Langsung ke konten utama

Galaksi Kedua Tanpa Materi Gelap Ditemukan

Galaksi dan materi gelap selalu bersatu dan tidak terpisahkan, seperti jelly dan selai kacang. Kita biasanya tidak pernah menjumpai pasangan ini terpisah.

Oleh karena itu, para peneliti semakin terkejut setelah menemukan sebuah galaksi tanpa materi gelap untuk kedua kalinya. Substansi materi gelap yang tak kasat mata adalah scaffolding/perancah untuk membentuk galaksi. Materi gelap layaknya lem yang menahan materi normal kasat mata, seperti bintang, planet dan molekul gas, untuk tetap menyatu dan menyusun galaksi.

Satu tahun lalu, tim ilmuwan dari Universitas Yale menerbitkan makalah ilmiah tentang NGC 1052-DF2 (disingkat DF2), galaksi aneh pertama yang ditemukan hanya mengandung sedikit atau tanpa materi gelap sama sekali. Penemuan yang dianggap sangat penting karena menunjukkan bahwa materi gelap tidak selalu dapat diasosiasikan dengan materi normal pada skala galaksi. Selain itu, penemuan juga mengesampingkan beberapa teori yang menyatakan bahwa materi gelap bukanlah suatu substansi, melainkan manifestasi dari hukum gravitasi pada skala kosmik.

Materi gelap yang tak kasat mata biasanya mendominasi komposisi sebuah galaksi. Menemukan sebuah galaksi tanpa materi gelap memicu banyak perdebatan di kalangan para ilmuwan.

komposisi-materi-gelap-di-dalam-galaksi-informasi-astronomi
Komposisi materi gelap di dalam galaksi.
Kredit: NASA

Ultra-Diffuse Galaxy NGC 1052-DF4

Mirip dengan galaksi pertama, galaksi kedua tanpa materi gelap yang disebut NGC 1052-DF4 (disingkat DF4), juga bagian dari kelas galaksi relatif baru ultra-diffuse galaxy (UDG). Ukuran mereka setara dengan galaksi Bima Sakti, namun dengan populasi bintang antara 100-1.000 kali lebih sedikit, membuat mereka sulit ditemukan karena lebih transparan.

Sebuah survei yang mempelajari Gugus Galaksi Coma pada tahun 2015, mengungkap UDG yang relatif banyak di alam semesta. Namun, tak satupun dari mereka yang mengindikasikan kurang dalam hal jumlah materi gelap. Jadi bahkan di antara kelas galaksi yang tidak biasa ini, DF2 dan DF4 sangat aneh.

Dilansir dari situs news.yale.edu, profesor astronomi Pieter van Dokkum dari Universitas Yale yang bertanggung jawab atas penemuan DF-4, mengatakan bahwa penemuan galaksi kedua dengan hanya sedikit atau tanpa materi gelap sama menariknya dengan penemuan DF2, karena memperbesar peluang untuk menemukan lebih banyak galaksi tanpa materi gelap. Ia menambahkan karena belum memahami bagaimana galaksi semacam itu terbentuk, penemuan justru akan mendorong lebih banyak ilmuwan untuk memecahkan misteri.

ngc-1052-df2-galaksi-tanpa-materi-gelap-pertama-informasi-astronomi
NGC 1052-DF2, galaksi tanpa materi gelap pertama.
Kredit: NASA, ESA, dan P. van Dokkum (Universitas Yale)

NGC 1052-DF2, Galaksi Tanpa Materi Gelap Pertama

Sementara itu, mahasiswa pascasarjana Shany Danieli dari Universitas Yale yang menemukan DF2, galaksi tanpa materi gelap pertama, menjelaskan tidak ada yang pernah memprediksi eksistensi galaksi semacam itu. Namun fenomena paling menarik bagi mahasiswa astronom justru terletak pada penemuan benda langit yang tidak pernah diketahui atau dipikirkan orang lain.

Danieli adalah penulis utama makalah ilmiah yang menindaklanjuti observasi awal DF2. Ia melakukan pengukuran akurat menggunakan instrumen Keck Cosmic Web Imager yang terinstal di Observatorium W.M. Keck. Bersama para kolega, Danieli menyimpulkan laju pergerakan bintang di dalam galaksi DF2 konsisten dengan massa materi normal galaksi. Jika ada materi gelap di DF2, bintang seharusnya bergerak lebih cepat.

Danieli lalu didaulat untuk memimpin survei terhadap kosmos menggunakan Dragonfly Telephoto Array, sebuah teleskop yang dirancang oleh van Dokkum, demi mencari lebih banyak sampel secara sistematis yang akan ditindaklanjuti menggunakan Teleskop Keck.

Ia berharap untuk mengetahui apakah ada galaksi-galaksi lain tanpa materi gelap, sekaligus ingin menemukan lebih banyak bukti agar mereka dapat disesuaikan dengan teori yang sudah diyakini saat ini. Danieli ingin membawa komunitas ilmiah selangkah lebih maju untuk memahami salah satu misteri terbesar kosmos, yaitu sifat alami materi gelap.

materi-gelap-informasi-astronomi
Ilustrasi materi gelap.
Kredit: NASA

Apa Itu Materi Gelap?

Mungkin terdengar agak mengejutkan, tapi sebenarnya para ilmuwan tidak terlalu memahami sebagian besar materi yang menyusun alam semesta. Kosmos tak sekadar diisi oleh galaksi, bintang, planet, lubang hitam, komet, asteroid, nebula, gas dan lain-lain. Semua objek yang kasat mata tersebut adalah materi normal yang hanya menyusun 5% komposisi alam semesta.

Komposisi terbesar justru didominasi oleh energi gelap, yang mencapai 68%, sedangkan materi gelap 27%. Belum ada istilah lain untuk menggambarkan mereka. Jadi sampai para ilmuwan mengungkapnya, mungkin istilah itu akan tetap digunakan.

Energi gelap mendorong, sebaliknya materi gelap menarik. Materi gelap adalah kerangka yang menyusun galaksi. Tanpa materi gelap, galaksi akan tercerai-berai.

Ditulis oleh: Jim Shelton, news.yale.edu


Artikel terkait: Materi Gelap Tidak Ditemukan di Sebuah Galaksi Aneh

#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...