![]() |
Kredit: Sinar-X: NASA/CXC/NCSU/S. Reynolds; Optik: PanSTARRS |
Para
ilmuwan telah mengkonfirmasi identitas pulsar termuda yang pernah ditemukan di galaksi Bima Sakti menggunakan data dari Observatorium Sinar-X Chandra NASA. Hasil observasi menyediakan informasi baru kepada para astronom tentang bagaimana cara beberapa bintang mengakhiri kehidupan mereka.
Setelah kehabisan bahan bakar hidrogen untuk fusi nuklir, beberapa bintang masif runtuh dan memicu ledakan supernova, menghasilkan inti bintang super padat yang disebut “bintang neutron”. Bintang neutron sangat magnetik, berotasi sangat
cepat dan menghasilkan berkas cahaya mirip mercusuar yang dideteksi oleh para astronom sebagai pulsar melalui denyut gelombang radio, cahaya kasat
mata atau sinar-X.
Sejak
Jocelyn Bell Burnell, Anthony Hewish dan para kolega pertama kali
menemukan pulsar melalui deteksi emisi gelombang radio pada tahun 1960-an, lebih dari
2.000 objek serupa telah diidentifikasi. Namun masih banyak
misteri yang melingkupi pulsar, termasuk beragam sifat bintang
yang membentuk mereka.
Data terbaru dari Chandra membantu menjawab beberapa pertanyaan. Satu tim
astronom telah mengkonfirmasi sisa supernova bintang Kes 75 yang terletak
sekitar 19.000 tahun cahaya dari Bumi, mengandung pulsar termuda di galaksi
Bima Sakti.
Rotasi
sangat cepat dan medan magnet kuat pulsar dari "mantan" bintang Kes 75, menghasilkan angin material berenergik dan partikel antimateri yang berhembus hampir secepat cahaya. Angin pulsar Kes 75 telah
menciptakan gelembung magnetik raksasa partikel berenergi tinggi yang
disebut nebula angin pulsar, nebula berwarna biru yang mengelilingi pulsar.
Dalam citra komposit pulsar Kes 75 di atas, sinar-X biru berenergi tinggi yang diamati
oleh Chandra adalah nebula angin pulsar, sementara sinar-X berenergi rendah yang berwarna ungu adalah sisa-sisa ledakan supernova.
Data
Chandra yang dikumpulkan pada tahun 2000, 2006, 2009 dan 2016, menunjukkan
perubahan nebula angin pulsar seiring waktu. Antara tahun 2000 hingga
2016, observasi Chandra mengungkap ujung terluar nebula angin pulsar yang telah
meluas dengan kecepatan lebih dari 2 juta mil per jam.
Akselerasi ekspansi mungkin disebabkan oleh nebula angin pulsar yang merambah ke lingkungan ruang angkasa dengan kerapatan relatif
rendah. Secara khusus, tim memprediksi nebula angin pulsar mengembang menjadi gelembung gas yang ditiup oleh elemen nikel radioaktif dari ledakan supernova. Nikel radioaktif juga turut berkontribusi atas sumber cahaya supernova, karena meluruh menjadi molekul gas besi yang
menyebar dan mengisi gelembung. Jika prediksi tim benar, maka fenomena ini akan memberikan
wawasan baru terkait unsur yang ditempa oleh bintang saat meledak.
Laju ekspansi juga mengarah ke perkiraan waktu supernova. Kes 75 mungkin meledak sekitar lima abad yang lalu saat diamati dari Bumi. (Kes 75 terletak 19.000 tahun cahaya, tetapi tim cenderung merujuk saat cahaya supernova tiba
di Bumi.) Tak seperti sisa-sisa supernova lain dari era saat ini, misalnya Tycho dan Kepler, tidak ada catatan sejarah observasi supernova
Kes 75.
Lantas, mengapa
Kes 75 tidak terlihat dari Bumi? Observasi Chandra dan jajaran teleskop lainnya mengungkap bagaimana debu dan gas antarbintang
yang memenuhi galaksi Bima Sakti menghalangi kita untuk mengamati tahap terakhir kematian Kes 75, sehingga supernova terlalu redup untuk dapat dilihat dari Bumi
beberapa abad yang lalu.
Kecerahan
nebula angin pulsar telah menurun 10% dari tahun 2000 hingga 2016, terutama di bagian utara yang telah menurun 30%. Penurunan drastis skala kecerahan dan strukturnya yang unik hanya dapat dijelaskan oleh model simulasi evolusi nebula angin pulsar yang
lebih canggih.
Makalah ilmiah yang melaporkan hasil penelitian telah dipublikasikan di The Astrophysical Journal dan tersedia secara
online. Para penulis makalah studi adalah Stephen Reynolds, Kazimierz Borokowski dan
Peter Gwynne dari Universitas Negeri Carolina Utara.
Ditulis
oleh: Staf www.nasa.gov, editor: Lee Mohon
Artikel terkait: Fitur Tidak Biasa di Sekitar Bintang Neutron
#terimakasihgoogle
dan #terimakasihnasa
Komentar
Posting Komentar