![]() |
Kredit: NASA, ESA, STScI, J. Hester dan P. Scowen (Universitas Negeri Arizona) |
Gambar
terbaru dari Teleskop Antariksa Hubble NASA secara dramatis mengungkap kelahiran
bintang yang menetas dari “telur kosmik” atau kantung gas antarbintang super
padat yang disebut “evaporating gasesous
globules” (EGGs). Hubble menemukan
EGGs di Nebula Elang (Messier 16), sebuah wilayah pembentuk bintang terdekat
yang terletak 6.500 tahun cahaya di rasi Serpens.
“Sejak dulu para astronom berspekulasi tentang proses yang mengontrol ukuran bintang,
karena bila membahas bintang maka tak pernah lepas dari ukurannya,” kata Jeff
Hester dari Universitas Negeri Arizona. “Dan saat ini, tampaknya kita sedang
menonton setidaknya satu proses semacam itu yang berlangsung di depan mata
kita.”
Gambar
memukau yang ditangkap oleh Hester dan para kolega menggunakan instrumen Wide Field and Planetary Camera 2 (WFPC2)
Hubble, mampu menyelesaikan EGGs di ujung fitur paling menonjol mirip jari dari
kolom gas dan debu dingin di Nebula Elang. Kolom yang juga sering disebut “elephant trunks”, terlihat menonjol dari
dinding awan hidrogen molekuler raksasa, bagaikan stalagmit yang merambat naik
di atas lantai sebuah gua. Di dalam menara gas sepanjang tahunan cahaya, massa
jenis gas antarbintang runtuh karena bobotnya sendiri dan menciptakan
bintang-bintang muda yang terus tumbuh dengan cara mengakumulasi massa dari
lingkungan di sekitar mereka.
Hubble
menyediakan pemandangan mendetail tentang apa yang terjadi ketika semburan
sinar ultraviolet dari bintang-bintang muda nan panas mendidihkan gas di
sepanjang permukaan pilar ke ruang antarbintang, sebuah proses yang disebut “photoevaporation”. Gambar-gambar Hubble
menunjukkan photoevaporation gas
sebagai aliran transparan yang mengalir dari kolom. Tetapi tidak semua gas
mendidih dengan laju yang sama. Hanya EGGs yang mampu bertahan diterpa radiasi
ganas ultraviolet karena lebih padat daripada material di sekitarnya.
“Bagaikan
badai di padang pasir,” tambah Hester. “Ketika angin meniup pasir yang lebih
ringan, maka batu-batu yang lebih berat dan terkubur di bawah pasir terkuak.
Namun, di Messier 16, sinar ultraviolet menyapu gas dan mengungkap struktur gas
padat mirip telur yang mengelilingi bintang-bintang baru di dalam kolom gas
raksasa.”
Beberapa
EGGs terlihat sebagai gundukan kecil di permukaan kolom, sementara yang lain
lebih kompleks dan menyerupai “jari” gas yang menonjol dari awan yang lebih
besar. (Jari adalah gas yang tak mengalami photoevaporation
sebab dilindungi bayang-bayang EGGs). Sedangkan sisanya telah sepenuhnya
terjepit dari kolom yang lebih besar tempat mereka muncul, dan kini terlihat
seperti tetesan air mata di ruang angkasa.
![]() |
Kredit: NASA, ESA, STScI, J. Hester dan P. Scowen (Universitas Negeri Arizona) |
Dengan
merangkai foto-foto EGGs, tim memperoleh pemandangan
tentang rupa bakal bintang dan lingkungan kosmik di sekitarnya sebelum
bertansformasi menjadi bintang sejati.
“Inilah
pertama kalinya kami melihat proses pembentukan bintang yang terkuak oleh photoevaporation,” Hester menjelaskan.
“Dalam beberapa hal, studi kami cenderung seperti arkeologi daripada astronomi.
Cahaya ultraviolet dari bintang-bintang terdekat melakukan penggalian untuk
kita dan kita mempelajari apa yang telah mereka gali.”
