![]() |
Bukan hanya di luar angkasa, misi NASA juga menetes kembali ke Bumi. |
Lain
kali, jika menggunakan pesawat terbang untuk berpergian ke luar negeri atau sekadar menempuh perjalanan udara jarak pendek, berterima kasihlah kepada NASA.
Badan Antariksa Amerika Serikat yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-60, sangat dikenal karena
keberhasilannya menempatkan manusia di luar angkasa, termasuk yang
terdepan di bidang penerbangan.
Setiap
penerbangan yang kita kenal saat ini, dapat terwujud karena teknologi yang
dikembangkan oleh NASA, mulai dari bentuk pesawat hingga sistem lalu lintas
penerbangan yang menavigasi pesawat untuk tiba di tempat tujuan. Kita mungkin
belum pernah merasakan sensasi terbang ke Bulan, tapi kita telah menikmati beberapa dekade
penelitian penerbangan NASA.
Tujuan
utama Direktorat Misi Penelitian Aeronautika NASA adalah untuk mewujudkan
transportasi udara yang lebih baik bagi semua orang, bukan hanya demi pilot
pesawat tempur atau astronot pesawat ulang-alik.
“Salah satu ambisi
kami adalah membantu industri kedirgantaraan AS agar menjadi yang
terdepan di pasar global,” kata Peter Coen, Manajer Proyek Teknologi Supersonik
Komersial NASA. “Kami menempatkan teknologi yang secara esensial dapat
digunakan oleh bisnis kedirgantaraan untuk menghasilkan produk-produk terbaik.”
Demi memenuhi ambisinya, NASA telah melakukan berbagai proyek penelitian jangka
panjang untuk membangun pesawat generasi berikutnya. Tak sekadar membatasi diri
pada terobosan desain eksperimental, NASA juga berupaya menyempurnakan pesawat agar lebih aman, bersih dan lebih
cepat. Beberapa model terobosan baru NASA adalah terowongan angin yang belum diterapkan ke penerbangan komersial, sebuah
pesawat yang menggabungkan sayap dan badan ke dalam struktur tunggal.
Sebelum dan Sesudah NASA
Sejarah
penerbangan NASA dimulai lebih dari satu abad yang lalu, ketika Komite
Penasihat Aeronautika Nasional AS (NACA) dibentuk pada tahun 1915, yang hari
ini menjelma sebagai Pusat Penelitian Langley NASA. Saat itu NACA melakukan
eksperimen bentuk sayap pesawat, mendesain terowongan angin pertama dan membantu mengembangkan X-1, pesawat pertama yang menembus kecepatan suara.
Ketika
pertama kali dibentuk pada tanggal 1 Oktober 1958, NASA memperoleh semua
penelitian penerbangan yang dilakukan oleh NACA, tepat pada era lepas landas
transportasi massal udara. Salah satu proyek penerbangan pertama NASA adalah
penelitian pesawat X-15 berkekuatan roket, awal dari serangkaian eksperimen jangka panjang
X-planes yang berlanjut
hingga sekarang. X-15 telah memecahkan rekor kecepatan, menetapkan altitude dan mengumpulkan serangkaian data yang mendukung penerbangan antariksa.
Perkembangan
selanjutnya menetes ke setiap aspek penerbangan saat ini. Kerangka utama
pesawat yang terbuat dari material komposit telah membuat pesawat
seperti Boeing 787 dan Airbus A350 menjadi lebih kuat dan lebih ringan, sayap
tambahan menghemat bahan bakar karena membantu pesawat untuk terbang dengan lebih efisien dan sistem visi sintetis memungkinkan para pilot untuk lebih
aman saat menerbangkan pesawat karena selalu menyediakan informasi tentang
lingkungan di sekitar mereka.
NASA
tidak hanya berhenti di sana. Berikut tiga eksperimen NASA untuk menguasai
langit biru!
