1. Ancaman Asteroid
Mengapa asteroid dan meteoroid selalu
menghantam Bumi? Sebagaimana planet-planet tata surya, benda langit berukuran kecil ini juga mengorbit Matahari
selama miliaran tahun. Efek
kecil yang memengaruhi mereka, seperti dorongan gaya gravitasi dari
planet, menyebabkan pergesaran lintasan orbit yang langsung mengarah
ke sebuah planet.
Seiring waktu, lintasan orbit mereka bisa
saja berpapasan dengan lintasan orbit Bumi mengitari Matahari. Ada kalanya,
asteorid dan Bumi berada di satu titik lintasan orbit pada waktu
bersamaan. Meskipun demikian, ukuran Bumi relatif kecil apabila dibandingkan
dengan lintasan orbit asteroid, itulah sebabnya jarang terjadi benturan antaran
Bumi dengan asteroid.
2. Potensi Ancaman Saat Ini
Kita tidak selalu mengetahui dampak benturan
asteroid di dunia modern, meskipun para ilmuwan telah menemukan banyak kawah di Bumi yang tidak disebabkan letusan gunung berapi
(termasuk kawah-kawah di Bulan). Pada tahun 1980-an, para ilmuwan menemukan
bukti penyebab kepunahan dinosaurus 65 juta tahun lalu yang kemungkinan besar
disebabkan oleh asteroid.
Bukti ini diperkuat dengan penemuan Kawah
Chicxulub di Teluk Meksiko.
Pada tahun 1994, seluruh dunia menyaksikan
hal serupa ketika bongkahan-bongkahan komet Shoemaker-Levy 9 menghantam Jupiter. Dan saat itulah kita memahami bahwa potensi ancaman
asteroid terhadap Bumi masih berlangsung hingga hari ini.
3. Frekuensi Ancaman
Setiap hari, sekitar 100 ton material luar
angkasa turun ke planet kita, sebagian besar dalam bentuk partikel debu.
Puing-puing luar angkasa seukuran butiran pasir, kerikil, hingga bebatuan juga
menghujani atmosfer Bumi setiap hari dan menghasilkan meteor yang biasa disebut
“bintang jatuh”.
Kadang-kadang Bumi melewati aliran puing-puing kecil yang dilepaskan oleh komet, itulah cara kita memperoleh hujan meteor. Terkadang benda langit yang ukurannya lebih besar, seukuran kursi
atau bahkan seukuran mobil memasuki atmosfer Bumi dan menciptakan bola api
meteor yang hancur berkeping-keping saat meledak di lapisan atmosfer.
Relatif jarang, setiap beberapa dekade atau
lebih, benda langit berukuran besar memasuki atmosfer,
seperti meteor seukuran rumah yang melesat melintasi langit Chelyabinsk Rusia pada tahun 2013, menghasilkan bola api yang sangat terang dan menghasilkan
gelombang kejut yang memecahkan jendela dan mendobrak pintu.
![]() |
Kredit: Alex Alishevskikh |
4. Gudang Arsip Data Asteroid Dunia
The Minor Planet Center (MPC) adalah nama yang terkesan sederhana, tetapi lembaga ini melakukan
pekerjaan yang besar. Bermarkas di Cambridge Massachusetts dan beroperasi di Smithsonian Astrophysical Observatory,
MPC adalah gudang penyimpanan arsip data obervasi dari seluruh dunia terhadap
asteroid dan komet yang mengorbit di tata surya, termasuk data semua near-Earth object (NEO).
NEO mencakup asteroid, meteorid atau komet
yang mengorbit Matahari pada jarak 30 juta kilometer dari lintasan orbit Bumi.
Setiap kali seorang astronom mengamati NEO menggunakan teleskop berbasis darat
atau antariksa, mereka mengirim pengukuran posisi objek yang mereka amati ke
MPC.
Arsip data pengamatan asteroid dari
observatorium di seluruh dunia, dapat dimanfaatkan untuk menghitung lintasan orbit
secara akurat, sehingga dapat ditentukan apakah objek tersebut berbahaya.
5. Siapa yang Mencari NEO?
Pada tahun 1998, sebagai tanggapan atas
arahan kongres, NASA membentuk Near-Earth
Object Observations (NEOO). Sejak terbentuk, NEOO mulai mendeteksi, melacak dan memantau NEO. Beberapa tim astronom di seluruh negeri
beroperasi di bawah Program Observasi NEO NASA dan membantu menemukan,
memantau, dan mempelajari NEO.
Observatorium yang telah menemukan
sebagian besar NEO adalah Teleskop Catalina
Sky Survey di Arizona dan Teleskop Panchromatic
Survey and Rapid Reporting System (Pan-STARRS) di Hawaii. Teleskop
antariksa NEOWISE NASA juga turut menemukan sejumlah NEO dan menyediakan
data penting terkait ukuran fisiknya.
Para astronom yang juga didukung oleh program
NEOO, menindaklanjuti penemuan dan melakukan pengukuran
tambahan, demikian pula dengan observatorium di seluruh dunia. Setelah melakukan pengamatan, mereka mengirim pengukuran posisi NEO ke MPC.
The Center for Near-Earth Object Studies, yang berbasis di Laboratorium Propulsi Jet
(JPL) NASA juga memanfaatkan arsip data MPC untuk menghitung orbit semua NEO dan memprediksi tingkat ancaman mereka terhadap Bumi di masa
depan.