“Dalam
beberapa kasus, kita bisa mengamati bintang di EGGs secara langsung pada gambar
WFPC2,” kata Hester. “Segera setelah bintang dalam EGG terkuak, EGG layaknya cone es krim, dengan bintang yang baru
ditemukan adalah buah ceri di atasnya.”
Pada
akhirnya, photoevaporation akan menghambat
pertumbuhan embrio bintang sebab menyebarkan awan gas yang menjadi sumber
pertumbuhan bintang. “Kami yakin bintang-bintang di Messer 16 terus tumbuh
seiring akumulasi pertambahan gas, hingga proses photoevaporation memutus suplai materi gas di sekitar bintang,”
kata Hester.
Proses
ini sangat berbeda dari proses yang bertanggung jawab atas ukuran bintang yang
terbentuk secara terpisah. Beberapa astronom meyakini, bila dibiarkan seorang
diri, sebuah bintang akan terus tumbuh hingga mendekati titik ketika fusi
nuklir di interior mulai bereaksi. Ketika reaksi fusi nuklir dimulai, bintang
akan menghembuskan “angin” kuat yang akan membersihkan sisa-sisa material.
Hubble telah mencitrakan proses ini secara rinci dalam objek yang disebut
“Herbig-Haro”.
Hester
juga memprediksi, “photoevaporation
sebenarnya turut menghambat pembentukan planet di sekitar bintang semacam itu.
Belum diperoleh data tentang bintang-bintang di Messier 16 yang telah mencapai
tahap cakram protoplanet yang selanjutnya menjadi tata surya,” kata Hester,
“dan jika cakram belum terbentuk, maka planet tidak akan pernah bisa
terbentuk.”
Hester
berencana menggunakan resolusi tajam Hubble untuk menyelidiki wilayah pabrik
bintang terdekat lainnya untuk mencari struktur serupa. “Penemuan sifat EGGs
Messier 16 kemungkinan membuat para astronom memikirkan kembali beberapa
gagasan tentang lingkungan bintang yang terbentuk di kawasan lain, seperti
Nebula Orion misalnya,” Hester memprediksi.
Tambahan Informasi
![]() |
Kredit: NASA, ESA, STScI, J. Hester dan P. Scowen (Universitas Negeri Arizona) |
Bintang
dilahirkan dari gas ruang antarbintang. Ketika kehabisan bahan bakar dan mati,
bintang meninggalkan warisan kepada medium antarbintang tempat ia dilahirkan.
Siklus kelahiran, kematian dan pembaharuan terus-menerus seperti ini bisa
dengan mudah diamati di galaksi spiral Bima Sakti kita. Membentang di galaksi
kita, para pengamat bisa mengamati lengan sprial menakjubkan yang dihiasi
bintang-bintang muda terang dan awan-awan gas bercahaya yang menerangi mereka.
Pada
malam hari gelap gulita saat musim panas, para pengamat di Bumi bisa melihat
awan gas bercahaya yang disebut nebula, tersebar di sepanjang lengan Bima
Sakti. Banyak nebula yang bisa ditemukan bila seorang pengamat mengarahkan
pandangan ke rasi Sagitarius.
Salah
satu wilayah pabrik bintang paling unik adalah Nebula Elang (Messier 16), yang
bisa diamati menggunakan teropong di dekat perbatasan antara rasi Sagitarius dan Serpens. Nebula Elang adalah gelembung
berbentuk mangkuk di sisi awan tebal gas antarbintang yang dingin.
Sebagian
besar awan ini sangat dingin dan padat sehingga atom-atom hidrogennya terikat
menjadi molekul hidrogen, bahan baku pembentuk bintang. Komposisi awan terdiri
dari partikel debu mikroskopis dari karbon (dalam bentuk grafit), silikat dan
senyawa lain yang serupa dengan batuan bulan dan planet terestrial. Meskipun
hanya menyumbang sebagian kecil massa nebula, debu mikroskopis mampu
menyerap cahaya kasat mata dan menutupi proses kelahiran bintang.
