Langsung ke konten utama

Estimasi Jumlah Bintang di Galaksi Bima Sakti

Menghitung bintang di langit adalah sesuatu yang kita lakukan saat masa kecil. Ada ribuan bintang yang dapat kita lihat hanya dengan mata telanjang, namun, jumlahnya meningkat ke angka jutaan jika kita menggunakan teleskop. Jadi, berapa jumlah bintang yang menyusun galaksi Bima Sakti kita?

Untuk menemukan jawabannya, kita dapat melakukan pencarian di Google, tetapi hasil pencarian akan mengarahkan kita ke angka 100 miliar hingga 1 triliun bintang. Lantas, mengapa para astronom belum bisa menyepakati berapa jumlah bintang di galaksi Bima Sakti? 

menghitung-bintang-di-galaksi-bima-sakti-informasi-astronomi
(Kredit: NASA)

Sebenarnya para astronom tidak menghitung jumlah bintang di sebuah galaksi secara langsung. Mereka biasanya menggunakan satu dari tiga metode berikut untuk memperoleh estimsi terbaik.

1) Mengukur total cahaya dari sebuah galaksi dalam satuan watt, kemudian membaginya dengan rata-rata kecerahan setiap bintang dalam satuan watt.

2) Menghitung jumlah total bintang di suatu area kecil galaksi untuk memperoleh jumlah bintang per satu tahun cahaya kubik, kemudian mengalikannya dengan total volume galaksi.

3) Menimbang bobot galaksi untuk menentukan total massa, lalu membaginya dengan massa rata-rata satu bintang.

Setiap metode memiliki kelemahan. Pada metode pertama, cahaya dapat terhalang oleh debu galaksi dan skala kecerahan setiap bintang tidak sama persis. Untuk metode kedua, kepadatan populasi bintang berubah dari batas terjauh cakram galaksi ke wilayah pusat yang terang. Ditambah perubahan dramatis cahaya bintang yang berada di lengan spiral galaksi (bintang muda terang) ke inti galaksi (bintang tua redup).

Metode ketiga lebih disukai oleh sebagian besar astronom, karena itu mari kita lihat berapa jumlah bintang berdasarkan metode ini!

Perkiraan Total Massa Galaksi

Berkat Hukum Ketiga Kepler dan Hukum Gravitasi Newton, massa total sebuah planet dapat diketahui dengan mudah apabila periode orbit dan jarak salah satu bulannya telah diketahui terlebih dahulu.

Perhitungan ini juga dapat diterapkan ke Matahari setelah kita mengetahui periode orbit dan jarak kedelapan planet tata surya. Untuk galaksi Bima Sakti, massanya dapat dihitung menggunakan pergerakan orbit Matahari yang mengitari wilayah pusat galaksi, dengan mengikuti pergerakan awan gas dan bintang yang jaraknya lebih jauh daripada jarak Matahari ke pusat galaksi, atau dengan menggunakan pergerakan galaksi-galaksi terdekat.

Metode ‘gravitasi’ ini menimbang seluruh massa di dalam lintasan orbit objek yang mengorbit pusat galaksi, termasuk massa objek non bintang, seperti awan gas, lubang hitam dan materi gelap!

Pada tahun 2009, para astronom mempelajari pergerakan bintang di tepi terluar Bima Sakti sekitar 160.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Mereka menghitung pergerakan bintang yang melaju sangat cepat dan memperoleh estimasi massa Bima Sakti sekitar 700 miliar Matahari.

Kemudian, pada tahun 2012 para astronom dari Space Telescope Science Institute membuat simulasi pergerakan galaksi satelit Leo I yang terletak 850.000 tahun cahaya dari pusat Bima Sakti. Mereka menghitung massa di dalam lintasan orbit Leo I untuk memperkirakan massa Bima Sakti dan mendapatkan angka 1,6 triliun Matahari. Perkiraan lain menggunakan selusin galaksi terdekat menghasilkan angka 2,5 triliun massa Matahari!

Massa Bintang dan Non Bintang

Penyusun galaksi bukan hanya bintang. Karena galaksi juga mengandung gas antarbintang, awan gas, lubang hitam, katai putih, dan planet. Semua objek non bintang berkontribusi terhadap massa Bima Sakti. Untuk memperolah estimasi jumlah bintang, massa bintang harus dikurangi dengan massa non-bintang.

Komposisi terbesar massa Bima Sakti justru elemen misterius tak kasat mata yang keberadaannya hanya diketahui dari interaksi gaya gravitasinya. Para astronom menyebutnya sebagai materi gelap, yang menyusun sekitar 23% komposisi kosmos. Studi terperinci juga mengungkap lingkaran halo materi gelap dengan diameter mencapai lebih dari 400 ribu tahun cahaya dari pusat galaksi. Sekitar 90% massa Bima Sakti berada di dalam lingkaran halo materi gelap ini.

Setelah total massa bintang di Bima Sakti diketahui, langkah terakhir adalah membaginya dengan rata-rata massa bintang. Ada 53 bintang dalam radius 16 tahun cahaya dari tata surya. Hanya 11 di antaranya yang massanya setara dengan Matahari, sedangkan 42 sisanya adalah bintang katai merah dengan massa sekitar 10% Matahari. Berarti untuk setiap 15 bintang dengan massa setara Matahari, terdapat 53 bintang yang didominasi oleh bintang katai merah redup.

Kesimpulan

Jika total massa Bima Sakti adalah 2,5 triliun massa Matahari dan 10% dari total massa ini adalah bintang, maka jumlah bintang di galaksi Bima Sakti sekitar 1 triliun.

Banyak situs di internet yang mempermudah perhitungan jumlah bintang dari total masa galaksi Bima Sakti dengan asumsi massa semua bintang setara dengan Matahari, dan mendapatkan perkiraan mendekati 200 miliar. Jadi, kadang-kadang pertanyaan yang terdengar sederhana ini dapat memiliki banyak jawaban tergantung pada asumsi perhitungan.

Sebagai seorang astronom, saya biasanya menggunakan angka bulat seperti “satu triliun bintang” di galaksi Bima Sakti. Mudah diingat dan terdengar keren, bukan?

Sebagai perbandingan, estimasi jumlah bintang di galaksi Bima Sakti oleh ilmuwan lain dapat kamu baca di artikel berikut: Berapa Jumlah Bintang di Galaksi Bima Sakti

Ditulis oleh: Sten Odenwald, kontributor www.huffpost.com


#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...