Pada saat Hubble pertama kali diluncurkan ke
luar angkasa pada tahun 1990, para astronom belum menemukan satupun eksoplanet
atau planet di luar tata surya kita. Kini, para ilmuwan telah mengkonfirmasi
eksistensi lebih dari 4.000 eksoplanet yang sebagian besar ditemukan oleh Teleskop Antariksa Kepler NASA dan jajaran teleskop berbasis darat.
Bagaimanapun juga, Teleskop Antariksa Hubble
turut memberikan beberapa kontribusi unik bagi perburuan dunia-dunia asing.
Para astronom yang memanfaatkan ketajaman
visi Hubble telah melakukan pengukuran pertama terhadap komposisi atmosfer sebuah
eksoplanet. Observasi Hubble berhasil mengidentifikasi komposisi atmosfer yang
mengandung natrium, oksigen, karbon, hidrogen, karbon dioksida, metana dan uap
air. Sebagian besar planet yang pernah diteliti hingga saat ini terlalu panas bagi
kehidupan seperti yang kita kenal.
Tetapi observasi Hubble menunjukkan bahwa
komponen organik dasar untuk kehidupan dapat dideteksi dan diukur di planet
yang mengorbit bintang lain. Dalam satu kasus, para astronom memiliki cukup data
untuk membuat peta global terperinci dari sebuah eksoplanet terkait suhu di berbagai
lapisan atmosfer, termasuk jumlah dan distribusi uap airnya.
Keampuhan Hubble untuk melakukan deteksi pada spektrum cahaya ultraviolet digunakan untuk mengungkap awan hidrogen raksasa
“berdarah” yang menyelimuti sebuah planet. Unsur hidrogen menguap dari planet hangat
seukuran Neptunus karena radiasi ekstrem dari bintang induk yang diorbitnya.
Planet ini bisa menjelaskan eksistensi tipe planet “Bumi super panas” yang kemungkinan
juga telah mengalami proses serupa, yakni pelucutan lapisan atmosfer oleh
radiasi bintang induk yang mengekspos inti berbatu mereka.
Dengan menggunakan teknik yang disebut pelensaan
mikro gravitasi, para astronom juga telah memanfaatkan Hubble untuk
mengkonfirmasi keberadaan planet bermassa Saturnus yang mengorbit dua bintang redup
berukuran kecil sekaligus dalam lintasan orbit sangat rapat.
Pelensaan mikro terjadi ketika gaya gravitasi
dari bintang di latar depan menekuk dan memperkuat cahaya yang bersumber dari
bintang latar belakang secara sesaat ketika keduanya sejajar di sepanjang garis
pandang kita. Teknik ini bisa memberikan petunjuk tentang sifat bintang latar
depan termasuk semua planet yang mengorbitnya.
![]() |
Pergerakan planet Fomalhaut dari waktu ke waktu. Kredit: NASA, ESA, P. Kalas (Universitas California) dan G. Bacon (STScI) |
Hubble juga telah mencitrakan eksoplanet
pertama dalam panjang gelombang cahaya kasat mata (optik). Diberi nama Fomalhaut
b, planet yang dicitrakan mengorbit bintang induk Fomalhaut, terletak 25
tahun cahaya dari Bumi. Fomalhaut b mengorbit dari jarak yang sangat jauh,
tepatnya di dekat tepi cakram menyerupai cincin terdalam, atau sekitar
10 kali lebih jauh dari bintang induk daripada jarak Saturnus-Matahari.
Pelajari lebih lanjut di artikel:
- GJ 436b, Planet dengan Awan Hidrogen Behemoth Mirip Komet
- Hubble Temukan Planet yang Mengorbit Dua Bintang Sekaligus
- Hubble Temukan Sinyal Air di Lima Eksoplanet Jupiter Panas Berkabut
- Fomalhaut b, Gambar Cahaya Kasat Mata Pertama Eksoplanet
Ditulis oleh: Staf www.nasa.gov, editor: Rob
Garner
Komentar
Posting Komentar