![]() |
Mikroskopis Bunga Karang. Kredit gambar: Van Soest/Wikipedia |
Mars
telah lama dianggap sebagai sebuah planet merah yang kering, tandus dan tidak layak huni. Tapi penelitian selama beberapa tahun terakhir mengungkap kemungkinan kandungan air asin di Mars saat ini, termasuk danau
di bawah permukaan.
Hasil
penelitian telah membangkitkan harapan baru, barangkali ada kehidupan di Planet Merah.
Makalah ilmiah yang telah dipublikasikan di Nature Geoscience, secara
mengejutkan menyimpulkan endapan air garam di bawah permukaan Mars,
terutama di dekat daerah kutub, berpotensi mengandung oksigen molekuler (zat
pengoksidasi), yang kita ketahui sangat penting bagi kehidupan di Bumi.
Sangat
menarik, karena memungkinkan Mars untuk menopang kehidupan mikroba atau bahkan hewan sederhana seperti bunga karang.
Antara
3,8 hingga 4 miliar tahun yang lalu, permukaan Mars diduga sangat mirip dengan
Bumi, oleh karena itu memiliki kondisi ideal bagi kehidupan untuk berkembang-biak. Saat itu, Mars memiliki lapisan atmosfer tebal, air yang mengalir di
permukaan, medan magnet global dan vulkanisme.
Namun sekarang kondisi permukaan Mars sangat kering dan dingin, dengan suhu berkisar
antara 5-10 derajat Celsius saat siang hari dan minus 100 hingga minus 120
derajat Celcius saat malam hari.
Faktanya,
tekanan atmosfer Mars saat ini hanya kurang dari 1% tekanan atmosfer
Bumi, mengakibatkan setiap kandungan air yang mengalir di permukaan menguap dengan cepat ke atmosfer, meskipun sebagian kecil di antaranya bisa saja terperangkap di bawah permukaan. Aktivitas vulkanisme juga berhenti dan hanya menyisakan medan magnet berskala kecil untuk melindungi Mars dari
radiasi ganas Matahari di belahan selatan planet.
Karena
alasan-alasan inilah Mars dianggap tidak layak huni.
Bukti Kehidupan di Mars
Berkat
misi eksplorasi oleh rover (penjelajah darat) Curiosty dan Mars Express,
kita mengetahui masih ada jejak metana di Mars. Metana bisa dihasilkan oleh aktivitas hidrotermal (pergerakan air panas) atau dari
kehidupan mikroba. Di Bumi, hanya dari penyakit kembung yang diderita sapi, telah menghasilkan
sekitar 25-30% metana di atmosfer.
Salah
satu kemungkinan ini memang menantang pemahaman kita tentang
Planet Merah, tetapi jika yang menjadi sumber metana adalah kehidupan mirkoba, tentunya akan menjadi sebuah penemuan yang luar biasa.
Misi
eksplorasi ExoMars Trace Gas Orbiter
kolaborasi antara Badan Antariksa Eropa dan Rusia sedang menyelidiki
sumber metana ini. Misi Mars
Reconnaissance Orbiter NASA juga menemukan fitur musiman yang disebut
“recurrent slope lineae”, atau pola
beralur yang mungkin terbentuk karena rembesan air asin di permukaan Mars.
Meskipun ada penjelasan alternatif untuk fitur musiman ini yang disebabkan oleh butiran-butiran pasir dan debu yang menuruni perbukitan.
Misi pendarat dan rover juga telah menemukan berbagai unsur, termasuk
perklorat kalsium dan magnesium di dekat lokasi yang diduga adalah daerah
resapan air dan berpotensi menyimpan deposit air asin. Baru-baru ini,
misi Mars Express yang dikelola oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) telah memperoleh bukti radar kandungan air cair di wilayah kutub
selatan Mars, yang diduga berkumpul sebagai danau di bawah permukaan. Danau seluas 20
kilometer yang terletak 1,5 kilometer di bawah permukaan ini mungkin menampung air asin.
![]() |
Kredit gambar: NASA/JPL |
Molekul Oksigen Air Asin Mars
Studi
terbaru menghitung jumlah molekul oksigen yang larut di dalam air asin. Perhitungan menunjukkan sejumlah kecil senyawa
oksigen yang diproduksi di atmosfer bisa larut di dalam air asin pada suhu
dan tekanan di dekat permukaan Mars.