Penerbangan Supersonik
Dalam
hampir tiga dasawarsa, Concorde adalah satu-satunya pesawat terbang supersonik yang
melayani transportasi udara, melayani perjalanan udara tercepat dan paling eksklusif. Meskipun suara mesin memekakkan telinga saat lepas landas, pesawat
penumpang supersonik ini hanya mengeluarkan emisi di altitude tinggi (sekitar
56.000 kaki) dan sangat mahal untuk dioperasikan.
Beberapa
regulasi juga membatasi atau melarang ledakan sonik di permukaan. Concorde dilarang beroperasi secara permanen pada tahun 2003, tetapi NASA terus berupaya
untuk membantu para penumpang melaju melampaui kecepatan suara
lagi dengan mengurangi efek ledakan sonik yang sangat mengganggu dan merusak.
“Kami
ingin sampai ke titik yang memungkinkan sebuah pesawat supersonik dapat
terbang di rute mana pun secara efisien dan ramah lingkungan,” Coen menjelaskan.
Pada
bulan April, NASA mengumumkan kemitraan dengan Lockheed Martin untuk membuat
sebuah pesawat yang diuji coba menggunakan teknologi “ledakan rendah sonik” dan dijadwalkan memulai penerbangan komersial pertama pada tahun 2021.
Keduanya mengeluarkan pernyataan bahwa Low-Boom
Flight Demonstrator (LBFD) atau X-59 QueSST, menghasilkan ledakan
sonik yang hanya terdengar seperti ketika kita menutup pintu mobil dengan keras, bukannya gemuruh kebisingan yang dihasilkan oleh Concorde.
![]() |
Concordes yang telah dimuseumkan di Museum Bristol, Inggris. Andrew Hoyle/CNET |
Kunci
untuk meredam ledakan sonik terletak pada struktur desain LBFD. Hidung pesawat yang
panjang dan runcing, sayap yang membentang dan sayap tambahan kecil yang
diposisikan di depan sayap utama, memastikan gelombang kejut yang
dihasilkan pesawat pada kecepatan yang melampaui Mach 1 (kecepatan
suara), tidak akan pernah menyatu dan menyebabkan gemuruh ledakan sonik.
“Kami
telah menemukan cara terbaik untuk mengurangi (ledakan sonik) dengan cara mengontrol
gaya dan posisi masing-masing gelombang sehingga relatif sama dalam hal gaya dan relatif merata di sepanjang badan pesawat,” tambah Coen. “Jika dapat terwujud, ledakan sonik tidak akan menyatu.”
Sampai
LBFD dinyatakan layak terbang, NASA akan terus melakukan uji coba menggunakan
salah satu pesawat F/A-18, untuk mempelajari apakah ledakan rendah sonik dapat dilakukan.
Selama uji coba yang dimulai pada bulan November, F/A-18 akan terbang di
ketinggian hampir 50.000 kaki di atas Teluk Meksiko dari Galveston, Texas, dan melaju
dalam kecepatan supersonik sebelum turun di ketinggian sekitar 30.000 kaki.
Ledakan sonik yang dihasilkan di ketinggian 50.000 kaki akan sesuai dengan prediksi
LBFD, yang diistilahkan oleh NASA sebagai “dentuman sonik”.
![]() |
X-59 QueSST yang dikembangkan oleh NASA bekerja sama dengan Lockheed Martin dijadwalkan untuk terbang perdana pada tahun 2021. NASA/Lockheed Martin |
Setelah
uji awal penerbangan untuk menilai kinerja umum LBFD sebagai sebuah pesawat
terbang, Lockheed dan NASA akan mulai menerbangkannya dalam kecepatan supersonik
pada tahun 2022 ke daerah-daerah padat penduduk dari Pangkalan Udara Edwards
California. Uji coba memiliki misi ganda, memastikan agar ledakan sonik LBFD tetap rendah dan mengukur respons publik terhadapnya. Coen berharap para penduduk tidak merasa keberatan dengan kebisingan di atas
mereka.
“Kami ingin mendapatkan tanggapan seluas mungkin,” katanya. “Kami ingin
memahami efek yang dirasakan oleh warga secara regular dan individual.”
