestasikan dirinya sebagai pergeseran menuju ujung merah spektrum cahaya.

Makalah studi yang melaporkan hasil penelitian telah dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics.

Ditulis oleh: Paul Rincon, www.bbc.com



#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...