Langsung ke konten utama

Planet Bumi Super Baru Kemungkinan Mengorbit Bintang Terdekat

Goyangan halus pada pergerakan bintang terdekat Proxima Centauri, mengindikasikan ada lebih dari satu planet yang mengorbit.

kandidat-planet-proxima-centauri-c-informasi-astronomi
Ilustrasi pesawat antariksa mini yang menjelajahi planet Proxima Centauri b. Para astronom menduga Proxima b memiliki saudara kandung, sebuah planet tipe Bumi-super yang mengorbit bintang induk katai merah berjarak empat tahun cahaya dari Bumi.
Kredit: Breakthrough Starshot

Sejauh ini, hanya ada satu planet yang diketahui mengorbit bintang terdekat dari Matahari kita, sebuah bintang tipe katai merah bernama Proxima Centauri yang terletak sekitar 4,24 tahun cahaya.

“Kami sangat senang dapat mempublikasikannya, sebuah kandidat planet baru yang mengorbit Proxima Centauri dan kami beri nama Proxima c,” ujar Mario Damasso dari Observatorium Turin Italia saat acara konferensi Breakthrough Discuss (12/4).

“Masih kandidat,” ia menambahkan. “Namun harus kita garisbawahi.”

Jika terkonfirmasi, massa Proxima Centauri c setidaknya enam kali lebih masif daripada Bumi, sehingga tergolong sebagai tipe Bumi-super. Dibutuhkan waktu 1.936 hari bagi Proxima Centauri c untuk menyelesaikan satu kali orbit mengitari bintang induk, yang berarti suhu rata-rata di permukaan planet terlalu dingin untuk menopang air cair.

“Apakah layak huni? Tidak, karena terlalu dingin,” kata ilmuwan Fabio Del Sordo dari University of Crete.

Pada tahun 2016, para ilmuwan proyek Pale Red Dot telah mengungkap planet pertama yang mengorbit Proxima Centauri, sebuah planet yang 1,3 kali lebih masif daripada Bumi dengan suhu cukup hangat dan berpotensi menampung kehidupan. Mereka menemukan Proxima Centauri b menggunakan metode kecepatan radial, setelah mendeteksi goyangan bintang induk yang merespon gaya gravitasi planet.

Baru-baru ini, Damasso dan Del Sordo memutuskan untuk meninjau kembali data penemuan Proxima b. Mereka memprosesnya dengan cara yang agak berbeda. Mereka menghilangkan sinyal yang berasal dari Proxima b dan aktivitas intrinsik bintang induk, kemudian menambahkan 61 pengukuran yang dilakukan selama 549 hari observasi tambahan menggunakan spektograf HARPS di Observatorium La Silla, Chili.

Total data yang ditinjau ulang meliputi sekitar 17 tahun observasi goyangan bintang. Dari situ mereka menemukan sinyal yang dianggap sebagai kandidat Proxima Centauri c. Jika terkonfirmasi, kandidat planet setidaknya membutuhkan waktu lebih dari lima tahun Bumi untuk menyelesaikan satu kali orbit mengitari bintang induk dari jarak 1,5 kali lebih jauh daripada jarak Bumi-Matahari.

“Deteksi yang sangat menantang,” Del Sordo menjelaskan. “Kami berulang kali mendiskusikannya. Tetapi memang harus dikonfirmasi terlebih dahulu.”

Makalah ilmiah yang melaporkan deteksi telah diserahkan ke jurnal penelaahan sejawat.

permukaan-planet-proxima-centauri-b-informasi-astronomi
Ilustrasi cahaya merah dari Promixa Centauri yang menerpa permukaan Proxima Centauri b.
Kredit: ESO, M. KORNMESSER

Kedua ilmuwan akan terus mengumpulkan data goyangan bintang induk yang berasal dari misi Gaia ESA (Badan Antariksa Eropa) untuk menganalisisnya secara lebih mendetail demi menyempurnakan interpretasi goyangan bintang. Mereka juga mengusulkan agar kandidat planet diamati secara langsung menggunakan jajaran teleskop masa depan.

Termasuk data observasi yang dikumpulkan oleh Atacama Large Millimeter/Submilliter Array, atau ALMA, yang diharapkan mengungkap kemungkinan multiplanet di sistem Proxima Centauri. Dari analisis data ALMA, Proxima Centauri terlihat dikelilingi oleh jalur debu yang berpotensi berasal dari planet yang mengorbit. ALMA juga mendeteksi sumber terang lain di dalam sistem Proxima di sekitar lintasan orbit kandidat Proxima c.

“Ada sumber yang tidak dikenal, mungkin adalah sumber di latar belakang atau derau sinyal, kami tidak tahu,” kata Del Sordo.

“Ini benar-benar hasil yang luar biasa, saya berharap dapat menjadi subjek penelitian ilmiah dalam beberapa bulan dan tahun mendatang,” kata ilmuwan Rene Heller dari Solar System Research Institut Max Planck.

Lauren Weiss dari Universitas Hawaii menganggap tim ilmuwan yang terlibat dalam penelitian barangkali memang mendeteksi sinyal yang dihasilkan oleh kandidat planet, atau justru hanya berasal dari derau sinyal.

“Mungkin ada planet lain, tetapi tidak saat Anda mempublikasikan kandidat,” ia merespons klaim Damasso dan Del Sordo saat konferensi. “Saya tidak dapat menentukan langkah lain, selain apa yang telah Anda sarankan, terus memantau..... itu akan menjadi perjalanan panjang yang melelahkan.”

Ditulis oleh: Nadia Drake, www.nationalgeographic.com



#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...