Kelanjutan
dari artikel: 15 Penemuan Terbesar Teleskop Antariksa Spitzer selama 15 Tahun Misi di Luar Angkasa (Bagian 1)
![]() |
Kredit gambar: NASA/JPL-Caltech |
7.
Lubang Hitam Jauh
Lubang
hitam supermasif mengintai dari pusat galaksi. Spitzer telah mengidentifikasi dua lubang hitam supermasif
terjauh yang memberikan pengamatan sekilas terhadap sejarah
pembentukan galaksi di alam semesta.
Lubang
hitam supermasif biasanya dikelilingi oleh piringan akresi debu dan gas yang menyuplai material sebagai sumber daya quasar, objek paling terang di alam semesta. Cahaya dari dua quasar yang dideteksi Spitzer telah menempuh perjalanan selama 13 miliar tahun untuk mencapai Bumi. Berarti mereka terbentuk kurang dari 1 miliar tahun setelah Big Bang.
![]() |
Kredit gambar: NASA/JPL-Caltech |
6.
Eksoplanet Terjauh
Pada
tahun 2010, Spitzer membantu para astronom untuk mendeteksi salah satu planet
paling terpencil yang pernah ditemukan, sekitar 13.000 tahun
cahaya dari Bumi. Sebagian besar eksoplanet yang telah ditemukan hanya terletak sekitar 1.000 tahun cahaya dari Bumi.
Spitzer
menyelesaikan tugas perburuan eksoplanet jauh dengan bantuan teleskop berbasis
darat dan teknik pencarian planet yang disebut pelensaan gravitasi. Teknik ini mengandalkan fenomena gaya gravitasi dari objek masif yang mendistorsi cahaya dari objek latar belakang. Ketika sebuah bintang melintas di depan sebuah
bintang yang terletak lebih jauh dari sudut pandang para pengamat di Bumi, gaya gravitasi bintang
di latar depan mendistorsi dan memperkuat cahaya dari bintang latar
belakang. Jika ada sebuah planet yang kebetulan mengorbit bintang di latar depan, cahaya dari bintang latar belakang meninggalkan jejak khusus yang mengungkap eksistensi planet.
Penemuan
ini juga memberikan satu petunjuk lagi bagi para ilmuwan, yang ingin mengetahui
kemiripan populasi planet di wilayah lain galaksi Bima Sakti, atau apakah mereka berbeda dengan apa yang telah diamati di lingkungan kosmik lokal kita.
![]() |
Kredit gambar: NASA/JPL-Caltech |
5.
Cahaya Pertama dari Sebuah Eksoplanet
Spitzer
adalah teleskop pertama yang secara langsung mengamati cahaya dari sebuah
planet di luar tata surya kita. Sebelum itu, penemuan eksoplanet dihasilkan melalui metode tidak langsung. Prestasi Spitzer mengawali era baru perburuan eksoplanet dan menjadi tonggak utama untuk mendeteksi jejak biologis di eksoplanet berbatu.
Dua makalah ilmiah yang dirilis pada tahun 2005 melaporkan pengamatan langsung inframerah dari dua buah planet tipe “Jupiter panas” yang diberi kode HD 209458b dan TrES-r1. Jupiter panas adalah planet raksasa gas yang mirip dengan Jupiter atau Saturnus, tetapi mengorbit bintang induk dari jarak sangat dekat. Karena berada sangat dekat dengan bintang induk, mereka menyerap banyak
cahaya bintang dan bersinar terang dalam panjang gelombang inframerah.
![]() |
Kredit gambar: NASA/JPL-Caltech/Northern Arizona University/SAO |
4.
Karakterisasi Ukuran Asteroid
Visi
inframerah Spitzer memungkinkan observasi tindak lanjut terhadap beberapa objek
terjauh yang telah ditemukan. Namun Spitzer juga dapat dimanfaatkan untuk mempelajari objek-objek kecil di dekat Bumi. Secara khusus, Spitzer telah membantu para ilmuwan
mengidentifikasi dan mempelajari Near-Earth
Asteroid (NEA). NASA memantau mereka untuk memastikan tidak ada
yang melintas di jalur yang mengarah ke planet kita.
Spitzer terbukti efektif untuk mengkarakterisasi ukuran NEA secara akurat, karena dapat
mendeteksi cahaya inframerah yang dipancarkan langsung dari asteroid. Asteroid tidak memancarkan cahaya kasat mata dan hanya memantulkannya dari Matahari. Oleh karena itu cahaya kasat mata dapat mengungkap tingkat reflektifitas tetapi tidak bisa menentukan ukuran asteroid secara akurat. Spitzer telah digunakan untuk mempelajari banyak NEA yang lebarnya
kurang dari 100 meter.
