Langsung ke konten utama

Mengungkap Geologi Eksoplanet Ablasi Orbit-Rapat

Mempelajari dunia-dunia orbit-rapat akan membantu para astronom untuk lebih memahami bagaimana planet terbentuk dan berevolusi.

mengungkap-geologi-eksoplanet-ablasi-orbit-rapat-informasi-astronomi
Ilustrasi penguapan planet raksasa DMPP-2b, yang mengorbit bintang DMPP-2 dari jarak sangat dekat. Bintang induk DMPP-2 diselimuti oleh awan gas penguapan planet.
Kredit: Mark A. Garlick

Enam planet di luar tata surya (eksoplanet) yang baru saja ditemukan, diketahui mengorbit bintang induk masing-masing dari jarak yang sangat dekat, hingga mengalami penguapan dan menciptakan struktur cincin puing-puing. Penemuan keenam eksoplanet yang dilaporkan oleh tiga makalah ilmiah di jurnal Nature Astronomy, diidentifikasi melalui teknik baru yang mencari struktur cincin puing-puing terlebih dahulu.

Dengan demikian, metode ini dianggap efisien untuk menemukan planet berukuran kecil yang mengorbit bintang induk dari jarak sangat dekat, yang telah lama tidak terdeteksi. Selain itu, studi tindak lanjut seharusnya memungkinkan para astronom untuk menyelidiki geologi dunia-dunia “ablasi”, untuk lebih memahami bagaimana mereka terbentuk dan berevolusi.

Pada tahun 2009, astronom Carole Haswell dari Open University di Inggris, mengamati eksoplanet WASP-12b (LINK) dan menemukan sesuatu yang aneh pada bintang induknya. WASP-12b adalah planet mirip Jupiter yang menyelesaikan satu kali orbit mengitari bintang induk setiap 26 jam. Saat mengorbit dari jarak yang sangat dekat, lapisan terluar kromosfer WASP-12b meloloskan diri ke luar angkasa. WASP-12b sangat panas, mendidih karena berada sangat dekat dengan bintang induk.

“Mereka terlalu dekat dengan api,” kata ilmuwan David Grinspoon dari Planetary Science Institute yang tidak terlibat studi. “Seperti memanggang marshmallow, meletakkannya terlalu dekat dengan api dan gosong.” Haswell berhipotesis jejak molekul gas yang yang dihasilkan dari planet ini menyerap panjang gelombang cahaya serupa dengan cahaya yang dipancarkan kromosfer bintang, sehingga membuatnya tampak gelap.

Hipotesis yang cukup menarik. Haswell menggagas agar para astronom mencari bintang-bintang dengan “tanda tangan” serupa (kromosfer yang hilang), untuk menemukan eksoplanet orbit-rapat. Selain itu, jika para astronom menggunakan teknik baru ini untuk meneliti bintang-bintang terdekat yang telah disurvei dengan baik, mereka mungkin akan menemukan dunia-dunia kecil lainya mengingat yang berukuran besar telah ditemukan melalui metode lain. Upaya yang layak dilakukan, karena sampai saat ini eksoplanet kecil terbukti sangat sulit ditemukan.

Jadi, Haswell memulai sebuah misi. Bersama para kolega, Haswell menganalisis arsip data 2.700 bintang terdekat mirip Matahari, dan menyimpulkan 39 di antaranya telah kehilangan lapisan kromosfer. Kemudian, tim memanfaatkan instrumen pemburu planet yang diinstal di teleskop 3,6 meter besutan European Southern Observatory di Observatorium La Silla, Chili, untuk mengamati lebih dekat.

“Apa yang kami temukan melampaui segala mimpi terliar saya,” ungkap Haswell. Tim menemukan planet di sekitar tiga bintang pertama yang mereka amati secara mendetail. Dan ketiga sistem planet ini ternyata sangat liar. Bintang DMPP-1 dikelilingi oleh tiga planet terdalam dengan kisaran massa 3,5-10 kali lipat massa Bumi, dan satu planet terluar yang lebih masif daripada Neptunus. Sedangkan bintang DMPP-2 memiliki sebuah planet dengan massa sekitar 50% Jupiter dan mengorbit hanya dalam waktu lima hari. Sementara bintang DMPP-3 memiliki sebuah planet berukuran kecil kira-kira dua kali massa Bumi, termasuk satu bintang pengiring yang terpisah dalam jarak yang lebih jauh.