Sekitar
100 bintang baru yang mengelompok, berkilau di dalam “mangkuk” terbuka nebula. Beberapa dari kelompok bintang ini
jauh lebih masif, lebih panas dan lebih terang daripada Matahari kita. Bintang paling
terang kemungkinan 100.000 kali lebih terang daripada Matahari dengan suhu
hampir 90.000 derajat Fahrenheit (50.000 derajat Kelvin).
Bintang-bintang
yang baru dilahirkan ini memancarkan radiasi ultraviolet intens sangat energik yang
memanaskan gas di sekitarnya, hingga bersinar layaknya gas di dalam bola lampu
neon. Ketika mengenai permukaan awan molekul berbentuk mangkuk, sinar
ultraviolet mendidihkan gas, menyebabkan gas “menguap” dan mengalir menjauhi
permukaan. Jika saja seseorang bisa menyaksikan proses yang berlangsung selama
lebih dari satu juta tahun, ia akan melihat mangkuk semakin membesar saat
radiasi bintang menembus lebih dalam ke awan molekul.
Tak
seperti benda langit nebula lainnya yang orientasi sudut pandangnya face-on (misalnya Nebula Orion), Nebula
Elang menghadirkan pemandangan sisi unik dari struktur wilayah tipikal
kelahiran bintang bagi para astronom, yaitu sekelompok bintang muda nan panas
di pusat celah, penguapan permukaan awan, dan massa dingin awan itu sendiri.
Nama
yang disematkan kepada Nebula Elang berasal dari penampilannya yang simetris
mirip seekor burung pemangsa dengan cakar dan sayap yang terentang. “Cakar”
elang sebenarnya adalah serangkaian kolom gas padat yang menjorok ke bagian
dalam nebula. Kolom ini terbentuk sebagai hasil dari proses serupa yang
menyebabkan pertumbuhan kolom. Karena lebih padat daripada lingkungan di
sekelilingnya, kolom tidak mengalami penguapan secepat gas dan mampu bertahan
diterpa radiasi ganas ultraviolet. Proses ini mirip dengan pembentukan bukit
dan puncak runcing yang menjulang tinggi di gurun Amerika Barat Daya.
Karakteristik geologis seperti ini terbentuk oleh erosi angin dan hujan yang
mengikis tanah lunak, tetapi batu yang lebih keras mampu menahan erosi.
Di
dalam kolom antarbintang ini, massa jenis gas bisa menjadi sangat tinggi
sehingga gaya gravitasinya sendiri menyebabkan gas runtuh menjadi gumpalan yang
berukuran lebih kecil. Semakin banyak gas yang terakumulasi, gumpalan semakin
dikompres oleh bobotnya sendiri, hingga akhirnya memicu reaksi fusi nuklir di
bagian inti dan “menyala” sebagai bintang.
Namun,
di Nebula Elang, proses pembentukan bintang seperti ini kemungkinan tak pernah
terjadi hingga tahap akhir. Jika bintang yang terbentuk beserta awan gas yang
mengelilinginya “terekspos” oleh photoevaporation
sebelum bintang menyelesaikan masa pertumbuhan, maka massa bintang muda itu
akan membeku. Pertumbuhan bintang terhenti karena suplai material yang
dibutuhkan menghilang.
Resolusi
tajam Teleskop Antariksa Hubble NASA telah menangkap sekitar 50 bintang dalam dalam
situasi ini, yang disebut EGGs (Evaporating
Gaseous Globules). Akronim ini sangat sesuai, karena dalam bahasa Inggris
EGGs adalah telur, yang menjadi tempat kemunculan dan kelahiran bintang.
Nebula
Elang terus memproduksi bintang hingga hari ini, namun dalam waktu jutaan tahun
ke depan akan kehabisan bahan baku, dan bintang-bintang masif yang menerangi
Nebula Elang hanya akan menjalani kehidupan singkat dan mati dalam ledakan
supernova spektakuler. Meskipun nebula “awan kelahiran” lenyap, sebagian besar
bintang yang dilahirkan di sana akan tetap eksis. Keturunan elang akan
mengepakkan sayap di antara ratusan miliar bintang penghuni galaksi Bima Sakti
kita.
Ditulis oleh: Staf hubblesite.org
Komentar
Posting Komentar