![]() |
Kredit gambar: NASA, ESA, G. Illingworth (Universitas California), P. Oesch (Universitas California; Universitas Yale), R. Bouwens dan I. Labbé (Universitas Leiden), dan Tim Sains . |
Seratus tahun lalu, Einstein
mengemukakan teori Relativitas Umum, menggantikan konsep ruang
dan waktu absolut Newton dengan ruang dan waktu dinamis. Layaknya lembaran kain yang tak sekadar melengkung karena materi dan energi, ruang dan waktu Relativitas Umum juga
menyusut atau meluas tergantung sifat alam semesta itu sendiri.
Para ahli teori seperti Alexander Friedmann,
Willem de Sitter dan Georges Lemaître memang mengerjakan banyak rincian
matematis tentang kosmos, namun, astronom Edwin Hubble dengan teleskop berdiameter 100 inci di Mt. Wilson adalah orang yang memberikan kepada kita alam semesta yang kita pahami saat ini.
![]() |
Kredit gambar: ESO dan Digitized Sky Survey 2. Kredit: Davide De Martin. |
Dengan mengamati galaksi-galaksi jauh, mulai dari
spiral (yang lebih dekat) hingga elips (yang lebih jauh), selain menyimpulkan bahwa alam semesta mengembang, Edwin Hubble adalah orang pertama yang mengukur laju ekspansi kosmos. Semakin jauh jarak galaksi, semakin cepat ia menjauhi kita. Selama beberapa dekade
berikutnya, seiring perkembangan pesat teleskop, fotografi dan kamera, kita
dapat mengukur galaksi-galaksi redup yang sangat jauh dan pemahaman kita
tentang bagaimana alam semesta mengembang semakin meningkat.
Tetapi semua pemahaman ini bisa kita peroleh
karena lokasi galaksi Bima Sakti kita kebetulan dikelilingi
oleh ratusan ribu galaksi masif terang dalam radius beberapa ratus juta
tahun cahaya dari Bumi.
Kita belajar tentang tempat kita dari observasi lingkungan kosmik di sekeliling kita. Tergantung dari lokasi penempatan, ternyata tidak semua galaksi seberuntung kita, misalnya
galaksi MCG+01-02-015 yang ditampilkan pada gambar di bawah ini.
![]() |
Kredit gambar: ESA/Hubble & NASA dan N. Gorin (STScI); Judy Schmidt. |
Lingkungan kosmik di sekitar MCG+01-02-015 sepertinya tidak jauh berbeda dari Bima Sakti. Namun dari sudut
pandang tertentu, jika kita mengambil ilustrasi video “penerbangan melintasi alam
semesta” di sekitar lingkungan MCG+01-02-015, tak ada satu pun galaksi yang kita temukan di
sepanjang perjalanan.
Melalui studi Hubble Deep Field, MCG+01-02-015 begitu terisolasi dalam radius beberapa
ratus juta tahun cahaya ke segala arah.
![]() |
Kredit gambar: ESA/Hubble & NASA dan N. Gorin (STScI); Kredit: Judy Schmidt. |
Bintang-bintang
terang yang kita amati di dalam gambar sebenarnya terletak di galaksi Bima
Sakti kita sendiri. Galaksi yang begitu terpencil ini ukurannya lebih besar dan
lebih terang daripada Bima Sakti dan mengandung lebih dari satu triliun bintang.
Di luar lingkungan MCG+01-02-015, kita dapat mengamati galaksi latar belakang di
segala arah.
![]() |
Kredit gambar: ESA/Hubble & NASA dan N. Gorin (STScI); Kredit: Judy Schmidt. |
Namun mereka sebenarnya berada sangat dekat dengan kita dan terpisah jauh dari MCG+01-02-015, daripada yang ditunjukkan oleh ilustrasi galaksi spiral berikut!
![]() |
Kredit gambar: ESA/Hubble & NASA dan N. Gorin (STScI); Kredit: Judy Schmidt. |
Atau lokasi mereka justru lebih jauh
lagi, seperti galaksi elips berwarna kuning di kanan bawah gambar. Mereka terdiri dari molekul gas yang sebagian besar tidak pernah berinteraksi dengan galaksi lain.
![]() |
Kredit gambar: ESA/Hubble & NASA dan N. Gorin (STScI); Kredit: Judy Schmidt. |
Apabila kita tinggal di MCG+01-02-015, teleskop
100 inci andalan astronom Edwin Hubble akan gagal mengubah cara pandang umat manusia terhadap kosmos.
Karena dari sudut pandang MCG+01-02-015, Edwin Hubble tidak akan mampu menemukan galaksi lain seperti yang ia lakukan pada tahun 1917. Baru
pada tahun 1960-an, teknologi antariksa kita dapat menemukan galaksi-galaksi
lain.
Andaikata Edwin Hubble gagal, apakah kita
akan berhenti mencari? Apakah kita akan menyimpulkan bahwa galaksi kita adalah
satu-satunya galaksi di alam semesta? Apakah kita tidak pernah menemukan fenomena seperti alam semesta yang mengembang, Big Bang dan materi gelap, yang
kesemuanya itu membutuhkan galaksi-galaksi lain agar bisa terungkap?
Kita sungguh beruntung, lokasi kita di
kosmos memudahkan kita untuk mengungkap sifat natural alam semesta. Sebaliknya, sungguh malang nasib para penghuni galaksi jauh yang terpencil ini, seolah alam
semesta sengaja menyembunyikan diri dari mereka.
Ditulis
oleh: Ethan Siegel, kontributor www.forbes.com
Komentar
Posting Komentar