Tetapi meskipun uji coba berhasil, masih ada satu rintangan regulasi yang
harus dihadapi. Sejak tahun 1973, Federal
Aviation Administration (FAA) telah melarang penerbangan supersonik komersial di
wilayah udara Amerika Serikat. Merevisi regulasi,
sebagaimana di negara-negara lain yang melarangnya, dianggap sangat penting sebelum
penerbangan supersonik layak secara ekonomis.
“Industri
penerbangan telah mengglobal akhir-akhir ini, sehingga setiap produk yang dibuat
di negara manapun harus disertifikasi di negara lain untuk membuatnya layak pakai,” ujar Coen. “Jadi untuk melaju pada kecepatan supersonik, pesawat tidak boleh
bising.”
Pesawat yang Lebih Senyap
Masalah
kebisingan tidak hanya dialami oleh pesawat supersonik. Berada di dekat
landasan sebelum pesawat mendarat, akan memekakkan telinga.
Meskipun
mesin jet dianggap sebagai penyebab kebisingan pesawat, ilmuwan kedirgantaraan Mehdi Khorrami dari Langley mengatakan roda pendarat pesawat dapat
menjadi faktor penyebab yang lebih besar. Ketika sebuah pesawat mendarat, udara
yang mengalir di atas roda selama pesawat mendarat menyebabkan turbulensi dan menghasilkan suara bising.
“Suara
dari mesin jet masih signifikan, tetapi badan pesawat adalah bagian
yang menonjol dari kebisingan pesawat,” ungkap Khorrami. “NASA memiliki tujuan
jangka panjang untuk mengurangi kebisingan pesawat terbang di bandara.”
![]() |
NASA sedang menguji roda pendarat pesawat dan menerapkan teknologi peredam kebisingan di pesawat jet Gulfstream III. Tony Landis |
Salah
satu ide yang dikembangkan NASA adalah menempatkan busa penyerap kebisingan ke suku
cadang pesawat ketika gigi memendek selama penerbangan. Termasuk suku cadang fairing, pelat yang menutupi gigi
pendarat dengan lubang-lubang kecil agar udara melewatinya dan
mengurangi kebisingan.
Lalu sirip yang memperlambat pesawat saat turun. Ketika sirip pesawat diturunkan,
kebisingan berasal dari aliran udara di celah antara sirip dan ujung belakang
sayap. Tapi dengan sirip Adaptive
Compliant Trailing Edge eksperimental NASA, transisi mulus antara sirip dam ujung belakang sayap akan banyak mengurangi suara bising.
“Konsep ini akan sangat mengurangi kebisingan,” tutur Khorrami. “Jadi ketika sebuah
pesawat mendarat, suara yang dihasilkan tidak akan lebih bising dibandingkan suara di sekitarnya.”
Ketika
mengembangkan teknologi peredam kebisingan, Khorrami mengawalinya dengan simulasi
komputer. Disusul pengembangan teknologi pada model uji coba
terowongan angin dan uji coba di pesawat sungguhan sebagai bagian dari
pengukuran penelitian akustik yang berbasis di Edwards. Sebagaimana LBFD,
mikrofon di lokasi mengukur tingkat kebisingan uji coba Gulfstream III.
Sejauh
ini, eksperimen pergeseran gigi pendarat dan sirip pesawat
telah mengurangi kebisingan di pesawat uji coba hingga 70%, Khorrami menambahkan. Tetapi tim
ilmuwan juga harus memastikan teknologi yang dikembangkan ini tidak mengganggu
kinerja penerbangan pesawat dan memungkinkan udara untuk mendinginkan rem
ketika berada di landasan.
“Harus secara signifikan seimbang, antara mengurangi kebisingan dan tidak
memengaruhi operasional pesawat,” katanya.
