Langsung ke konten utama

NASA Menargetkan Triton untuk Mencari Kehidupan di Luar Bumi

Saat acara konferensi yang digelar di Houston, Amerika Serikat, para ilmuwan NASA mempresentasikan konsep misi antariksa untuk mempelajari sebuah bulan misterius di tata surya yang mungkin menyembunyikan lautan di bawah permukaan.

siluet-sabit-neptunus-dan-triton-voyager-informasi-astronomi
Siluet sabit Neptunus dan Triton dalam sebuah gambar yang diambil oleh pesawat antariksa Voyager 2 pada tahun 1989.
Kredit: NASA/JPL

Para ilmuwan yang mewakili Laboratorium Propulsi Jet (JPL) NASA mengusulkan misi antariksa untuk menjelajahi Triton, bulan terbesar Neptunus, saat konferesi Lunar and Planetary Science yang digelar pada hari Selasa tanggal 19 Maret 2019 di Houston, Texas, Amerika Serikat.

Karena dianggap tidak lazim dan memiliki banyak kemiripan dengan Pluto, Triton diyakini  pernah menjadi salah satu Objek Sabuk Kuiper (KBO), sebelum ditangkap miliaran tahun lalu oleh gravitasi planet raksasa terjauh dari tata surya. Selain itu, Triton diduga kuat menyembunyikan lautan di bawah permukaan, sekaligus mengindikasikan potensi unsur-unsur kehidupan mikroba.

Tidak seperti proposal misi miliaran dolar yang kerap dikirim oleh badan antariksa ke wilayah terluar tata surya, wahana antariksa yang diberi nama Trident, hanya membutuhkan biaya yang jauh lebih murah, kata para ilmuwan JPL NASA, setara dengan biaya misi skala kecil ke Bulan.

“Sudah saatnya misi ini disetujui,” kata Louise Prockter, Peneliti Utama Trident dan Direktur Lunar and Planetary Institute di Houston. “Inilah waktu yang tepat untuk menggelar misi dengan biaya yang murah. Dan kami akan menginvestigasi apakah Triton adalah dunia yang layak huni.”

Misi antariksa ke wilayah terluar tata surya biasanya adalah misi utama NASA yang menelan biaya hingga miliaran dolar, seperti misi Cassini ke Saturnus, atau misi Clipper ke Europa yang akan diluncurkan pada tahun 2020-an.

Sementara proyek sejenis telah menghasilkan pencapaian yang signifikan, misi yang lebih kecil dan lebih murah juga berpotensi memajukan sains keplanetan. Misalnya misi ke Mars, memang belum ada satu pun wahana antariksa yang mampu melakukan segalanya, tetapi secara agregat dan seiring waktu, jajaran robot yang dikirim ke sana telah mengungkap masa lalu Planet Merah yang basah dan menyiapkan panggung untuk para astronot masa depan.

Itulah sebabnya para ilmuwan di balik proposal Trident, yang akan secara resmi dipresentasikan kepada NASA akhir bulan ini, mencari dukungan dari program Discovery yang sangat kompetitif untuk misi yang hanya menelan biaya kurang dari U.S. $ 500 juta. 

NASA memang mengincar peluncuran misi dengan biaya murah setiap dua tahun. Program Discovery terbaru adalah pendarat InSight, yang telah mencapai Mars pada bulan November 2018. Misi berikutnya yang diharapkan disetujui Lucy, penjelajah asteroid yang berbagi orbit dengan Jupiter.

Trident akan berhadapan dengan proposal misi antariksa lainnya, meliputi survei Bulan yang lebih luas, penjelajahan ke Io, salah satu bulan Jupiter, dan misi ke Venus. Para pendukung misi Trident berharap misi menjelajahi planet terjauh tata surya tanpa menghabiskan miliaran dolar yang biasanya dibutuhkan untuk misi semacam itu, akan menjadi pertimbangan utama Badan Antariksa Amerika Serikat.

mosaik-warna-triton-voyager-2-informasi-astronomi
Mosaik warna Triton yang dihasilkan dari data Voyager 2.
Kredit: NASA/JPL/USGS

Sistem Neptunus terakhir dikunjungi pada tahun 1989 selama terbang lintas yang singkat oleh pesawat antariksa Voyager 2, yang mengambil gambar pertama dan satu-satunya planet kedelapan tata surya dari jarak dekat.

