![]() |
Ilustrasi Solar Orbiter yang mengintip Matahari melalui lubang intai di perisai panas. Kredit: ESA/ATG medialab |
Solar Orbiter, misi kolaborasi baru antara
NASA dan ESA (Badan Antariksa Eropa) untuk mempelajari Matahari, telah
diluncurkan pada tanggal 9 Februari pukul 11:03 malam EST dari Cape Canaveral Air Force Station di
Florida menggunakan roket United Launch Alliance
Atlas V.
Menggunakan gaya dorong gravitasi Venus dan
Bumi, Solar Orbiter akan keluar dari bidang ekliptika tata surya. Bidang
ekliptika kira-kira sejajar dengan khatulistiwa Matahari yang dilalui oleh
orbit seluruh planet tata surya. Dari sana, Solar Orbiter akan mengabadikan
gambar pertama kutub utara dan selatan Matahari.
“Hingga saat ini, semua instrumen pencitraan
Matahari selalu berada di dalam bidang ekliptika,” ungkap ilmuwan Russell
Howard dari Naval Research Lab di
Washington, D.C., sekaligus peneliti utama 1 dari 10 instrumen Solar Orbiter.
“Sekarang, kita berharap untuk menatap Matahari dari atas.”
“Misi ini akan menjadi terra incognita (wilayah yang belum terpetakan),” tambah ilmuwan
Daniel Müller dari European Space
Research and Technology Centre ESA di Belanda. “Benar-benar eksplorasi
sains.”
![]() |
Animasi sebagian lintasan orbit Solar Orbiter yang sangat miring. Kredit: ESA/ATG medialab |
Matahari memainkan peran sentral dalam
membentuk lingkungan ruang angkasa di sekitar kita. Medan magnet Matahari
membentang jauh melampaui Pluto dan membawa partikel-partikel bermuatan yang
disebut angin surya. Ketika menerjang Bumi, semburan angin surya dapat memicu
badai cuaca antariksa yang mengganggu GPS dan satelit komunikasi kita, bahkan
dapat membahayakan para astronot.
Untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi
badai surya yang akan datang, para ilmuwan selalu memantau medan magnet
Matahari. Tetapi, teknik mereka paling ideal jika bisa langsung menatap
Matahari, semakin baik sudut pandang maka semakin baik pula data yang
terkumpul. Pemandangan kutub Matahari hanya dari bidang ekliptika meninggalkan
celah besar dalam data.
“Kutub sangat penting bagi kami untuk membuat
model yang lebih akurat,” jelas ilmuwan Holly Gilbert dari Pusat Penerbangan
Antariksa NASA di Greenbelt, Maryland. "Untuk memprediksi cuaca antariksa,
kami membutuhkan model medan magnet global Matahari yang cukup akurat.”
Kutub Matahari juga dapat menjelaskan
observasi yang telah dilakukan selama berabad-abad. Pada tahun 1843, astronom
Jerman Samuel Heinrich Schwabe menemukan bahwa jumlah bintik Matahari (bercak
gelap di permukaan Matahari yang merupakan medan magnet kuat), bertambah dan
berkurang dalam pola berulang. Sekarang kita tahu, aktivitas bintik Matahari
adalah siklus 11 tahunan Matahari.
Salah satu cara yang digunakan untuk melacak
siklus adalah dengan menghitung jumlah bintik Matahari. Awal siklus Matahari
kerap disebut solar minimum, ketika
jumlah bintik Matahari paling sedikit, sedangkan solar maximum adalah jumlah bintik Matahari terbanyak. “Kami belum
bisa memahami mengapa durasi siklus harus berlangsung selama 11 tahun atau
mengapa beberapa solar maximum lebih
kuat daripada yang lain,” ujar Gilbert. Mengamati perubahan medan magnet kutub
Matahari barangkali bisa menyediakan jawaban.
![]() |
Simulasi erupsi surya yang menerjang medan magnet Bumi. Kredit: Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA/ Scientific Visualization Studio/Community-Coordinated Modeling Center |
Satu-satunya pesawat antariksa yang
sebelumnya pernah terbang di atas kutub Matahari, juga adalah kolaborasi
sains antara NASA dan ESA. Diluncurkan pada tahun 1990, pesawat antariksa
Ulysses membuat tiga lintasan di sekitar Matahari sebelum dinonaktifkan pada
tahun 2009. Tapi Ulysses tidak pernah mencapai jarak yang lebih dekat daripada
jarak Bumi-Matahari, dan hanya membawa instrumen in situ (layaknya indera peraba manusia) untuk mengukur lingkungan
ruang angkasa di sekitar pesawat antariksa.
Di sisi lain, Orbiter akan melintas di dalam
orbit Merkurius dengan membawa empat instrumen in situ dan enam instrumen pencitraan penginderaan jauh untuk
mengamati Matahari dari kejauhan. “Kita akan memetakan apa yang kita 'sentuh'
dengan instrumen in situ dan apa yang
kita 'lihat' dengan penginderaan jauh,” ungkap Teresa Nieves-Chinchilla, wakil
ilmuwan proyek NASA untuk misi Solar Orbiter.
Setelah bertahun-tahun pengembangan
teknologi, instrumen in situ akan
menjadi kamera terdekat yang pernah menghadap Matahari. “Anda tidak akan bisa
melampaui jarak yang dicapai Solar Orbiter dan masih bisa menatap Matahari,”
Muller menambahkan.
Tinjauan misi Solar Orbiter ESA/NASA.
Kredit:
Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA/Joy Ng
Selama tujuh tahun durasi misi, Solar Orbiter
akan mencapai kemiringan 24 derajat di atas garis khatulistiwa Matahari dan akan
meningkat menjadi 33 derajat dengan tambahan tiga tahun perpanjangan
operasional misi. Titik terdekat dari Matahari yang bisa dicapai oleh terbang
lintas Solar Orbiter adalah 26 juta mil.
Untuk mengatasi panas, Solar Orbiter
dilengkapi pelindung panas titanium yang dirancang khusus dengan lapisan
kalsium fosfat untuk menahan panas lebih dari 900 derajat Fahrenheit (tiga
belas kali lebih panas daripada suhu yang dihadapi pesawat antariksa di orbit
Bumi). Lima instrumen penginderaan jauh akan mengamati Matahari melalui lubang
intai di perisai panas, sementara satu instrumen lainnya mengamati Matahari
dari samping.
Solar Orbiter adalah misi utama kedua NASA ke
wilayah terdalam tata surya dalam beberapa tahun terakhir, setelah peluncuran
Parker Solar Probe pada bulan Agustus 2018. Parker telah menyelesaikan empat
kali terbang lintas terdekat, hanya terpisah sejauh empat juta mil dari
Matahari, rekor jarak terdekat.
Dan kedua pesawat antariksa dalam misi
menyentuh Matahari ini akan saling bekerja sama. Saat Parker mengambil sampel
partikel surya dari dekat, Solar Orbiter akan membidik gambar dari jarak yang
lebih jauh untuk mengontekstualisasikan observasi. Mereka berdua juga akan
sesekali sejajar untuk mengukur garis medan magnet yang sama atau aliran angin
surya pada waktu yang berbeda.
“Kami memperoleh banyak informasi dari
Parker, ditambah Solar Orbiter berarti akan ada lebih banyak pengetahuan baru,”
pungkas Nieves-Chinchilla.
Penulis dan editor: Miles Hatfield,
www.nasa.gov
Komentar
Posting Komentar