![]() |
Kredit: NASA, ESA, J. Clarke (Universitas Boston), dan Z. Levay (STScI) |
Tarian cahaya aurora di planet Saturnus
ternyata cenderung berbeda daripada yang diprediksi oleh para ilmuwan selama 25 tahun
terakhir. Studi terbaru yang digelar oleh satu tim astronom di bawah pimpinan
John Clarke dari Universitas Boston telah mematahkan teori yang menggagas bagaimana seharusnya medan magnet Saturnus berperilaku dan bagaimana cara aurora
terbentuk. Hasil studi telah dipublikasikan di jurnal Nature edisi 17 Februari.
Menggunakan koreografi instrumen yang diinstal di Teleskop Antariksa Hubble dan pesawat antariksa
Cassini saat mengamati kutub selatan Saturnus, tim menemukan keunikan aurora yang berlangsung di Saturnus. Tak seperti anggapan selama
ini, aurora Saturnus yang dianggap sebagai persilangan antara aurora Bumi dan
Jupiter, ternyata sangat berbeda. Cahaya aurora yang berkilau bagaikan batu
permata rubi di Saturnus adalah salah satu fenomena unik di tata surya
kita.
Hubble mengabadikan aurora
Saturnus dalam spektrum cahaya ultraviolet selama beberapa minggu,
sementara Cassini merekam emisi radio
dari wilayah yang sama sembari mengukur angin surya atau aliran partikel
bermuatan yang memicu cahaya aurora. Kombinasi rangkaian pengukuran Hubble dan Cassini menghasilkan analisis aurora Saturnus yang paling akurat.
Observasi juga menunjukkan variasi
karakteristik aurora Saturnus dari hari ke hari, sebagaimana aurora di Bumi
yang seolah memperagakan tarian cahaya langit dan tenang di waktu lain.
Aurora Bumi hanya bertahan sekitar 10 menit, namun aurora Saturnus bisa
berlangsung selama berhari-hari.
Selain itu, observasi juga mengungkap peran
yang jauh lebih besar dari medan magnet Matahari dan angin surya. Ketiga gambar Hubble dikombinasikan dengan hasil
pengukuran angin surya oleh Cassini, angin surya tampak mengendalikan
badai-badai aurora di Saturnus. Berbeda dengan badai aurora Bumi yang
dikendalikan medan magnet Matahari melalui angin surya.
Apabila dilihat dari luar angkasa, aurora
terlihat sebagai cincin cahaya yang mengelilingi wilayah kutub, lokasi
kutub magnet biasanya berada. Tampilan aurora dimulai ketika partikel-partikel
bermuatan menerjang medan magnet planet dan mengalir
ke lapisan teratas atmosfer. Partikel-partikel bermuatan bertabrakan dengan molukel gas di atmosfer untuk menghasilkan energi dalam bentuk cahaya dan gelombang
radio.
Para ilmuwan telah lama meyakini sifat aurora
Saturnus sama dengan aurora di Bumi dan Jupiter. Seperti aurora di
Bumi, aurora Saturnus dianggap dipengaruhi oleh angin surya dan seperti
aurora di Jupiter, aurora Saturnus dianggap dipengaruhi cincin ion dan partikel
bermuatan yang mengelilingi Saturnus. Hasil terbaru juga menunjukkan fitur
aurora di Saturnus yang konsisten dengan aurora di Bumi, yaitu gelombang radio yang
terkait dengan lokasi aurora paling terang. Kesamaan ini menunjukkan proses
fisik yang menghasilkan gelombang radio di Saturnus sama seperti proses yang
terjadi di Bumi.
Tapi, sebagaimana diamati oleh tim, meskipun ada
kemiripan karakteristik antara aurora Saturnus dengan aurora di planet-planet
lain, aurora Saturnus pada dasarnya tidak seperti aurora di Bumi atau
Jupiter. Ketika aurora Saturnus menjadi lebih terang (dan karenanya lebih
kuat), diameter cincin energi yang mengelilingi kutub menyusut. Sebaliknya,
ketika aurora di Bumi menjadi lebih terang, wilayah kutub selama beberapa menit
dipenuhi dengan cahaya. Kemudian cincin cahaya meredup dan mulai mengembang.
Sedangkan aurora Jupiter hanya melemah bila dipengaruhi angin surya dan
menjadi lebih terang paling lama sebulan sekali yang dipengaruhi perubahan
angin surya.
Tampilan aurora Saturnus juga menjadi lebih
terang di wilayah transisi pergantian malam hari ke siang hari seiring peningkatan intensitas badai yang sama sekali tak mirip dengan aurora Bumi dan Jupiter. Pada
waktu-waktu tertentu, cincin aurora Saturnus cenderung berbentuk spiral yang
ujungnya tidak terhubung dengan badai energi di sekeliling kutub.
Cassini yang telah menyelesaikan misi
penelitian di sistem Saturnus, dan telah secara langsung mengamati bagaimana aurora
Saturnus dihasilkan. Menurut Clarke, tim akan terus menganalisis bagaimana
medan magnet surya memicu aurora Saturnus, termasuk peran yang dimainkan
angin surya.
Pelajari lebih lanjut di artikel:
Ditulis oleh: Staf hubblesite.org
Komentar
Posting Komentar