![]() |
X-57 Maxwell adalah pesawat Tecnam P2006T yang telah dimodifikasi dan dilengkapi mesin listrik. |
Pesawat Listrik
Meskipun dapat diterapkan ke desain pesawat yang lebih senyap, NASA tidak
mengabaikan mesin. Upaya pengembangan pesawat bertenaga listrik akan lebih
bersih, senyap dan efisien.
Meskipun
gagasan pesawat listrik terlihat mengkhawatirkan kita sebagai penumpang, memaksimalkan
rentang penggunaan baterai adalah masalah yang lebih mendesak jika berada
35.000 kaki di udara. Selain NASA, lembaga penelitian lain juga berupaya
mewujudkan pesawat bertenaga listrik, termasuk maskapai penerbangan bertarif
rendah Easyjet di Eropa yang berencana untuk menggunakannya pada tahun
2021.
NASA
sedang mengembangkan pesawat bertenaga listrik X-57 Maxwell,
menggunakan pesawat Tecnam P2006T yang dimodifikasi. Meskipun banyak desain
dasar yang tidak berubah, NASA mengganti baling-baling bertenaga gas dengan
mesin listrik. Menggunakan pesawat yang sudah ada memiliki beberapa keuntungan,
NASA tidak harus merancang pesawat yang sama sekali baru, termasuk dapat
membandingkan bagaimana X-57 yang bertenaga listrik beroperasi dengan bagaimana
pesawat mengudara menggunakan mesin aslinya.
Tujuan
utama proyek adalah untuk meningkatkan efisiensi penerbangan sebesar
500% menggunakan P2600T standar dan untuk menetapkan standar propulsi
pesawat bertenaga listrik. Manfaat lainnya termasuk pengurangan emisi karbon,
kebisingan mesin, biaya operasional dan pemeliharaan yang lebih rendah.
Dengan kata lain, tujuan utama proyek ini sama seperti mobil listrik.
Meskipun hanya ditujukan untuk pesawat pribadi dan taksi udara, teknologi baterai yang saat ini hanya memiliki jangkauan sekitar 50 mil, suatu hari
nanti dapat menghasilkan pesawat penumpang turboelectric. Manajer
proyek X-57 Tom Rigney mengklaim biaya operasi yang lebih rendah untuk pesawat listrik dapat diterjemahkan ke harga tiket pesawat yang lebih murah.
“Pesawat
listrik lebih efisien, lebih tenang dan ramah lingkungan daripada pesawat
bertenaga bahan bakar standar,” tulis Rigney melalui email. “Teknologi propulsi
listrik juga memungkinkan pesawat yang lebih kecil untuk lepas landas dan
mendarat secara vertikal di atap gedung atau tempat parkir, membuatnya
lebih mudah diakses untuk diterapkan oleh taksi udara dan pesawat komuter.”
Uji
coba akan berlangsung dalam empat tahap, dimulai dari uji coba mesin
listrik hingga pesawat modifikasi X-57 yang sepenuhnya mengudara. Pesawat didesain dengan sayap eksperimental panjang untuk memberikan lebih banyak gaya
angkat, dua motor listrik di ujung sayap untuk propulsi dan 12 motor listrik
yang lebih kecil untuk memberikan kecepatan maksimal saat tinggal landas. NASA
juga melatih pilot dalam simulator untuk menerbangkan pesawat listrik dan
membangun baterai lithium-ion 860 pon sebagai penggerak motor.
Peneliti Utama X-57 Sean Clarke mengatakan beberapa teknologi baterai
berasal dari desain yang dikembangkan NASA untuk Stasiun Luar Angkasa
Internasional.
“Teknologi NASA membantu memastikan tidak ada gangguan dalam sistem baterai dan tidak meningkatkan
risiko keamanan pesawat,” tulis Clarke melalui email. “Pesawat X-57 Maxwell
menggunakan motor listrik yang telah disesuaikan dengan daya dan kecepatan standar, serta tidak memerlukan pengembangan teknologi baru.”
Ditulis
oleh: Kent German, www.cnet.com
Artikel
terkait: 6 Penemuan yang Dilahirkan dari Teknologi Antariksa
Komentar
Posting Komentar