![]() |
Kredit: NASA, ESA, dan R. Kirshner (Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian dan Yayasan Gordon dan Betty Moore), M. Mutchler dan R. Avila (STScI) |
Tiga
dekade yang lalu, para astronom telah menjadi saksi fenomena kosmik dahsyat
ledakan terang supernova yang terjadi dalam kurun waktu 400 tahun terakhir.
Supernova 1987A (SN 1987A) berkobar dengan kekuatan 100 juta Matahari selama
beberapa bulan setelah ditemukan pada bulan Februari 1987.
Sejak
saat itu, SN 1987A terus memikat hati para astronom dengan pertunjukan cahaya
spektakuler. Terletak di dekat galaksi Awan Magellan Besar, itulah ledakan
supernova terdekat yang pernah diamati oleh para astronom dan dianggap
memberikan peluang terbaik untuk mempelajari fase sebelum, selama, dan setelah
kematian bintang.
Untuk
memperingati ulang tahun penemuan SN 1987A yang ke-30, koleksi gambar supernova dirangkai dalam video time-lapse oleh tim ilmuwan yang dipimpinan astronom Salvatore Orlando
dari INAF-Osservatorio Astronomico di
Palermo, Italia. Orlando menggabungkan arsip data Teleskop Antariksa Hubble,
Observatorium Sinar-X Chandra dan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array
(ALMA), yang kini dapat diakses oleh publik.
Hubble
telah berulang kali mengamati SN 1987A sejak tahun 1990 dan teleh mengumpulkan ratusan gambar, sementara Chandra mulai mengamati SN 1987A tak
lama setelah beroperasi pada tahun 1999. Adapun ALMA, jajaran teleskop powerful yang terdiri dari 66 antena,
juga telah mengumpulkan gambar resolusi tinggi SN 1987A sejak mulai beroperasi
tahun 2012.
“30
tahun upaya observasi SN 1987A sangat berharga, karena memberikan wawasan
tentang tahap terakhir evolusi bintang,” kata Robert Kirshner dari Pusat
Astrofisika Harvard-Smithsonian di Cambridge, Massachusetts dan Yayasan Gordon
dan Betty Moore di Palo Alto, California.
Data
terbaru menunjukkan SN 1987A telah melewati ambang batas paling penting.
Gelombang kejut supernova merambat di luar cincin gas padat yang diproduksi
pada akhir kehidupan bintang prasupernova, saat aliran cepat atau hembusan
angin bintang menerjang angin lambat yang sebelumnya dihembuskan oleh
bintang saat memasuki fase evolusi raksasa merah. Apa pun yang ada di luar
cincin saat ini tidak diketahui dan sangat tergantung pada rincian evolusi
bintang ketika mencapai fase raksasa merah.
“Rincian
transisi ini akan memberikan para astronom pemahaman yang lebih baik tentang
kehidupan dan takdir pamungkas bintang malang,” kata Kari Frank dari
Universitas Penn State University yang bertanggung jawab atas studi SN 1987A
oleh Chandra.
Supernova
seperti SN 1987A mampu menggerakkan gas di sekitarnya, memicu pembentukan
bintang dan planet baru. Kandungan gas di dalam bintang dan planet baru akan
diperkaya dengan unsur-unsur kompenen dasar kehidupan, seperti karbon,
nitrogen, oksigen dan besi. Komponen dasar kehidupan ini ditempa di dalam
bintang pra-supernova dan selama ledakan supernova itu sendiri, untuk
kemudian tersebar ke galaksi induk.
Beberapa
hal yang menjadi sorotan utama studi dari ketiga teleskop kuat (Hubble, Chandra
dan ALMA), termasuk:
Studi
Hubble yang mengungkap struktur cincin gas padat di sekitar supernova bersinar
dalam cahaya optik dan memiliki diameter sekitar satu tahun cahaya. Struktur
cincin telah terbentuk setidaknya 20.000 tahun sebelum bintang meledak. Kilatan
cahaya ultraviolet supernova menyuplai energi kepada gas di struktur cincin dan
membuatnya berkobar selama beberapa dekade.
Struktur
pusat yang terlihat di dalam cincin kini telah mengembang hingga sekitar
setengah tahun cahaya. Fitur paling menonjol adalah dua gumpalan sisa
puing-puing di pusat supernova yang saling berpacu dengan kecepatan sekitar 20
juta mil per jam.
![]() |
Visi sinar-X SN 1987A oleh Chandra. Kredit: NASA, ESA, dan A. Angelich (NRAO/AUI/NSF); gambar Chandra: NASA/CXC/Penn State/K. Frank dkk. |
Dalam
beberapa tahun terakhir, skala kecerahan cincin sinar-X telah menurun, meskipun
jumlah sinar-X energi rendah tetap konstan. Perubahan ini memberikan bukti
bahwa gelombang ledakan telah merambat hingga di luar cincin ke wilayah gas
yang kurang padat. Inilah akhir era kejayaan SN 1987A.
![]() |
Visi SN 1987A oleh ALMA. Kredit: NASA, ESA, dan A. Angelich (NRAO/AUI/NSF); gambar ALMA: ALMA (ESO/NAOJ/NRAO) dan R. Indebetouw (NRAO/AUI/NSF) |
Mulai
tahun 2012, para astronom menggunakan ALMA untuk mengamati sisa-sisa supernova
yang masih bersinar dan mempelajari apakah benar sisa-sisa supernova menempa
debu yang mengandung unsur-unsur baru yang diproduksi bintang sumber supernova.
Sebagian debu tersebut akan tersebar ke ruang antarbintang dan dapat menjadi building block bagi bintang dan planet
generasi baru di sistem lain.
Observasi
ini juga menunjukkan debu di alam semesta awal kemungkinan terbentuk dari
ledakan supernova serupa.
![]() |
SN 1987A dalam multi panjang gelombang. Kredit: NASA, ESA, dan A. Angelich (NRAO/AUI/NSF) |
Para
astronom juga masih mencari bukti keberadaan lubang hitam atau bintang neutron
yang tertinggal akibat ledakan supernova. Secara sekilas, para astronom
mendeteksi neutrino dari bintang tepat ketika meledak. Deteksi neutrino
meyakinkan para astronom bahwa objek super padat (bintang neutron atau lubang
hitam) akan terbentuk seiring keruntuhan inti bintang, meskipun belum ada bukti
untuk itu.
Ditulis
oleh: Staf hubblesite.org
Komentar
Posting Komentar