![]() |
Kredit: NRAO/AUI/NSF; S. Dagnello |
Mengintip
miliaran tahun cahaya ke masa lalu ketika alam semesta baru berusia sekitar 10%
dari usianya saat ini, para astronom telah menemukan tumpukan raksasa kosmik
yang terdiri dari 14 galaksi starburst
muda yang menyatu untuk membentuk salah satu struktur paling masif di alam
semesta.
Menggunakan
beberapa teleskop paling kuat saat ini, tim astronom internasional dari
berbagai negara telah mengamati konsentrasi padat galaksi yang saling mengarah
satu sama lain.
Pada
akhirnya, megamerger akan membentuk
sebuah gugus galaksi yang terikat secara gravitasi oleh materi gelap tak kasat
mata.
Tahap
penyatuan yang disebut protocluster ini dianggap sebagai penemuan yang sangat
luar biasa.
“Mengamati
sebuah gugus galaksi masif dalam tahap formasi yang penuh gejolak semacam itu
benar-benar penemuan spektakuler,” ungkap astrofisikawan Scott Chapman dari
Universitas Dalhousie, salah satu penulis makalah ilmiah yang telah
dipublikasikan di jurnal Nature.
“Tetapi
fakta bahwa fenomena berlangsung begitu awal dalam sejarah kosmos, adalah tantangan berat bagi pengetahuan kita saat ini terkait bagaimana struktur masif terbentuk
di alam semesta.”
![]() |
14 galaksi di protocluster SPT2349-56 yang dicitrakan oleh ALMA. Kredit: ALMA; ESO/NAOJ/NRAO; B. Saxton, NRAO/AUI/NSF |
Protocluster
yang diberi kode SPT2349-56 terletak 12,4 miliar tahun cahaya dari Bumi, dihuni
oleh galaksi-galaksi berdebu yang memproduksi bintang 1.000 kali
lebih cepat daripada Bima Sakti. Namun protocluster hanya menempati volume ruang
tiga kali lebih luas daripada seluruh galaksi kita.
Protocluster
adalah struktur yang sangat langka, SPT2349-56 adalah satu dari dua
protocluster yang pernah ditemukan.
Satu
tim astronom lain juga telah mempublikasikan penemuan protocluster sejenis di
arXiv dan The Astrophysical Journal,
yaitu 10 galaksi starburst berdebu
dari alam semesta awal yang diberi nama Dusty
Red Core.
Para
astronom dapat mengungkap penemuan segala macam objek kosmik yang terbentuk pada awal alam semesta, seperti bintang, galaksi dan gugus galaksi, tetapi ukuran
dan komposisi protocluster masih tetap misterius.
“Usia
hidup bintang di galaksi starburst berdebu relatif pendek, karena mereka
mengkonsumsi molekul gas pada tingkat yang luar biasa,” jelas rekan penulis makalah ilmiah Iván Oteo dari Universitas Edinburgh.
“Kapan
dan di mana saja, galaksi starburst
berdebu adalah minoritas di alam semesta. Jadi menemukan mereka dalam jumlah yang sangat banyak
secara bersamaan justru sangat membingungkan.”
Menurut
model kosmos yang diyakini oleh para astronom, alam semesta setelah Big Bang
masih gelap untuk sementara waktu. Baru sekitar 1 miliar tahun kemudian,
seluruh alam semesta mengalami ionisasi dan mulai transparan sehingga
galaksi-galaksi generasi pertama dapat diamati.
Gugus
galaksi ini muncul sekitar 1,4 miliar tahun setelah Big Bang. Berdasarkan
prediksi model evolusi kosmos, gugus galaksi seharusnya membutuhkan waktu lebih
lama untuk berevolusi.
“Bagaimana
ikatan galaksi ini berkembang begitu cepat adalah sebuah misteri,” ujar Tim
Miller dari Universitas Yale, penulis utama makalah ilmiah yang telah
dipublikasikan di jurnal Nature.
“Protocluster
SPT2349-56 tidak terbentuk secara bertahap selama miliaran tahun sebagaimana perkiraan
para astronom. Penemuan ini memberikan peluang besar untuk mempelajari
bagaimana galaksi-galaksi masif bersatu untuk membangun gugus galaksi raksasa.”
![]() |
Kredit: ESO/ALMA (ESO/NAOJ/NRAO)/Miller dkk. |
SPT2349-56
pertama kali diamati sebagai bercak cahaya redup yang dicitrakan oleh South Pole Telescope pada tahun 2010, dan
dianggap cukup unik untuk menjamin studi tindak lanjut menggunakan teleskop
yang lebih kuat.
Atacama Large Millimeter
Array (ALMA) dan Atacama
Pathfinder Experiment (APEX) besutan
ESO selanjutnya digunakan untuk mengambil gambar objek dalam resolusi yang
lebih tinggi untuk mengungkap lebih banyak detail.
Obek
kosmik di alam semesta awal terlalu redup untuk dipelajari oleh teleskop, jadi
tidak menutup kemungkinan ada lebih banyak protocluster di luar sana, menurut para
peneliti.
“Penemuan
ALMA hanyalah puncak gunung es. Observasi tambahan menggunakan APEX menunjukkan
jumlah galaksi starburst yang mungkin
tiga kali lebih banyak," pungkas astronom Carlos De Breuck dari ESO.
“Observasi
yang sedang berlangsung menggunakan instrumen MUSE di Very Large Telescope (VLT) ESO diharapkan mengidentifikasi
eksistensi galaksi tambahan.”
Ditulis
oleh: Michelle Starr, www.sciencealert.com
Komentar
Posting Komentar