Langsung ke konten utama

Pensiun, Kepler Mewariskan Sekitar 2.600 Penemuan Eksoplanet

kepler-pemburu-eksoplanet-nasa-pensiun-informasi-astronomi
Ilustrasi Teleskop Antariksa Kepler NASA. Pada tanggal 30 Oktober 2018, NASA mengumumkan purna tugas Kepler setelah kehabisan bahan bakar. Kepler tetap berada di lintasan orbit yang aman dan jauh dari Bumi. Kepler telah mewariskan lebih dari 2.600 penemuan eksoplanet.
Kredit: NASA/Wendy Stenzel

Setelah sembilan tahun mengemban misi di luar angkasa untuk mengumpulkan data yang menunjukkan langit kita penuh sesak dengan miliaran planet tersembunyi, Teleskop Antariksa Kepler NASA akhirnya kehabisan bahan bakar. NASA kemudian memutuskan untuk memensiunkan Kepler di lintasan orbit aman yang jauh dari Bumi. Kepler telah meninggalkan warisan penemuan lebih dari 2.600 planet di luar tata surya kita (eksoplanet), banyak di antaranya yang berpotensi layak huni.

“Sebagai instrumen pemburu planet pertama NASA, Kepler telah melampaui segala ekspektasi kami, sekaligus membuka jalan eksplorasi untuk mencari kehidupan di dalam dan di luar tata surya,” kata Thomas Zurbuchen, Administrator Asosiasi Direktorat Misi Sains NASA di Washington. “Tak sekadar menunjukkan kepada kita berapa banyak jumlah planet di luar sana, Kepler telah memicu sebuah bidang penelitian yang benar-benar baru. Eksoplanet yang ditemukan Kepler telah memberikan cahaya baru terkait tempat tinggal kita di tengah kosmos yang menerangi misteri menarik di antara bintang-bintang.”

Kepler telah membuka wawasan baru tentang keanekaragaman planet di galaksi kita. Analisis terbaru terhadap penemuan Kepler menyimpulkan 20-50% bintang yang terlihat di langit malam cenderung diorbit oleh planet terestrial (berbatu) berukuran kecil mirip Bumi yang terletak di dalam zona layak huni bintang induk. Berarti mereka menempati jarak ideal dari bintang induk yang berpotensi menopang air cair di permukaan, unsur terpenting yang dibutuhkan oleh kehidupan untuk muncul dan berkembang biak.

Ukuran planet yang paling umum ditemukan oleh Kepler tidak ditemukan di tata surya kita, yaitu sebuah dunia dengan kisaran ukurannya antara Bumi dan Neptunus, masih banyak yang harus kita pelajari dari planet yang disebut Bumi-super ini. Kepler juga menemukan sistem planet yang sangat rapat, dalam beberapa kasus ada begitu banyak planet yang mengorbit bintang induk dari jarak sangat dekat, bahkan ada sistem planet lebih rapat daripada luas wilayah terdalam tata surya kita.

“Mundur ke 35 tahun yang lalu, saat itu kita sama sekali tidak mengetahui ada planet di luar tata surya," kenang William Borucki, peneliti utama yang merancang misi Kepler dari Pusat Penelitian Ames NASA di Silicon Valley, California, yang kini telah pensiun. “Sekarang kita mengungkap eksistensi mereka di mana-mana, Kepler telah menempatkan kita ke jalur baru menjanjikan bagi generasi masa depan untuk menjelajahi galaksi kita.”

Diluncurkan pada tanggal 6 Maret 2009, Kepler menggabungkan teknik mutakhir untuk mengukur skala kecerahan bintang dengan kamera digital terbesar untuk observasi dari luar angkasa. Awalnya diposisikan untuk terus menatap 150.000 bintang di rasi Cygnus, Kepler melakukan survei pertama terhadap planet-planet di galaksi kita, sekaligus menjadi misi pertama NASA untuk mendeteksi planet seukuran Bumi yang mengorbit dari zona layak huni bintang induk.

“Misi Kepler didasarkan pada desain yang sangat inovatif, pendekatan cerdas demi misi sains semacam ini,” jelas Leslie Livesay, Direktur Astronomi dan Fisika di Laboratorium Propulsi Jet (JPL) NASA, yang menjabat Manajer Proyek Kepler selama tahap pengembangan. “Tentunya ada banyak tantangan, tapi Kepler diawaki oleh tim ilmuwan dan insinyur berbakat yang mampu mengatasinya.”

Empat tahun durasi misi setelah tujuan utama tercapai, kegagalan mekanis menghentikan observasi Kepler untuk sementara. Tim kemudian merencanakan perbaikan dan mengubah bidang pandang Kepler sekitar tiga bulan sekali, memungkinkan perpanjangan misi K2 yang telah meningkatkan perhitungan survei bintang melampaui angka 500.000.

Observasi Kepler telah mengarahkan para ilmuwan untuk lebih memahami sifat dan perilaku bintang, informasi fundamental untuk mengungkap sistem planet yang mengorbit. Analisis arsip data Kepler juga telah memperluas bidang astronomi lainnya, seperti sejarah galaksi Bima Sakti kita, tahap awal ledakan supernova dan laju ekspansi kosmos. Bahkan arsip data misi K2 juga dapat diakses oleh komunitas ilmuwan dan publik di seluruh dunia, demi mendorong penemuan-penemuan baru dan menetapkan standar tinggi bagi misi lainnya. Para ilmuwan diharapkan menghabiskan satu dekade atau lebih untuk mengungkap penemuan-penemuan baru dari katalog data yang disediakan Kepler.

“Akhir misi tak berarti akhir penemuan Kepler,” pungkas ilmuwan proyek Kepler Jessie Dotson dari Pusat Penelitian Ames NASA. “Saya mengharapkan beragam penemuan baru dari analisis data Kepler, termasuk bagaimana misi masa depan dirancang melalui penemuan yang dihasilkan Kepler.”

Sebelum mengakhiri misi, para ilmuwan telah mendorong Kepler secara maksimal, sehingga Kepler menyelesaikan beberapa ekspedisi observasi dan mengumpulkan serangkaian data sains yang berharga. Data terbaru dari ekspedisi 19 akan melengkapi data yang berasal dari instrumen pemburu planet terbaru NASA, Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS), yang telah diluncurkan pada bulan April tahun 2018. Kepler adalah pondasi TESS, yang mewarisi serangkaian data upaya pencarian planet yang mengorbit sekitar 200.000 bintang paling terang dan paling dekat dari Bumi, dunia-dunia yang suatu hari nanti akan dieksplorasi demi jejak biologis oleh misi masa depan, seperti Teleskop Antariksa James Webb NASA yang akan segera diluncurkan.

Pusat Penelitian Ames NASA di Silicon Valley, California, mengelola misi Kepler dan K2 untuk Direktorat Misi Sains NASA. Laboratorium Propulsi Jet (JPL) NASA di Pasadena, California, mengelola pengembangan misi Kepler. Ball Aerospace & Technologies Corporation di Boulder, Colorado, mengoperasikan sistem penerbangan dengan dukungan dari Laboratorium Fisika Atmosfer dan Antariksa Universitas Colorado, Boulder.


Pelajari lebih lanjut tentang beberapa eksoplanet yang ditemukan oleh Kepler di artikel berikut:







Ditulis oleh: Staf www.nasa.gov, editor: Karen Northon

Sumber: NASA Retires Kepler Space Telescope, Passes Planet-Hunting Torch


#terimakasihgoogle dan #terimakasihnasa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...