Sebuah
eksoplanet berbatu yang diberi kode Gliese 581d, mungkin adalah planet pertama di
luar tata surya yang diduga mampu menopang kehidupan seperti di Bumi, sebagaimana dilaporkan oleh sebuah penelitian terbaru.
Tim astronom yang menggelar studi pemodelan terhadap atmosfer Gliese
581d, menyimpulkan planet ini mungkin berada di “zona layak huni”, sebuah jarak ideal yang memungkinkan keberadaan air cair. Gliese 581d mungkin adalah sebuah dunia yang menampung kehidupan di dalamnya, barangkali mirip Bumi, mempunyai lautan, awan dan curah hujan.
Kesimpulan
ini konsisten dengan beberapa studi pemodelan lainnya, meskipun tidak berani menetapkan keberadaan air cair yang mengalir di
permukaan dan menopang kehidupan.
Studi terbaru berasumsi Gliese 581d yang sekitar tujuh kali lipat lebih masif
daripada Bumi, memiliki lapisan atmosfer tebal berbasis karbon dioksida.
Gliese 581: Sistem Bintang
dengan Sejuta Kemungkinan
Bintang
induk Gliese 581 adalah bintang tipe katai
merah yang terletak 20 tahun cahaya dari Bumi, relatif dekat menurut skala jarak kosmik. Sejauh ini, para astronom telah mendeteksi enam
planet yang mengorbit Gliese 581 dan Gliese 581d bukanlah satu-satunya planet yang
menarik perhatian para astronom untuk menemukan kehidupan di luar Bumi.
Planet
lain di dalam sistem yang diberi kode Gliese 581g, ukurannya sekitar tiga kali lipat
lebih besar daripada Bumi dan dianggap sebagai planet berbatu. Gliese
581g telah membangkitkan minat para astronom sejak penemuannya diumumkan pada bulan
September 2010, karena berada tepat di tengah zona layak huni. Jika dikonfirmas oleh studi tindak lanjut, 581g akan menjadi kandidat utama planet yang menopang air cair dan mungkin kehidupan.
Beberapa
peneliti mempertanyakan analisis yang diterapkan untuk menemukannya, sebab mereka tidak dapat mengkonfirmasi eksistensi 581g dalam studi tindak lanjut.
Pertama kali ditemukan pada tahun 2007, 581d mengorbit lebih jauh daripada 581g, cukup jauh dari bintang induk sehingga suhunya diperkirakan terlalu dingin untuk menopang kehidupan.
Tetapi efek rumah kaca mungkin berpotensi menghangatkan Gliese 581d secara
signifikan, sehingga dapat menopang air cair di
permukaan.
Itulah kesimpulan sementara dari studi terbaru, termasuk beberapa studi lainnya
oleh tim ilmuwan independen yang juga membuat model atmosfer Gliese 581d.
![]() |
Ilustrasi Eksoplanet Gliese 581d |
Pemodelan Atmosfer Gliese
581d
Planet
Gliese 581d menerima kurang dari sepertiga energi bintang yang diterima oleh Bumi
dari Matahari kita dan mungkin mengalami penguncian pasang surut. Berarti satu sisi planet selalu menghadap bintang induk, menyebabkan siang hari
permanen, sedangkan sisi lainnya selalu membelakangi bintang induk, menyebabkan
malam hari permanen.
Setelah
penemuan Gliese 581d, komunitas ilmuwan menganggap setiap lapisan atmosfer yang
cukup tebal untuk menjaga suhu hangat tetap planet, akan tetap dingin di sisi malam hari yang permanen, membekukan air dan merusak iklim, kata para peneliti.
Tim
peneliti kemudian menguji dan mengembangkan model komputer yang
mensimulasikan atmosfer dan permukaan eksoplanet dalam 3D. Model
atmosfer yang dikembangkan mirip dengan yang digunakan untuk mempelajari
perubahan iklim di Bumi.
Ketika
tim menjalankan model, Gliese 581d berpotensi menampung air cair jika memiliki lapisan atmosfer karbon
dioksida yang padat. Meskipun relatif jauh dari bintang induk katai merah redup, 581d dapat dihangatkan oleh efek rumah kaca, dengan
panas saat siang hari disirkulasikan di sekitar planet oleh atmosfer.
Studi digelar oleh para ilmuwan dari Laboratoire de Métrologie Dynamique di
Institut Pierre Simon Laplace di Paris, Prancis, yang telah mempublikasikan makalah ilmiah mereka di Astrophysical Journal Letters.
Hasil Studi Tetap Spekulatif
Untuk
menentukan secara konklusif apakah Gliese 581d benar-benar layak huni, penelitian
di masa depan harus mendeteksi dan mengkarakterisasi atmosfernya secara
langsung. Dengan teknologi saat ini, pesawat antariksa juga belum mampu mencapainya dalam waktu dekat, karena dibutuhkan waktu ratusan ribu tahun untuk menempuh perjalanan sejauh 20 tahun cahaya.
Ditulis
oleh: Mike Wall, Penulis Senior www.space.com
Komentar
Posting Komentar