6. Cara Menentukan Orbit Asteroid
Para ilmuwan menentukan orbit asteroid dengan
membandingkan pengukuran posisi mereka ketika bergerak melintasi langit
dengan komputasi prediksi model orbit. Model memperhitungkan semua gaya yang memengaruhi pergerakan asteroid, sebagian besar didominasi oleh gaya gravitasi Matahari, semua planet dan
beberapa asteroid berukuran besar lainnya.
Untuk setiap asteroid, para ilmuwan menyempurnakan model orbit untuk menentukan prediksi lokasi secara akurat pada
saat pengamatan dilakukan. Perhitungan kasar orbit diperoleh setidaknya dari tiga kali pengamatan.
7. Menemukan NEO Berukuran Besar
Program Observasi NEO NASA memulai pencarian pada tahun 1998, ketika hanya ada sekitar 500 near-Earth asteroid (NEA) yang telah ditemukan. Pada tahun 2010, NASA dan para kolega telah
mengidentifikasi sekitar 90% dari 1.000 NEA yang
ukurannya mencapai 1 kilometer atau lebih besar.
Asteroid berukuran besar adalah prioritas utama pencarian NASA, karena berpotesi memberikan efek
global. Program pencarian NASA terus menemukan beberapa asteroid sebesar itu
setiap tahun, dan para astronom memprediksi masih ada puluhan lagi yang belum
ditemukan. Karena upaya NASA, 90% risiko ancaman tak terduga dari asteroid berukuran
besar yang datang tiba-tiba telah dieliminasi.
8. NEO yang Melintas Dekat
Kita mungkin pernah mendengar tentang
asteroid atau komet yang mendekati Bumi. Hal itu terjadi ketika lintasan orbit mereka sangat dekat dengan Bumi. Belum ada definisi pasti tentang jarak
yang dianggap dekat dengan Bumi, tetapi jika asteroid melintas dalam jarak yang lebih dekat daripada jarak
Bumi-Bulan, mereka dianggap berbahaya.
Jarak tersebut terlihat mengkhawatirkan,
namun jarak Bumi-Bulan yang sebenarnya adalah sekitar 385.000 kilometer.
Jika Bumi adalah sebuah bola basket, maka Bulan akan seukuran bola tenis dan terpisah sekitar 7 meter. Pada skala
ini, asteroid berukuran 100 meter akan jauh lebih kecil daripada sebutir pasir.
9. Mempelajari NEO dari Dekat
Saat ini NASA menggelar misi OSIRIS-REx untuk mempelajari NEO dari dekat. Target sains OSIRIS-REx adalah sebuah asteroid yang diberi nama Bennu. Para ilmuwan menghitung potensi asteroid Bennu
menabrak Bumi pada akhir abad ke-22 hanyalah 1 banding 2.700, dan Bennu sama sekali tidak mengancam Bumi sampai saat itu.
OSIRIS-REx telah mengorbit asteroid Bennu
dan terus mempelajari permukaannya untuk mengambil sampel dan mengembalikannya
ke Bumi pada tahun 2023. OSIRIS-REx juga mempelajari fenomena yang
disebut efek Yarkovsky, gaya kecil yang mampu menggeser lintasan orbit asteroid
ketika permukaan asteroid dipanaskan oleh cahaya Matahari.
Dengan mempelajari Bennu dari dekat, para
ilmuwan dapat memahami seberapa banyak panas yang dipancarkan dari asteroid menurut efek Yarkovsky dan membantu memprediksi lintasan orbit Bennu serta potensi
ancamannya terhadap Bumi.
10. Defleksi Asteroid
![]() |
Kredit: NASA |
Satu-satunya bencana alam yang berpotensi
untuk dicegah adalah benturan dengan asteroid. Asalkan kita mengetahui
asteroid yang berbahaya dan memiliki cukup waktu untuk menangkisnya.
NASA dan para kolega sedang mengupayakan
berbagai cara untuk membelokkan lintasan orbit asteroid berbahaya. Teknik yang
paling diandalkan adalah kinetic impactor
dan misi antariksa untuk mendemonstrasikannya diberi nama Double-Asteroid Redirection Test (DART).
Kinetic impactor
dirancang untuk menabrakkan satu atau lebih wahana antariksa
berkecepatan tinggi ke asteroid demi menggeser orbitnya. Teknik ini bisa
membelokkan asteroid ke lintasan orbit yang berbeda, mengarahkannya menjauh
dari jalur orbit Bumi.
Akan diuji coba pada tahun 2021, target DART
adalah sistem biner asteroid Didymos. DART (seukuran mobil) akan menabrak
Didymos B (seukuran stadion sepakbola) dengan kecepatan 22.000 km/jam, untuk
melihat seberapa besar tabrakan mengubah lintasan orbit asteroid.
Jika sebuah asteroid berbahaya ditemukan satu
dekade sebelum berpotensi menabrak Bumi, para ilmuwan akan memiliki banyak
waktu untuk meluncurkan misi defleksi dan hanya perlu menggeser sedikit
lintasan orbit asteroid. Sedikit perubahan pada lintasan asteroid akan
membuatnya menjauh sehingga tabrakan dengan Bumi dapat dihindari.
Ditulis oleh: Staf jpl.nasa.gov
Komentar
Posting Komentar