![]() |
Lubang hitam supermasif di galaksi NGC 3377, NGC 3379 dan NGC 4486B. Kredit: Karl Gebhardt (Universitas Michigan), Tod Lauer (NOAO), dan NASA |
Seiring pengumuman penemuan tiga lubang hitam di tiga
galaksi normal, satu tim astronom internasional memperkirakan hampir semua
galaksi bisa menampung lubang hitam supermasif yang pernah menjadi sumber
tenaga bagi quasar (objek paling terang di alam semesta), meskipun saat ini
tidak terlalu aktif.
Kesimpulan ini didasarkan pada sensus 27 galaksi
terdekat oleh jajaran teleskop besutan NASA, yaitu Teleskop Antariksa Hubble
dan teleskop berbasis darat di Hawai, yang melakukan survei spektroskopi dan
fotometrik untuk menemukan lubang hitam yang telah mengakresi massa setara
jutaan Matahari.
Publikasi penemuan yang telah dipresentasikan
saat acara Meeting of the American
Astronomical Society ke-189 di Toronto, Kanada, memberikan wawasan tentang
asal usul dan evolusi galaksi, serta memperjelas peran quasar dalam evolusi
galaksi.
Hasil utama studi adalah:
- Lubang hitam supermasif sangat umum, hampir setiap galaksi raksasa memilikinya.
- Massa lubang hitam sebanding dengan massa galaksi induk. Jika sebuah galaksi berukuran dua kali lebih besar daripada galaksi lain, maka lubang hitamnya akan dua kali lebih besar. Penemuan ini menunjukkan pertumbuhan lubang hitam terkait erat dengan pembentukan galaksi induk.
- Jumlah dan massa lubang hitam konsisten dengan apa yang dibutuhkan sebagai sumber daya quasar.
“Kami yakin apa yang teramati adalah “fosil quasar”
dan sebagian besar galaksi pada suatu waktu pernah menjadi induk quasar,” kata penanggung jawab studi Doug Richstone dari Universitas Michigan. Kesimpulan ini
konsisten dengan pengamatan Hubble sebelumnya yang menunjukkan quasar eksis di
berbagai galaksi, mulai dari galaksi tunggal normal hingga sepasang galaksi
yang saling bertabrakan.
Dua dari tiga lubang hitam “berbobot” 50 juta
dan 100 juta massa Matahari bersemayam di inti galaksi NGC 3379 (Messier 105)
dan NGC 3377. Kedua galaksi ini terletak di grup galaksi terdekat Leo Spur pada
jarak 32 miliar tahun cahaya.
Sementara lubang hitam ketiga dengan massa
500 juta kali Matahari, terpisah sejauh 50 juta tahun cahaya di gugus Virgo dan
menginduk galaksi NGC 4486B. Galaksi ini adalah galaksi satelit kecil yang
mengorbit galaksi Messier 87, galaksi sangat terang di gugus Virgo. Messier 87
adalah inti galaksi aktif dan diketahui memiliki lubang hitam supermasif dengan
massa setara 2 miliar Matahari.
Meskipun sebelumnya beberapa tim ilmuwan lain
juga telah menemukan lubang hitam supermasif di galaksi raksasa seukuran Bima
Sakti atau lebih besar, hasil studi terbaru ini mampu menunjukkan galaksi kecil
memiliki lubang hitam dengan massa yang lebih kecil di bawah ambang batas
deteksi Hubble. Survei juga membuktikan massa lubang hitam sebanding dengan
massa galaksi induk. Layaknya ukuran sepatu seseorang, semakin besar galaksi,
maka semakin besar pula lubang hitam.
Masih menjadi teka-teki mengapa lubang hitam
bisa begitu melimpah di alam semesta, atau mengapa proporsi massa lubang hitam
sangat terkait erat dengan massa galaksi induk. Satu gagasan yang diajukan
berdasarkan observasi Hubble sebelumnya, galaksi terbentuk dari banyak gugus
bintang. Dan “benih” lubang hitam supermasif kemungkinan berasal dari gugus bintang
yang menjadi cikal bakal galaksi. Untuk membentuk galaksi terang, semakin
dibutuhkan banyak gugus bintang, yang secara otomatis akan menyediakan banyak
benih lubang hitam untuk bergabung menjadi lubang hitam supermasif tunggal di
inti galaksi.
Model alternatif lainnya memprediksi galaksi
mulai terbentuk di awal sejarah alam semesta hanya dengan lubang hitam
sederhana yang kemudian mengakresi gas dari bintang-bintang di dekatnya
sepanjang sejarah evolusi galaksi. Jika gas yang dikonsumsi sekitar 1% dari jumlah total kandungan gas galaksi, maka lubang hitam dapat dengan mudah
tumbuh menjadi lubang hitam supermasif yang ditemukan saat ini, dan secara
alami akan meningkatkan skala kecerahan galaksi modern.
Kandidat ketiga objek lubang hitam ini
pertama kali diidentifikasi oleh observasi berbasis darat menggunakan Canada-France-Hawaii Telescope (CFHT) di
Mauna Kea, Hawaii. Studi tindak lanjut menggunakan Hubble memungkinkan tim untuk mengintip ke inti galaksi dalam resolusi tajam yang tidak bisa
dilakukan teleskop berbasis darat dan mengukur kecepatan bintang yang mengorbit
lubang hitam. Peningkatan tajam kecepatan mengindikasikan materi yang
terkunci di inti galaksi dan menciptakan medan gravitasi kuat yang mempercepat
pergerakan orbit bintang-bintang di dekat lubang hitam.
Tim meyakini teknik pencarian
statistik yang mereka terapkan bisa mengungkap keberadaan lubang hitam di atas
batas massa tertentu sebagaimana diharapkan. “Namun, hasil studi diperumit oleh
fakta data pengamatan dari galaksi yang kualitas dan jaraknya berbeda,” pungkas Richstone.
Ditulis oleh: Staf hubblesite.org
Komentar
Posting Komentar