![]() |
Awan Molekuler Perseus, kumpulan gas dan debu kosmik yang membentang sepanjang 500 tahun cahaya diketahui menampung banyak bintang berusia belia. Kredit: NASA/JPL-Caltech |
Ruang
antarbintang di dalam sebuah galaksi hampir sepenuhnya hampa dan hanya diisi
oleh atom-atom hidrogen yang begitu tersebar. Atom-atom hidrogen terpisah
sangat jauh, jika ukuran rata-rata sebuah atom setara dengan manusia, maka setiap
atom akan terpisah sekitar 465 juta mil (jarak Matahari-Jupiter). Karena sangat
panas, atom-atom hidrogen bergerak sangat cepat. Mereka terpapar radiasi
ultraviolet ganas dari bintang-bintang dan sulit menyatu untuk membentuk ikatan
molekul. Bahkan atom yang kebetulan membentuk ikatan molekul tidak akan
bertahan terlalu lama karena kembali dikoyak oleh radiasi ultraviolet.
Namun
tidak semua kondisi di ruang antarbintang seperti itu. Ruang antarbintang juga
terdiri dari awan tebal debu dan gas sisa-sisa pembentukan galaksi. Karena
lebih dingin daripada wilayah lain di seluruh galaksi, awan kosmik adalah
lokasi yang ideal untuk melahirkan bintang-bintang baru. Ketika massa jenis atom
1.000 kali lebih tinggi daripada massa jenis di ruang antarbintang pada
umumnya, atom cenderung membentuk ikatan molekul dan awan gas berevolusi
menjadi awan molekuler.
Layaknya
awan di langit Bumi, awan molekuler juga menggumpal dan terlihat gembung.
Diameter awan molekuler di galaksi Bima Sakti membentang mulai kurang dari 1
tahun cahaya hingga sekitar 300 tahun cahaya, mengandung molekul gas yang cukup
untuk membentuk 10 hingga 10 juta bintang seperti Matahari kita. Awan molekuler
yang melampaui massa 100.000 Matahari disebut Awan Molekuler Raksasa.
Galaksi
spiral tulen mengandung sekitar 1.000-2.000 awan molekuler raksasa dan ada lebih
banyak lagi awan molekuler yang berukuran lebih kecil. Awan molekuler pertama
kali ditemukan di Bima Sakti dengan teleskop radio sekitar 25 tahun yang lalu.
Karena molekul dalam awan tidak memancarkan cahaya optik (kasat mata), tetapi
melepaskan emisi gelombang radio, jadi dibutuhkan teleskop radio untuk melacak
dan mempelajari sifat fisik awan gas molekuler. Sebagian besar molekul gas
sangat dingin (sekitar minus 440 derajat Fahrenheit) karena terlindung dari
paparan sinar ultraviolet. Karena massa jenis gas lebih tinggi dalam kondisi
yang lebih dingin, gaya gravitasi lebih mudah meruntuhkan awan molekuler untuk memproduksi
bintang-bintang baru.
Ironisnya,
kondisi ideal untuk memproduksi bintang sekaligus meniadakan proses kelahiran
bintang, mengingat bintang-bintang belia yang sangat panas meningkatkan suhu
molekul hingga melampaui 1.000 derajat Fahrenheit, kondisi yang tidak
menguntungkan untuk melahirkan bintang-bintang baru. Ketika suhu melampaui 3.000
derajat Fahrenheit, molekul gas akan terurai menjadi atom.
Kepadatan
molekul gas dapat meningkat secara signifikan di dekat pusat beberapa awan
molekuler raksasa, sekitar 1 miliar molekul per inci kubik. (Meskipun padat
menurut standar astronomi, molekul gas semacam itu masih 100 miliar kali lebih
tipis daripada udara yang kita hirup di Bumi!) Di wilayah ruang yang padat
seperti itu, gas dapat menggumpal untuk membentuk bintang-bintang baru. Meskipun
proses pembentukan bintang belum sepenuhnya dipahami, ada bukti observasi yang
menunjukkan sebagian besar bintang dilahirkan di wilayah terpadat awan molekuler.
Apa
yang terjadi saat bintang mulai terbentuk di Awan Molekuler Raksasa tergantung
pada lingkungan kosmik di sekitarnya. Dalam kondisi normal di sebagian besar
galaksi spiral, termasuk Bima Sakti, laju kelahiran bintang akan berhenti
setelah beberapa bintang dilahirkan, karena wilayah pembentuk bintang justru dicerai-beraikan
oleh bintang-bintang yang baru dilahirkan. Peningkatan suhu panas memecah
molekul dan mengusir gas. Saat kabut gas dan debu kosmik menghilang,
bintang-bintang muda yang sebelumnya tersembunyi di dalamnya mulai terlihat dan
awan molekuler tak lagi mampu membentuk bintang-bintang baru. Dua tahun lalu
Teleskop Antariksa Hubble NASA mengungkap wilayah pembentuk bintang di tiga
pilar gas Nebula Elang.
Awan
Molekuler Raksasa di tengah fenomena tabrakan antar galaksi dapat mengalami
nasib yang berbeda. Ketika tabrakan menghancurkan molekul gas antarbintang dan
laju kelahiran bintang meningkat pesat, tekanan gas di sekitar Awan Molekuler
Raksasa meningkat seratus hingga seribu kali lipat. Para astronom memprediksi
gas panas di sekitarnya dapat memicu kelahiran bintang dengan sangat cepat di
seluruh awan molekuler melalui gelombang kejut.
Beberapa
ratus ribu bintang yang terbentuk dari gas molekuler dingin seperti itu
mengkonsumsi sebagian besar gas sebelum sempat tersebar dan dipanaskan. Fenomena
ganas tersebut mengubah Awan Molekuler Raksasa menjadi gugus-gugus bintang yang
masing-masing mengandung hingga 1 juta bintang. Observasi Hubble menunjukkan
banyak gugus bintang yang baru terbentuk, tetap terikat erat secara gravitasi
dan berevolusi menjadi gugus bintang globular, seperti yang kerap ditemukan di
lingkaran halo Bima Sakti.
Ditulis
oleh: Staf hubblesite.org
Artikel
terkait: Misteri Variasi Usia Bintang di Awan Molekuler Perseus
Komentar
Posting Komentar