Langsung ke konten utama

Konfirmasi GJ 357 b Temuan TESS Justru Ungkap Dua Planet Tambahan

Sebuah planet panas yang ditemukan oleh Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) NASA, telah membuka jalan penemuan planet-planet tambahan yang mengorbit bintang induk GJ 357, bahkan salah satunya terletak di zona layak huni. Jika komposisi utamanya adalah berbatu, planet tersebut mungkin sekitar dua kali ukuran Bumi.

Dunia-dunia baru ini mengorbit GJ 357, sebuah bintang katai merah tipe M yang hanya sekitar 33% massa dan 40% ukuran dan lebih dingin daripada Matahari kita. Sistem GJ 357 terletak 31 tahun cahaya dari Bumi di rasi Hydra. Pada bulan Februari, kamera TESS mendeteksi penurunan skala kecerahan cahaya bintang setiap 3,9 hari yang mengungkap kehadiran sebuah eksoplanet (planet di luar tata surya kita) melalui metode transit.

Jelajahi sistem GJ 357 yang terletak 31 tahun cahaya dari Bumi di rasi Hydra melalui video berikut. Para astronom mengkonfirmasi kandidat sebuah eksoplanet yang diidentifikasi oleh TESS, sekaligus menemukan dua planet tambahan. Planet terluar, GJ 357 d, dianggap sangat menarik oleh para ilmuwan karena menerima energi yang setara dari bintang induk seperti halnya Mars dari Matahari.
Kredit: Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA

“Sistem planet ini bersembunyi dari pengamatan banyak observatorium selama bertahun-tahun,” ungkap penanggung jawab studi Rafael Luque, mahasiswa doktoral dari Institute of Astrophysics of Canary Islands (IAC) di Tenerife. “Dibutuhkan visi tajam TESS untuk mengungkap mereka.”

Planet transit yang diamati TESS adalah GJ 357 b, sebuah planet sekitar 22% lebih besar daripada Bumi yang mengorbit bintang induk 11 kali lebih dekat daripada orbit Merkurius mengitari Matahari. Orbit yang sangat dekat ini memberikan estimasi suhu kesetimbangan (dihitung tanpa efek pemanasan dari lapisan atmosfer, bila ada) sekitar 254 derajat Celsius.

“Kami menggambarkan GJ 357 b sebagai Bumi panas,” tutur Enric Pallé, rekan penulis studi, astrofisikawan di IAC dan supervisor doktoral Rafael Luque. “Meskipun tidak layak huni, GJ 357 b adalah eksoplanet (metode) transit ketiga terdekat yang diketahui saat ini dan salah satu planet berbatu terbaik yang kita miliki bagi studi komposisi atmosfer, bila ada.”

Tetapi sementara para peneliti menganalisis data berbasis darat untuk mengkonfirmasi keberadaan GJ 357 b, mereka justru menemukan dua planet tambahan. Planet terjauh, GJ 357 d, dianggap sangat menarik oleh para ilmuwan.

konfirmasi-gj-357-b-temuan-tess-justru-ungkap-dua-planet-tambahan-informasi-astronomi
Diagram ini menunjukkan tata letak sistem GJ 357. Planet mengorbit di dalam sebuah zona yang disebut sebagai zona layak huni, wilayah orbital ideal yang memungkinkan keberadaan air cair di permukaan planet berbatu. Jika memiliki lapisan atmosfer padat, suhu GJ 357 d bisa cukup hangat untuk menampung air cair.
Kredit: Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA/Chris Smith

“GJ 357 d berada di tepi luar zona layak huni bintang induk, dan menerima energi yang setara dari bintang induk seperti halnya Mars dari Matahari,” kata Diana Kossakowski, rekan penulis studi dari Institut Astronomi Max Planck di Heidelberg, Jerman. “Jika memiliki lapisan atmosfer padat, yang tentunya membutuhkan studi di masa depan untuk menentukannya, planet ini bisa memerangkap cukup panas untuk menghangatkan planet dan menampung air cair di permukaan.”

Tanpa atmosfer, estimasi suhu kesetimbangan GJ 357 d adalah minus 53 derajat Celsius. Suhu ini akan membuatnya menjadi planet beku yang tidak layak huni. Dengan massa setidaknya 6,1 kali massa Bumi dan mengorbit bintang induk setiap 55,7 hari pada kisaran jarak sekitar 20% jarak Bumi-Matahari, ukuran dan komposisi GJ 357 d tidak diketahui, tetapi planet berbatu dengan massa seperti ini ukurannya sekitar satu hingga dua kali ukuran Bumi.

konfirmasi-gj-357-b-temuan-tess-justru-ungkap-dua-planet-tambahan-informasi-astronomi
Ilustrasi tentang GJ 357 d.
Kredit: Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA/Chris Smith

Sedangkan planet tengah, GJ 357 c, memiliki massa setidaknya 3,4 kali Bumi dan mengorbit bintang induk setiap 9,1 hari pada jarak sekitar dua kali lipat GJ 357 b. Dengan suhu kesetimbangan sekitar 127 derajat Celsius, TESS tidak mengamati transit dari planet ini, yang mungkin menunjukkan kemiringan orbit kurang dari 1 derajat relatif terhadap orbit GJ 357 b, sehingga tidak pernah terlihat melintas di depan bintang induk dari sudut pandang kita.

Untuk mengkonfirmasi keberadaan GJ 357 b dan para tetangganya, Luque beserta kolega beralih ke analisis data berbasis darat yang menggunakan metode kecepatan radial, atau kecepatan pergerakan bintang di sepanjang garis pandang kita. Sebuah planet yang mengorbit menghasilkan tarikan gravitasi terhadap bintang induk, sehingga menyebabkan sedikit goyangan pada bintang yang dapat dideteksi oleh para astronom melalui perubahan kecil warna cahaya bintang. Para astronom telah mencari planet di sekitar bintang-bintang terang menggunakan data kecepatan radial selama beberapa dekade, dan mereka sering mempublikasikan pengamatan akurat berdurasi lama untuk digunakan oleh para astronom lainnya.

Tim yang dipimpin Luque menganalisis data berbasis darat yang dikumpulkan sejak tahun 1998 dari Observatorium Las Campanas milik ESO di Chili, Observatorium W.M. Keck di Hawaii, Observatorium Calar Alto di Spanyol, dll.

Sebuah makalah yang menggambarkan hasil studi telah diterbitkan pada hari Rabu, 31 Juli 2019 di jurnal Astronomy & Astrophysics dan tersedia secara online.

Ditulis oleh: Francis Reddy, Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA, Greenbelt, Maryland, www.nasa.gov


#terimakasihgoogle dan #terimakasihnasa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...