Menggunakan
pemodelan atmosfer, para peneliti kemudian mempelajari tingkat pelarutan di beberapa wilayah dari waktu ke waktu. Lingkungan cair yang mengandung molekul oksigen larut tersebar di sebagian besar permukaan Mars,
terutama terkonsentrasi di dekat kutub yang lebih dingin.
Simulasi
komputer menunjukkan fenomena ini dapat mengarah ke konsentrasi senyawa
oksigen yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba aerob untuk bernafas, semacam bakteri
yang membutuhkan oksigen atau zat asam untuk pertumbuhannya. Di Bumi, kehidupan
berevolusi melalui proses fotosintesis, yang menyediakan oksigen untuk pernafasan dan menopang kehidupan mikroba aerob.
Hasil
studi dianggap sangat menarik, selain menyimpulkan bagaimana senyawa
oksigen dapat dihasilkan secara terpisah bukan dari proses
fotosintesis, juga dapat menjelaskan bagaimana oksidasi bebatuan di permukaan
planet Mars terbentuk.
Misi Eksplorasi untuk Menemukan Kehidupan di Mars
Lantas, bagaimana cara kita menemukan bukti kehidupan di Mars? Misi saat ini
menyediakan pemetaan mineral secara global dari orbit dan permukaan. Rover Curiosity menyediakan informasi molekul organik yang mungkin pernah hidup dalam waktu yang lama. Sementara misi
rover Mars 2020 NASA untuk mengembalikan sampel dari Mars ke Bumi, saat
ini sedang dalam tahap pengembangan.
Jajaran rover
NASA yang masih beroperasi di permukaan Mars hanya dirancang untuk mengebor
sedalam lima sentimeter, namun sebuah rover dari misi ExoMars 2020 kolaborasi ESA dan Rusia yang terus dikembangkan dapat menggali permukaan hingga kedalaman dua
meter.
Menggali cukup dalam akan memberikan kita sampel yang terbebas dari
paparan radiasi sinar ultraviolet Matahari dan radiasi kosmik yang membahayakan
kehidupan, harapan terbaik kita untuk menemukan kehidupan di
Mars melalui misi yang akan datang.
Dua
kandidat lokasi pendaratan rover ExoMars akan diputuskan pada bulan November
tahun ini, Mawrth Vallis dan Oxia Planum, keduanya adalah lingkungan purba yang
kaya kandungan air. Meskipun strategi saat ini adalah untuk mencari jejak biologis purba di Mars, kehidupan yang eksis saat ini seharusnya juga bisa terdeteksi, jika ada.
Kita
harus menunggu hasil misi ExoMars untuk memastikan biosignatures, baik dari masa lalu maupun saat ini, termasuk analisis sampel yang
dikirim kembali ke Bumi. Sementara ExoMars tidak akan diarahkan ke danau atau
lokasi resapan air, ada bukti deposit air asin di lokasi lain. Mungkin ExoMars dapat menemukan lokasi yang mengandung air asin di kandidat lokasi penelitian.
Di
luar misi saat ini, haruskah kita menargetkan air asin secara khusus? Tentunya
target di luar itu hanya bisa dilakukan oleh misi masa depan. Pengeboran sedalam 1,5 kilometer di bawah permukaan demi sampel danau bawah tanah adalah sebuah misi skala besar yang belum bisa dicapai teknologi saat ini. Oleh karena
itu, harapan terbaik kita saat ini adalah menargetkan lokasi yang memiliki
resapan air asin di permukaan.
Kendala
lain adalah aturan perlindungan planet, yang melarang kita melakukan tindakan berisiko yang dapat mencemari habitat asli dengan bakteri
dari Bumi. Tentu saja, kita berupaya menghindari kontaminasi habitat asli, mungkin suatu saat nanti kita dapat mengkoloni
lokasi-lokasi lain di Mars yang tidak memiliki habitat kehidupan.
Ditulis
oleh: Andrew Coates, www.sciencealert.com
Komentar
Posting Komentar