![]() |
Ilustrasi pesawat antariksa Cassini NASA saat mengorbit di sekitar Saturnus. Kredit: NASA/JPL-Caltech |
Penelitian
terbaru yang berasal dari data orbit pamungkas pesawat antariksa Cassini NASA,
melambangkan sebuah lompatan besar pemahaman terhadap sistem Saturnus,
terutama di wilayah misterius yang belum pernah dijelajahi sebelumnya, yaitu
wilayah di antara Saturnus dan sistem cincinnya. Beberapa gagasan yang telah diyakini selama ini ternyata salah, sementara pertanyaan-pertanyaan baru lainnya mulai
bermunculan.
Enam
tim peneliti telah menerbitkan makalah ilmiah yang melaporkan hasil penelitian masing-masing di jurnal Science edisi 05/10/18, dari data yang dikumpulkan selama misi pamungkas Cassini yang disebut Grand Finale. Saat itu, bahan bakar Cassini mulai menipis, memaksa tim misi untuk secara spektakuler mengendalikan Cassini mendekati
Saturnus dalam 22 orbit lintasan. Tim menerjunkan Cassini dalam misi Grand Finale ke atmosfer Saturnus pada akhir
September 2017.
Setelah mengetahui misi Cassini akan berakhir hanya dalam hitungan hari, tim memanfaatkan waktu yang tersisa
untuk mengungkap rahasia-rahasia terbesar Saturnus. Cassini yang tidak pernah
didesain untuk penerbangan terarah dan hanya mengikuti lintasan orbit di sekitar
Saturnus, untuk pertama kalinya dikendalikan ke lingkungan magnetis Saturnus dan
terbang melalui partikel-partikel cincin yang dingin dan berbatu, demi mempelajari atmosfer di wilayah seluas 2.000 kilometer antara cincin dan puncak awan. Bukan hanya kendali penerbangan yang mendorong Cassini hingga batas
kemampuannya, rangkaian penemuan terbaru turut menggambarkan keampuhan jajaran instrumen Cassini.
![]() |
Ilustrasi pesawat antariksa Cassini NASA ketika menyelam di wilayah antara Saturnus dan cincin terdalam, sebagai bagian dari misi pamungkas Grand Finale. Kredit: NASA/JPL-Caltech |
Akan
ada lebih banyak lagi hasil sains yang bersumber dari Grand Finale, berikut adalah beberapa hasil penelitian terbaru yang
telah dipublikasikan di jurnal Science:
Senyawa
organik kompleks yang tertanam di butiran-butiran nano, jatuh dari sistem cincin ke lapisan teratas Saturnus. Para ilmuwan tak sekadar melihat
air dan silikat, melainkan metana, amonia, karbon monoksida, nitrogen dan
karbon dioksida. Komposisi senyawa organik ini berbeda dari senyawa organik yang ditemukan di Enceladus dan Titan, bulan-bulan Saturnus, mengindikasikan setidaknya ada
tiga reservoir besar molekul organik di sistem Saturnus.
Untuk
pertama kalinya, Cassini melihat dari jarak dekat interaksi antara sistem cincin dan planet Saturnus, termasuk pengamatan partikel dan gas di cincin terdalam yang jatuh ke atmosfer. Beberapa partikel mengandung muatan
listrik dan bergerak spiral di sepanjang garis medan magnet, jatuh di garis lintang Saturnus yang lebih
tinggi, sebuah fenomena yang disebut “hujan cincin”. Tetapi para
ilmuwan terkejut saat mengetahui sejumlah besar partikel terseret dengan cepat ke
khatulistiwa Saturnus, sekitar 10.000 kilogram material per detik, lebih cepat
daripada perkiraan sebelumnya.
Demikian pula dengan material di celah antara cincin dan atmosfer
Saturnus yang sebagian besar hanya berukuran nanometer, seperti asap,
menunjukkan beberapa proses misterius yang menggiling partikel
tersebut.
Cassini
mengungkap sistem arus listrik yang menghubungkan puncak atmosfer planet Saturnus
dengan cincin-cincinnya.
Para
ilmuwan menemukan sabuk radiasi baru yang terdiri dari partikel berenergik berada lebih dekat dengan planet Saturnus. Meskipun
sabuk radiasi bersilangan dengan cincin terdalam, ketebalan cincin sangat tipis, sehingga tidak terlalu memengaruhi pembentukan sabuk radiasi.
Tak seperti medan magnet planet tata surya lainnya, medan magnet Saturnus
hampir sepenuhnya sejajar dengan poros rotasi. Data terbaru menunjukkan
kemiringan medan magnet kurang dari 0,0095 derajat. (Kemiringan medan magnet Bumi
mencapai 11 derajat dari poros rotasi). Menurut para ilmuwan yang memahami tentang
bagaimana medan magnet sebuah planet dihasilkan, kemiringan medan magnet Saturnus
seharusnya tidak seperti itu. Fenomena ini menambah misteri yang harus diselesaikan
oleh para fisikawan.
Cassini
terbang di atas kutub magnet Saturnus untuk mengambil sampel dari wilayah di mana emisi radio dihasilkan. Penemuan Cassini mencapai lebih dari dua kali
lipat jumlah pengukuran langsung terhadap sumber radio dari sebuah planet,
salah satu dari beberapa lokasi non-terestrial, yang telah dipelajari oleh para ilmuwan terkait mekanisme yang menghasilkan gelombang radio yang diyakini
beroperasi di seluruh alam semesta.
Untuk
misi Cassini, terobosan sains yang bersumber dari orbit Grand Finale lebih dari sekadar membenarkan perhitungan risiko untuk
menyelam ke dalam celah, antara puncak atmosfer Saturnus dan melewati tepi terdalam cincin, kata ilmuwan proyek Cassini Linda Spilker.
“Hampir
semua yang terjadi di wilayah itu adalah kejutan,” jelas Spilker. “Itulah mengapa Cassini diarahkan ke sana, menjelajahi tempat yang belum pernah kami
kunjungi sebelumnya. Ekspedisi yang sangat berharga, mengingat data yang diperoleh sangat
menarik.”
Analisis terhadap data jajaran instrumen Cassini akan terus berlangsung
selama beberapa tahun ke depan, untuk mengungkap gambaran Saturnus secara
lebih mendetail.
“Banyak
misteri yang belum terungkap, meskipun kami telah mengumpulkan banyak potongan teka-teki,” pungkas Spilker. “Orbit pamungkas Cassini
ternyata menghasilkan banyak penemuan menarik dari yang bisa kami bayangkan.”
![]() |
Ilustrasi pemandangan ketika Cassini menyelam di wilayah antara Saturnus dan cincin terdalam, sebagai bagian dari misi Grand Finale. Kredit: NASA/JPL-Caltech |
Ditulis
oleh: Staf www.nasa.gov, editor: Tony Greicius
Artikel
terkait: R.I.P. Cassini
Komentar
Posting Komentar