![]() |
Ilustrasi kepulan uap air yang diduga memancar dari permukaan Europa, bulan beku Jupiter. Kredit: NASA/ESA/K. Retherford/SWRI |
Teleskop Antariksa Hubble besutan NASA telah mengamati uap air di atas wilayah kutub
selatan Europa, bulan beku Jupiter, dan memberikan bukti kuat pertama terkait kepulan air yang memancar dari permukaan Europa.
Studi
lain yang juga menemukan kepulan air di Europa menyimpulkan keberadaan lautan
di bawah kerak es Europa. Para peneliti belum sepenuhnya meyakini, tetapi lautan di
bawah permukaan adalah satu-satunya jawaban yang bisa menjelaskan fenomena ini.
Jika
observasi tindak lanjut mengkonfirmasi penemuan, Europa akan menjadi bulan
kedua di tata surya yang diketahui mengepulkan uap air.
Penemuan
telah diterbitkan di Science Express
edisi 12 Desember dan telah dilaporkan saat pertemuan American Geophysical Union di San Francisco.
“Sejauh
ini, penjelasan paling simpel untuk menjelaskan uap air ini adalah dari
kepulan-kepulan di permukaan Europa,” kata penulis utama makalah ilmiah Lorenz Roth dari Southwest Research Institute
di San Antonio. “Jika kepulan terhubung dengan lautan air yang kita
yakini eksis di bawah kerak Europa, berarti penelitian masa depan
dapat langsung menyelidiki susunan kimiawi dari lingkungan Europa yang
berpotensi layak huni tanpa harus menggali lapisan es. Sangat menarik.”
Pada
tahun 2005, pesawat antariksa Cassini NASA juga telah mendeteksi semburan uap
air dan debu yang memancar dari permukaan Enceladus, salah satu bulan Saturnus.
Meskipun partikel es dan debu telah ditemukan di kepulan Enceladus,
hanya gas uap air yang telah diukur di Europa sejauh ini.
Observasi spektroskopi Hubble menyediakan bukti untuk kepulan-kepulan Europa pada bulan Desember
2012. Pengambilan sampel melalui emisi aurora Europa yang diukur dengan
spektograf pencitraan Hubble, memungkinkan para peneliti untuk membedakan
antara fitur-fitur yang diciptakan oleh partikel bermuatan dari gelembung
magnetik Jupiter dengan kepulan-kepulan dari permukaan Europa, termasuk mengesampingkan
penjelasan dampak benturan dengan meteorit.
![]() |
Grafik ini menunjukkan lokasi uap air yang terdeteksi di kutub selatan Europa dalam observasi Hubble pada bulan Desember 2012. Kredit: NASA/ESA/L. Roth/SWRI/Universitas Cologne |
Spektograf
pencitraan mendeteksi cahaya ultraviolet redup dari aurora yang disebabkan medan
magnet kuat Jupiter di dekat kutub selatan Europa. Kilau atom oksigen dan
hidrogen menghasilkan cahaya aurora variabel dan meninggalkan jejak yang
mengindikasikan produk pemecahan molekul air oleh elektron di sepanjang garis medan
magnet.
“Kami
mendorong batas kemampuan Hubble untuk mengamati emisi yang begitu redup. Barangkali adalah kepulan-kepulan palsu, karena renggang dan sulit
diamati dalam cahaya kasat mata,” jelas rekan penulis makalah ilmiah Joachim Saur dari
Universitas Cologne di Jerman.
Roth
menduga retakan panjang di permukaan Europa atau lineae, menyemburkan uap air ke ruang angkasa. Cassini telah melihat celah serupa yang
menjadi lokasi semburan air Enceladus.
Tim
juga menemukan intensitas kepulan Europa, seperti di
Enceladus, bervariasi sesuai posisi orbit Europa. Semburan aktif hanya terlihat
ketika Europa berada pada titik terjauh orbit dari Jupiter. Para peneliti tidak
bisa mendeteksi tanda-tanda ventilasi saat Europa berada lebih dekat dari Jupiter.
Satu
penjelasan untuk menjawab variabilitas adalah lineae mengalami lebih banyak
tekanan ketika gaya pasang surut gravitasi mendorong dan menarik bulan dan
membuka ventilasi pada jarak yang lebih jauh dari Jupiter. Ventilasi menutup
atau menyempit ketika Europa berada pada titik terdekat orbit dari Jupiter.
“Variabilitas
kepulan yang bisa diamati mendukung prediksi kunci tentang fleksibilitas Europa
yang disebabkan oleh lautan bawah tanah,” tambah ilmuwan Kurt Retherford dari Southwest Research Institute.
Uap
air kepulan Eropa dan Enceladus sangat mirip. Namun karena gaya gravitasi Europa
kira-kira 12 kali lebih kuat daripada Enceladus, sebagian besar uap air dengan suhu
minus 40 derajat Celcius tidak lolos ke ruang angkasa sebagaimana di Enceladus,
melainkan jatuh kembali ke permukaan setelah mencapai ketinggian 201 kilometer,
menurut pengukuran Hubble. Proses ini dapat meninggalkan fitur permukaan cerah
di dekat wilayah kutub selatan Europa, para peneliti berhipotesis.
“Jika
akhirnya dikonfirmasi, observasi terbaru ini sekali lagi menunjukkan kapabilitas Teleskop Antariksa Hubble untuk mengeksplorasi dan membuka lembaran baru dalam upaya
pencarian lingkungan yang berpotensi layak huni di tata surya,” pungkas John
Grunsfeld, seorang astronot yang pernah terlibat dalam misi servis Hubble dan
sekarang menjabat sebagai associate
administrator sains NASA di Washington. “Upaya dan risiko yang telah kami
tempuh untuk memutakhirkan dan memperbaiki Hubble, menjadi semakin berharga ketika
Hubble berhasil menghasilkan banyak penemuan menarik seperti halnya di Europa.”
Ditulis
oleh: Staf www.nasa.gov, editor: Tony Greicius
Komentar
Posting Komentar