Langsung ke konten utama

Kawah Raksasa Dampak Benturan di Asteroid Vesta

kawah-raksasa-dampak-benturan-di-asteroid-vesta-informasi-astronomi
Kredit: Ben Zellner (Universitas Southern Georgia), Peter Thomas (Universitas Cornell) dan NASA

Kawah raksasa dampak benturan di asteroid Vesta telah ditemukan oleh para astronom yang memanfaatkan keampuhan visi tajam Teleskop Antariksa Hubble NASA. Kawah tersebut adalah mata rantai dari serangkaian fenomena yang dianggap berperan membentuk kelas tersendiri asteroid kecil dan beberapa meteorit yang telah jatuh ke Bumi.

Membentang hingga 285 mil, ukuran kawah dampak nyaris sama dengan diameter 330 mil Vesta. Jika saja Bumi memiliki ukuran kawah dampak dengan proporsi yang setara, maka cekungan kawah akan seluas Samudra Pasifik. Para astronom sebenarnya telah memprediksi eksistensi satu atau lebih kawah dampak yang ukurannya lebih besar, mengingat Vesta adalah objek induk dari fragmen beberapa asteroid kecil, maka bekas dampak benturan seharusnya lebih dahyat karena mampu melepaskan bongkahan besar.

Hasil observasi telah dipublikasikan di Science Magazine edisi 5 September.

“Berdasarkan prediksi, kami berharap dapat menemukan kawah raksasa di Vesta,” kata Peter Thomas dari Universitas Cornell di Ithaca, New York. “Tapi, temuan kami cukup mengejukan.” Termasuk ukuran kawah yang relatif hampir sebanding dengan ukuran Vesta adalah penyebab kerusakan utama pada asteroid yang juga dianggap planet katai tak resmi ini.

“Inilah kesempatan langka untuk mempelajari efek dampak masif pada benda langit berukuran kecil,” tambah astronom Michael Gaffey dari Rensselaer Polytechnic Institute di Troy, New York. “Temuan ini mengindikasikan ada lebih banyak lagi asteroid di awal sejarah tata surya yang masih utuh.”

Tabrakan mencungkil satu persen volume asteroid, meledakkan lebih dari setengah juta mil kubik material ke ruang angkasa dan meninggalkan lubang sedalam delapan mil yang mungkin hampir menembus kerak serta mengekspos mantel asteroid Vesta.

Gravitasi lemah Vesta karena hanya berukuran kecil menyebabkan fitur khas puncak kawah yang mirip kawah di Bulan. Menjulang setinggi delapan mil, puncak kerucut terbentuk saat lelehan batu kembali ke pusat fitur “mata banteng” setelah benturan.

Analisis data Hubble pada tahun 1994 memberikan satu petunjuk tentang satu sisi fitur lonjong mirip bola American football yang tampak rata. “Saat itu kami menduga ada yang tak biasa pada Vesta,” kata Thomas.

Para astronom harus menanti observasi tajam Hubble pada bulan Mei 1996 saat Vesta berada pada jarak terdekat dengan Bumi tiap satu dekade, yakni 110 juta mil. Sebanyak 78 gambar diambil menggunakan instrumen Wide Field Planetary Camera 2. Tim astronom kemudian menciptakan model topografi permukaan Vesta yang tak rata hingga batas terminator (batas siang/malam).

Kawah raksasa terletak di dekat kutub selatan asteroid tak sekadar kebetulan, kata para peneliti. Terangkatnya sebegitu banyak material dari satu sisi asteroid akan menggeser poros rotasi pada kawah di dekat salah satu kutub.

kawah-raksasa-dampak-benturan-di-asteroid-vesta-informasi-astronomi
Simulasi pemodelan komputer Vesta.
Kredit: Ben Zellner (Georgia Southern University), Peter Thomas (Universitas Cornell) dan NASA

Berbeda dari permukaan beberapa asteroid berukuran besar lainnya yang campur aduk karena pecah dan membentuk komposisi baru, sebagian besar permukaan Vesta masih utuh, meskipun juga mengalami dampak benturan masif. Kesimpulan yang didasarkan pada pengukuran sebelumnya yang menunjukkan komposisi permukaan batuan basaltik (lava beku) di Vesta, yang mengalir keluar dari interior panas tak lama setelah terbentuk 4,5 miliar tahun lalu, dan sebagian besar tetap utuh sejak saat itu.

Sekitar 6% meteorit yang jatuh ke Bumi mengindikasikan kemiripan dengan mineralogi Vesta sebagaimana ditunjukkan oleh karakteristik spektralnya. Berarti spektrum Vesta lebih unik di antara semua asteroid yang lebih besar dan kawah dampak mungkin menjadi sumber utama dari banyak meteorit ini.