Voyager 2 juga merekam data yang mengindikaskan kepulan-kepulan air dari interior Triton. Sejak saat itu, banyak ilmuwan keplanetan yang ingin kembali ke Triton, yang baru saja dinyatakan sebagai prioritas utama untuk dieksplorasi dalam program Roadmap for Ocean Worlds NASA.

“Triton menyediakan petunjuk berharga aktivitas geologis dan menampung lautan,” jelas penanggung jawab studi Roadmap Dr. Amanda Hendrix dari Planetary Science Institute di Tucson, Arizona. “Triton adalah misi three in one, karena selain mengunjungi sistem Neptunus, kita juga dapat mengunjungi dunia lautan yang menarik, sekaligus mengunjungi objek Sabuk Kuiper tanpa harus bersusah-payah ke sana.”

Mempelajari tempat-tempat seperti itu, ia menambahkan, dapat memberikan wawasan baru tentang asal usul dunia lautan dan bagaimana cara mereka mempertahankan air cair. Misalnya, air di lautan Triton barangkali jauh lebih dingin dari titik beku normal, tetapi amonia dapat mempertahankannya untuk tetap cair. Petunjuk semacam itu akan membantu dalam upaya pencarian kehidupan di luar Bumi.

Neptunus tiga puluh kali lebih jauh daripada jarak Bumi-Matahari. Selama beberapa dekade terakhir, gagasan tentang lokasi yang dapat menampung kehidupan di tata surya telah berkembang pesat.

Para ilmuwan pernah memperkirakan batas zona layak huni tata surya hanya berakhir di Mars, karena wilayah di luar Mars tidak menerima cukup panas Matahari. Tapi setelah lautan ditemukan di bawah permukaan Europa, salah satu bulan Jupiter, bahkan lebih jauh lagi di bawah permukaan Enceladus, salah satu bulan Saturnus.

Jika Trident berhasil mengkonfirmasi eksisteni lautan di Triton, maka bentangan tata surya yang berpotensi menopang kehidupan akan meluas.

Untuk sampai ke Triton, pesawat antariksa akan terbang dengan cepat dalam lintasan lurus setelah memperoleh bantuan orbital dari Jupiter, mirip dengan terbang lintas yang sebelumnya diterapkan ke pesawat antariksa New Horizons untuk mengunjungi Pluto pada tahun 2015. Misi ke Triton juga akan bergantung pada muatan rangkaian instrumen ilmiah untuk mendeteksi lautan, atmosfer dan ionosfer. Trident akan memotret Triton secara global, objek terbesar di Tata Surya yang belum sepenuhnya dicitrakan.

“Kami membandingkannya dengan kunjungan Voyager pada tahun 1989, yang didesain berdasarkan teknologi awal tahun 1970-an, dan pada dasarnya hanyalah sebuah kamera televisi yang terpasang pada mesin faks,” kenang ilmuwan proyek misi Trident Karl Mitchell. “Teknologi tersebut luar biasa pada zamannya, meskipun tidak terlalu efisien dibandingkan sistem pencitraan digital modern.”

Pemilihan waktu yang tepat juga penting karena perubahan musim di Triton yang berlangsung seiring orbit Neptunus mengelilingi Matahari.

“Untuk melihat kepulan-kepulan air yang dideteksi oleh Voyager pada tahun 1989, kita harus mencapai Triton sebelum tahun 2040,” pungkas Dr. Mitchell. Kalau tidak, mengingat posisi objek dalam lintasan orbitnya, Triton tidak akan menerima pencahayaan yang cukup selama lebih dari delapan puluh tahun.

Ditulis oleh: David W. Brown, www.nytimes.com


#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...