Langsung ke konten utama

NASA Memilih Dragonfly untuk Misi New Frontiers Berikutnya

nasa-memilih-dragonfly-untuk-misi-new-frontiers-berikutnya-informasi-astronomi
Ilustrasi misi Dragonfly NASA di permukaan Titan.
Kredit: NASA/JHUAPL

Pada tanggal 27 Juni, NASA mengumumkan rencana mereka untuk mengirim sebuah pesawat antariksa ke Titan, bulan terbesar Saturnus, yang akan terbang di atas permukaan Titan untuk mempelajari kondisi Titan yang dianggap menyerupai Bumi sebelum kehidupan berkembang.

Badan Antariksa Amerika Serikat telah memilih Dragonfly sebagai misi sains medium-class planetary di bawah program New Frontiers. Dragonfly adalah satu dari dua kandidat utama, bersama misi Comet Astrobiology Exploration SAmple Return (CAESAR), yang dipilih NASA pada bulan Desember 2017 untuk dipelajari.

Dragonfly akan diluncurkan pada tahun 2026 dan direncanakan tiba di Titan pada tahun 2034. Wahana antariksa ini akan mendarat di hamparan padang pasir wilayah khatulistiwa Titan. Dari sana Dragonfly, sebuah drone seukuran rover Mars yang dipersenjatai dengan delapan rotor (baling-baling), akan terbang dari satu lokasi ke lokasi lain di permukaan Titan.

Para ilmuwan akan mengarahkan Dragonfly ke kawah Selk berdiameter 80 kilometer. “Kami menduga kawah Selk mengandung tiga material dasar yang dibutuhkan oleh kehidupan untuk berkembang,” kata pejabat senior New Frotiers NASA Curt Niebur. Ketiga material tersebut adalah air, senyawa organik dan energi. “Kami ingin menempatkan Dragonfly ke kawah Selk untuk secara langsung meneliti bagaimana ketiga material dasar kehidupan itu bercampur.”

Mempelajari Kawah Selk dan lokasi-lokasi lain di Titan bisa mengarahkan para ilmuwan untuk memahami seperti apa kondisi di Bumi awal ketika kehidupan mulai muncul, tambahnya. “Kita tidak bisa kembali ke masa lalu Bumi dan mempelajari senyawa kimiawi yang pada akhirnya mengarah ke kehidupan, tetapi kita bisa pergi ke Titan untuk menjawab pertanyaan itu.”

Dragonfly dirancang untuk terbang sejauh 175 kilometer melintasi permukaan Titan selama dua setengah tahun. Dragonfly dilengkapi dengan radioisotope thermoelectric generator (RTG) untuk menghasilkan daya listrik dan menyimpannya di dalam baterai sebagai sumber daya selama penerbangan dan aktivitas misi lainnya.

“Terbang di Titan sebenarnya lebih mudah daripada terbang di Bumi,” kata Elizabeth “Zibi” Turtle, peneliti utama misi Dragonfly dari Laboratorium Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins. “Atmosfer Titan empat kali lebih padat daripada Bumi, dan gravitasi Titan hanya 1/7 Bumi. Kombinasi ini sangat memudahkan misi penerbangan jarak jauh.”

Dragonfly akan memanfaatkan teknologi drone paling mutakhir, katanya. “Teknologi yang digunakan Dragonfly sebenarnya sudah sangat matang di Bumi. Yang kami lakukan terhadap Dragonfly adalah inovasi, bukan penemuan. Kami menerapkan teknologi paling mutakhir yang sudah ada ke planet lain.”

Namun meyakinkan NASA bukanlah hal yang mudah. Thomas Zurbuchen, administrator asosiasi NASA untuk sains mengatakan, ketika NASA menerima proposal original Dragonfly, NASA mengidentifikasi sekitar 10 risiko signifikan dalam desainnya. “Tujuan sains yang akan dicapai sangat menarik, sehingga meskipun melihat semua risiko yang harus dihadapi, kami tetap memberikan kesempatan kepada mereka.”

Studi Fase A yang diselesaikan oleh tim Dragonfly menghilangkan semua risiko itu. Satu hal yang harus dibenahi oleh peninjau proposal adalah sistem “vacuum cleaner” yang digunakan untuk mengumpulkan material agar bisa dianalisis oleh instrumen berisiko tersumbat atau terkontaminasi oleh material hidrokarbon yang melimpah di Titan. Niebur mengatakan tim misi kemudian membuat “beberapa perubahan desain besar” untuk menurunkan risiko penyumbatan.

Tinjauan lain adalah demonstrasi kemampuan terbang Dragonfly. Apakah Dragonfly mampu terbang sesuai yang diharapkan, termasuk kemampuannya untuk terbang secara otonom. “Kami telah menguji kemampuan terbangnya di Bumi,” kata Turtle.

Satu perubahan dari proposal original adalah selisih satu tahun tanggal peluncuran misi, dari 2025 ke 2026. Dan selang waktu itu akan memberikan tim misi Dragonfly lebih banyak waktu, meskipun tidak akan menunda waktu untuk tiba di Titan.

“Tim bisa memperoleh kemajuan signifikan dengan waktu tambahan untuk mengatasi segala kendala,” ujar Lori Glaze, direktur divisi ilmu keplanetan NASA. “Dari sudut pandang kami, perubahan waktu peluncuran meningkatkan peluang keberhasilan misi.”

NASA belum menentukan wahana peluncur untuk Dragonfly, biaya peluncuran dan operasi pasca peluncuran, yang tidak termasuk dalam batas anggaran $ 850 juta kandidat program New Frontiers. Dragonfly akan menggunakan terbang lintas Venus dan Bumi setelah peluncuran untuk mencapai Titan.

Dragonfly menyisihkan misi CAESAR, yang direncanakan mempelajari 67P/Churyumov-Gerasimenko, komet yang juga dipelajari oleh misi Rosetta Badan Antariksa Eropa (ESA), untuk mengumpulkan sampel dari inti komet untuk dibawa kembali ke Bumi.

Zurbuchen mengatakan tiga alasan kenapa Dragonfly dipilih oleh NASA, salah satunya adalah sains. “Misi sains Dragonfly sangat menarik,” katanya. “Kami memiliki banyak pertanyaan tentang Titan yang harus terjawab. Faktor kedua adalah upaya untuk mengeliminir risiko dan ketiga adalah kepemimpinan kuat dalam misi.”

Zurbuchen mengapresiasi tim misi CAESAR yang dipimpin oleh Steve Squyres, peneliti utama Mars Exploration Rovers dan penanggung jawab survei dekadal sains keplanetan. “Squyres telah menjadi figur pemimpin aspiratif bagi banyak orang,” kata Zurbuchen. “Dia menetapkan standar untuk membangun keterpaduan di dalam tim.”

CAESAR, atau misi sejenis, dapat kembali diusulkan untuk kompetisi selanjutnya, meskipun Glaze mengatakan kompetisi New Frontiers berikutnya akan kembali digelar pada tahun 2022. “Beberapa ide terbaik seperti menendang bola ke gawang beberapa kali, sebelum akhirnya menjelma menjadi gol,” pungkas Zurbuchen.

Ditulis oleh: Jeff Foust, space.news.com


#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...