![]() |
Kredit gambar: NASA/JPL-Caltech/Universitas Wisconsin |
3.
Peta Terluas Galaksi Bima Sakti
Pada
tahun 2013, para ilmuwan mengumpulkan lebih dari 2 juta gambar yang diambil oleh Spitzer selama 10 tahun, untuk membuat salah satu peta terluas
galaksi Bima Sakti. Data peta terutama berasal dari proyek Galactic Legacy Mid-Plane Survey Extraordinaire 360 (GLIMPSE360).
Melihat
Bima Sakti tidak semudah yang dipikirkan, karena debu menghalangi cahaya kasat mata dan menyembunyikan beberapa wilayah galaksi. Tetapi,
cahaya inframerah dapat menembus debu dan mengungkap wilayah-wilayah galaksi yang tersembunyi.
Studi
galaksi Bima Sakti menggunakan data Spitzer telah memberikan para ilmuwan peta rinci struktur spiral dan batang bintang galaksi. Spitzer juga telah mengungkap lokasi-lokasi terpencil pabrik bintang dan tingkat kelimpahan karbon di dalam galaksi yang ternyata lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya. Peta GLIMPSE360 terus memandu para astronom untuk mengeksplorasi galaksi rumah kita.
![]() |
Kredit gambar: NASA/JPL-Caltech/ESA |
2.
Galaksi-Galaksi ‘Bayi Besar’
Spitzer
telah memberikan kontribusi besar untuk mempelajari beberapa galaksi dari alam semesta paling awal yang pernah diamati. Cahaya dari galaksi-galaksi purba ini
membutuhkan waktu miliaran tahun untuk mencapai Bumi, dengan demikian para
ilmuwan melihat mereka sebagaimana terlihat miliaran tahun yang lalu.
Galaksi-galaksi paling jauh yang diamati Spitzer memancarkan cahayanya
sekitar 13,4 miliar tahun yang lalu, atau kurang dari 400 juta tahun setelah Big Bang.
Salah
satu penemuan paling mengejutkan dalam bidang penelitian ini adalah deteksi
galaksi-galaksi “bayi besar”, yaitu pembentukan galaksi-galaksi awal yang ternyata jauh lebih besar dan lebih dewasa. Para ilmuwan meyakini galaksi-galaksi raksasa modern
terbentuk melalui penggabungan galaksi-galaksi kecil secara bertahap.
Namun galaksi-galaksi “bayi besar” mengindikasikan ikatan bintang yang sangat masif telah bersatu begitu awal dalam sejarah kosmos.
![]() |
Kredit gambar: NASA/JPL-Caltech |
1.
Tujuh Eksoplanet Seukuran Bumi
Tujuh
eksoplanet seukuran Bumi mengorbit sebuah bintang yang disebut TRAPPIST-1, sistem planet terbesar seukuran Bumi yang pernah ditemukan. Tiga dari tujuh planet di dalam sistem mengorbit dari “zona layak huni”
bintang induk, sebuah wilayah yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin dan berpotensi menopang air cair di permukaan planet. Penemuan ini adalah sebuah langkah besar dalam upaya pencarian kehidupan di luar tata surya kita.
Para
ilmuwan mempelajari sistem TRAPPIST-1 selama lebih dari 500 jam observasi menggunakan
Spitzer untuk menentukan jumlah planet yang mengorbit. Visi
inframerah Spitzer sangat ideal untuk mempelajari bintang TRAPPIST-1 yang jauh
lebih dingin daripada Matahari kita. Para ilmuwan mengamati penurunan lemah skala kecerahan cahaya bintang saat ketujuh planet melintas di depannya. Observasi Spitzer juga memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari ukuran dan massa sistem planet, yang dapat digunakan untuk membatasi komposisi mereka.
Laboratorium
Propulsi Jet NASA (JPL) mengelola misi Teleskop Antariksa Spitzer untuk Direktorat Misi
Sains NASA di Washington. Operasi sains dilakukan di Pusat Sains Spitzer di
Caltech, Pasadena. Basis operasi pesawat antariksa berada di Lockheed Martin
Space Systems Company, di Littleton, Colorado. Data disimpan di Arsip Sains
Inframerah IPAC di Caltech. Caltech mengelola JPL untuk
NASA.
Ditulis
oleh: Staf www.jpl.nasa.gov
Thanks infonya. Jangan lupa kunjungi http://bit.ly/2vplrBi
BalasHapus