Sebagian besar meteorit diyakini berasal dari asteroid lain, tetapi objek induk secara spesifik tidak bisa ditentukan dalam kebanyakan kasus. Dengan demikian, susunan khas mineralogi meteorit menunjukkan Vesta adalah satu-satunya dunia selain Bumi, Bulan dan Mars yang sampel induknya diketahui dan dimiliki oleh para ilmuwan.

kawah-raksasa-dampak-benturan-di-asteroid-vesta-informasi-astronomi
Peta topografi permukaan Vesta.
Kredit: Ben Zellner (Georgia Southern University), Peter Thomas (Universitas Cornell) dan NASA

Masih menjadi tanda tanya, karena meteorit tidak bisa begitu saja terlepas dari Vesta mengingat lokasi Vesta terletak di Sabuk Asteroid (di antara Mars dan Jupiter), sehingga tidak ada gaya gravitasi yang memengaruhi dan menyebabkan kepingan Vesta memotong orbit planet-planet terdalam layaknya apel yang diguncang dari pohon. Akan tetapi, karakteristik warna asteroid kepingan Vesta yang mirip objek induk (Vesta), memang terletak di dekat “zona kacau” sabuk asteroid yang diganggu gaya gravitasi Jupiter, sehingga berpotensi memotong orbit Bumi.

Penentuan akurat bentuk Vesta sangat diperlukan untuk interprestasi tindak lanjut melalui analisis gambar multi-color yang dikumpulkan Hubble untuk mempelajari mineralogi permukaan, termasuk di wilayah kawah raksasa. Satu tim astronom yang dipimpin oleh Don McCarthy dari Universitas Arizona juga berencana untuk memperoleh tambahan gambar Vesta pada berbagai panjang gelombang menggunakan instrumen sains Near Infrared and Multi-Object Spectrometer (NICMOS) Hubble.

Ditulis oleh: Staf hubblesite.org


#terimakasihgoogle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inti Galaksi Aktif

Ilustrasi wilayah pusat galaksi aktif. (Kredit: NASA/Pusat Penerbangan Antariksa Goddard) Galaksi aktif memiliki sebuah inti emisi berukuran kecil yang tertanam di pusat galaksi. Inti galaksi semacam ini biasanya lebih terang daripada kecerahan galaksi. Untuk galaksi normal, seperti galaksi Bima Sakti, kita menganggap total energi yang mereka pancarkan sebagai jumlah emisi dari setiap bintang yang ada di dalamnya, tetapi tidak dengan galaksi aktif. Galaksi aktif menghasilkan lebih banyak emisi energi daripada yang seharusnya. Emisi galaksi aktif dideteksi dalam spektrum inframerah, radio, ultraviolet, dan sinar-X. Emisi energi yang dipancarkan oleh inti galaksi aktif atau active galaxy nuclei (AGN) sama sekali tidak normal. Lantas bagaimana AGN menghasilkan output yang sangat energik? Sebagian besar galaksi normal memiliki sebuah lubang hitam supermasif di wilayah pusat. Lubang hitam di pusat galaksi aktif cenderung mengakresi material dari wilayah pusat galaksi yang b...

Apa Itu Kosmologi? Definisi dan Sejarah

Potret dari sebuah simulasi komputer tentang pembentukan struktur berskala masif di alam semesta, memperlihatkan wilayah seluas 100 juta tahun cahaya beserta gerakan koheren yang dihasilkan dari galaksi yang mengarah ke konsentrasi massa tertinggi di bagian pusat. Kredit: ESO Kosmologi adalah salah satu cabang astronomi yang mempelajari asal mula dan evolusi alam semesta, dari sejak Big Bang hingga saat ini dan masa depan. Menurut NASA, definisi kosmologi adalah “studi ilmiah tentang sifat alam semesta secara keseluruhan dalam skala besar.” Para kosmolog menyatukan konsep-konsep eksotis seperti teori string, materi gelap, energi gelap dan apakah alam semesta itu tunggal ( universe ) atau multisemesta ( multiverse ). Sementara aspek astronomi lainnya berurusan secara individu dengan objek dan fenomena kosmik, kosmologi menjangkau seluruh alam semesta dari lahir sampai mati, dengan banyak misteri di setiap tahapannya. Sejarah Kosmologi dan Astronomi Pemahaman manusia ...

Messier 78, Nebula Refleksi yang Mengelabui Para Pemburu Komet

Kredit: NASA, ESA, J. Muzerolle (Space Telescope Science Institute) dan S. Megeath (Universitas Toledo) Gambar penuh warna ini menampilkan sebagian kecil dari struktur objek Messier 78, sebuah nebula refleksi yang terletak di rasi Orion. Nebula refleksi diciptakan oleh awan debu kosmik yang menghamburkan atau memantulkan cahaya bintang yang berada di dekatnya. Messier 78 terletak sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi dengan magnitudo semu 8. Ditemukan pada tahun 1780 oleh Pierre Méchain, salah satu kolega Charles Messier, Messier 78 dan paling ideal diamati pada bulan Januari menggunakan teropong dan teleskop kecil. Dibutuhkan setidaknya teleskop berdiameter 8 inci untuk mengungkap nebula refleksi secara mendetail. Messier 78 memiliki fitur khas mirip komet, yaitu salah satu sisi nebula yang memanjang layaknya ekor komet. Fitur ini telah mengelabui banyak pemburu komet saat itu, yang mendorong mereka untuk meyakini telah membuat penemuan baru. Observasi dalam spektrum inf...