Semua planet yang baru ditemukan ini mengorbit bintang induk masing-masing dari jarak yang lebih dekat daripada jarak Merkurius-Matahari, dan sebagian besar merupakan dunia-dunia berbatu seukuran Bumi. “Mungkin kami telah mengidentifikasi populasi planet yang tersembunyi,” tambah rekan penulis makalah ilmiah John Barnes, sesama ilmuwan dari Open University.

Grinspoon mengapresiasi studi dan menyebutnya upaya yang “cerdik.” Grinspoon telah lama berpikir hanya ada sedikit informasi yang kita ketahui tentang eksoplanet. “Tetapi kita terus menemukan teknik-teknik baru yang luar biasa cerdas,” katanya. “Saya membaca makalah ilmiah mereka, tak pernah menduga mereka akan menemukan terobosan dalam perkembangan studi semacam ini.”

Hasil studi tak sekadar menunjukkan teknik baru yang juga bisa diterapkan oleh para astronom untuk mengungkap detail planet-planet ini dengan lebih efisien, tetapi juga menyediakan sejumlah studi tindak lanjut. Untuk mengkonfirmasi eksistensi planet, tim menggunakan metode “kecepatan radial” untuk mencari goyangan dalam pergerakan bintang yang disebabkan tarikan gravitasi dari planet-planet yang menyertainya.

Tim memprediksi sebagian besar planet yang mereka pelajari juga dapat dideteksi menggunakan metode transit, teknik untuk mencari penurunan skala kecerahan bintang saat sebuah planet melintas di depannya dari sudut pandang para pengamat di Bumi. Metode kecepatan radial memungkinkan para astronom untuk memperkirakan massa planet, sedangkan metode transit dapat digunakan untuk memperkirakan ukuran planet.

Apabila dikombinasikan, kedua metode ini dapat mengungkap masa jenis untuk setiap planet, langkah penting dalam memahami komposisi planet. Terlebih lagi, para astronom dapat lebih memahami geologi planet-planet yang mengalami ablasi, dengan mempelajari sisa-sisa cakram protoplanet yang mengelilingi bintang induk, untuk mencari berbagai unsur kimia melalui teknik penyerapan panjang gelombang tertentu cahaya bintang.

Grinspoon cenderung menerapkan teknik ini guna memahami evolusi planet, terutama pada tahap awal pembentukan saat bintang induk muda menerjang planet dengan ledakan radiasi kuat. “Mungkin inilah jendela ke fase tertentu,” katanya. Menggunakan Venus sebagai sampel, beberapa model menunjukkan Venus kemungkinan pernah menampung lautan selama miliaran tahun. Berarti dulu Venus mungkin lebih menyerupai Bumi dan layak huni, meskipun sekarang menjadi neraka panas beracun.

Tetapi kebenaran model semacam itu sangat bergantung pada aktivitas Matahari kita saat berusia muda. Sesaat setelah dilahirkan, Venus adalah “dunia magma” yang berevolusi menjadi “dunia uap” saat mendingin, yang dengan cepat membuang molekul air (uap) ke luar angkasa, sebagaimana planet-planet kecil yang ditemukan oleh tim Haswell. Atau, Venus barangkali mengalami fase intermediate, uap mengembun dan menghujani permukaan untuk menciptakan lautan. Kapan dan bagaimana Matahari membombardir Venus muda adalah faktor utama yang menentukan perbedaan nasib antara kedua planet kembar terdalam tata surya. Jadi, dengan lebih memahami proses semacam ini di sistem planet lain, para ilmuwan dapat lebih memahami apa yang terjadi di sejarah awal tata surya kita.

Tetapi sebelum Haswell dan para kolega berencana untuk melakukan studi tindak lanjut, mereka akan terus meneliti sistem lain yang berpotensi menjadi induk planet orbit-rapat. Dengan hanya tiga sistem yang telah diamati sepenuhnya, mereka memiliki 36 sistem yang tersisa dalam daftar. Untungnya, mereka akan menerima waktu penggunaan teleskop selama 10 malam pada awal tahun. “Inilah kado Natal yang istimewa,” ucap Barnes.

Ditulis oleh: Shannon Hall, www.scientificamerican.com


#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...